Wednesday, November 27, 2013

Dari Terobosan Kecil


Kepemimpinan dan mahasiswa adalah dua kekuatan dasyat di muka bumi ini. Bersama-sama, keduanya telah menggerakkan jalannya sejarah. Sejarah nasional telah mencatat peranan kaum mahasiswa dalam tumbuh kembangnya bangsa Indonesia. Misalnya, tahun 1998 mahasiswa secara kolektif berhasil menumbangkan rezim Orde Baru dan menancapkan tonggak pemerintahan yang lebih demokratis. Luar biasa, bukan?


Melihat potensi besar ini, mahasiswa sebagai bibit kepemimpinan masa depan harus menempa dirinya menjadi seorang pemimpin handal sejak dini. Senat kampus merupakan sarana yang paling baik untuk belajar menumbuhkembangkan jiwa kepemimpinan. Terobosan kecil seperti komitment tepat waktu dalam rapat senat adalah langkah awal menjadi pemimpin tegas dan antikorupsi. Menjunjung tinggi komitment dan tanggung jawab untuk tepat waktu berarti kita membunuh cikal-bakal budaya korup, terutama terkait waktu. Selain itu, dalam ranah personal, sebagai mahasiswa harus dengan tegas mengatakan tidak pada plagiarisme. Mahasiswa harus mampu berpikir kritis, jujur dan jernih dalam melaksanakan tugas kuliahnya.


Akhirnya, para pecundang akan menghabiskan waktunya dengan bermimpi bahwa hari terobosan besar akan tiba, sambil berharap gaungnya akan mempengaruhi dunia. Mereka terlelap dalam mimpi tanpa aksi sedikitpun. Sedangkan para pemenang tidak menghabiskan waktu dengan bermimpi saja. Satu terobosan kecil tiap hari melatih dirinya menjadi pemimpin berintegritas, tegas dan berbudi luhur. Oleh karena itu, marilah para mahasiswa, agent of change, lakukan terobosan kecil tiap hari niscaya negeri ini tidak akan pernah absen pemimpin yang mampu membuat perubahan positif.

Sunday, November 17, 2013

Mari Membaca



Bisa dikatakan hampir setiap hari saya menghabiskan waktu di perpusatakaan. Entah itu kewajiban ataupun sekadar mampir begitu saja, dimana setiap mahasiswa harus berada di dalam perpustakaan setiap pukul 19.15 hingga pukul 21.15. Satu hal yang tidak pernah menghindar dari dalam diri saya hingga saat ini, sebuah perasaan. Ya, perasaan kecil dan miskin. Jika menengok tiap sisi perpustakaan, ada ribuan bahkan puluhan ribu buku tersusun rapi di sana. Di tengah-tengah ribuan buku itulah saya menyadari betapa banyak hal yang belum saya ketahui. Betapa minimnya pengetahuan yang saya miliki saat ini. Betapa kecilnya saya. Karena itu, rasanya tidak berlebihan ungkapan Henry Ward Beecher, “Where is human nature so weak as in the bookstore?” Di manakah manusia begitu nampak lemah sebagaimana ketika ia berada di toko buku? Ya, di sanalah saya nampak begitu bodoh.

Sejatinya perpustakaan adalah sabahat dikala suntuk dan bukan sahabat yang mempersuntuk. Sahabat dikala bersuka. Tapi dasar si pemalas ulung, perpustakaan bak kamar dengan kasur empuk yang siap membuat badan layu seketika. Ya, rasanya bukan antusias malah mengantuk tak ketulungan. Lagi pula, perpustakaan yang sejatinya tempat berdiam diri, menimba ilmu adakalanya beralih fungsi. Ya, inilah salah satu persoalan yang butuh jawaban hingga saat di mana saya menuliskan uneg-uneg saya ini. 

Dalam diri seharusnya menanamkan prinsip: saya harus membaca setiap hari. Saya bersyukur, belakangan ini saya sedang bergairahnya melahap lembar demi lembar buku. Bahkan tak tanggung dalam sehari bisa menghabiskan 2-3 jam untuk membaca. Saya terus memompa diri untuk tidak berhenti membaca.
   
Yah, semestinya tidak ada alasan untuk tidak membaca. Sesungguhnya waktu begitu bersahabat dengan kita, bahkan adakalanya ia memanggil kita untuk menikmati sajian penulis mancanegara yang tersusun rapi di rak buku. Rasanya saya sangat menyesal dengan membuang banyak waktu tanpa menabung banyak ide dari mereka. Seharusnya saya makin hari makin akrab dengan buku-buku itu. Bukankah ada pernyataan begini, “pintar tidaknya seseorang sebenarnya sangat ditentukan seberapa intens ia melakukan aktivitas baca.” Semakin banyak membaca dapat dijamin ia akan semakin cerdas. Sebaliknya dapat ditebak.

Mari menilik masyarakat di negara-negara maju. Aktivitas membaca adalah bagian kebudayaan yang terus diperlihatkan dalam hidup sehari-hari. Lihat saja Jepang, membaca merupakan pekerjaan wajib dilakukan terus menerus tanpa henti. Alhasil, negara ini maju di segala bidang. Kita tidak perlu berkecil hati, meski animo membaca di negeri kita masih kurang, tetapi setidaknya dari dalam diri kita membuat sebuah terobosan: menjadikan membaca sebagai aktivitas wajib. Bukan sebaliknya menjadikan kegiatan ini menjadi pengatar tidur.

Dengan membaca kita bisa mengenal aspek kehidupan dan menyingkap misteri-misteri yang ada di alam semesta ini. Membaca bisa mengantar kita ke dunia jauh, menerawang menembus batas. Ketika kita menjadikan aktivitas membaca sebagai kegemaran kita maka saat kita tidak bersua dengan buku, rasanya ada sesuatu yang hilang.

Di sinilah refleksi ini berujung: betapa pentingnya peran buku dalam hidup dan peradaban manusia. Tidak ada cara lain untuk membuka jendela dunia selain membaca. Jadi, membacalah baik atau tidak baik keadaanmu, niscaya kita akan menggenggam dunia.

Monday, November 4, 2013

How to Read a Book: Cara Jitu Mencapai Puncak Tujuan Membaca



"Some books are to be tasted, others to be swallowed, and some few to be chewed and digested." [Francis Bacon]


Saya terkesan akhirnya bisa mencicipi sebuah buku monumental karya penulis ternama mancanegara. Buku berjudul How To Read a Book bagi saya merupakan buku terbaik yang membahas ihwal teknik membaca.

Edisi terjemahan bahasa Indonesia berjudul How to Read a Book: Cara Jitu Mencapai Puncak Tujuan Membaca merujuk pada edisi revisi tahun 1972. Pada edisi revisi ini telah terjadi banyak perubahan dalam masyarakat, termasuk mengenai subjek membaca itu sendiri sehingga perlu penyesuaian.

Adler membagi buku ini ke dalam empat bagian utama, yaitu dimensi membaca, level ketiga: membaca analitis, pendekatan dalam membaca berbagai literatur, dan puncak tujuan membaca. Masing-masing bagian tersebut dirinci ke dalam beberapa subbagian.

Bagian pertama tentang Dimensi Membaca berisi hal-hal yang berkaitan dengan aktivitas membaca secara umum serta level dasar dalam kegiatan membaca. Pada bagian ini pembaca diajak untuk merefleksikan tahapan membaca yang pernah dilalui dimana Adler mengungkapkan hasil riset mengenai belajar membaca. Belajar membaca dari masa kanak-kanak hingga kemampuan membaca dewasa dibagi menjadi empat tahapan, yaitu kesiapan membaca yang dimulai sejak lahir hingga usia enam atau tujuh tahun, anak belajar membaca materi yang sangat sederhana dengan keberhasilan umum menguasai beberapa ratus kata pada tahun pertama, bertambahnya kosakata secara cepat dan meningkatnya keterampilan “menyingkap” arti kata-kata yang kurang familiar dengan dengan bantuan konteks, dan peningkatan berbagai keterampilan yang telah diperoleh. Inilah yang disebut dengan membaca dasar.

Bagian kedua mengulas level ketiga dalam membaca, yaitu membaca Analitis. "Membaca buku analitis adalah mengunyah dan mencernanya."(hal.19). Berbeda dengan dua level sebelumnya, konteks level membaca analitis adalah bagaimana pembaca mampu membaca keseluruhan isi buku. Adler menawarkan kiat yang dibagi menjadi tiga tahap. Pada tahap pertama, pembaca perlu mengklasifikasikan buku dengan memahami judul buku dan membedakan mana buku teoritis maupun praktis; menembus pandang buku dengan memahami alur dan struktur penulisan buku serta yang tidak kalah pentingnya menemukan tujuan penulis dalam hal ini adalah mengungkap adanya masalah yang sedang dipecahkan penulis.

Bagian tiga memberitahu kita bagaimana membaca berbagai literatur termasuk buku praktis, literatur imajinatif, cerita, drama, puisi, sejarah, filsafat, ilmu pengetahuan, matematika dan ilmu sosial. Tiap jenis tulisan memiliki kosakata sendiri, proposisi, argumen, dan pertanyaan yang harus ditanyakan. Bagian ini sangat bermanfaat dalam menerapkan aturan dasar membaca dengan jenis sastra yang harus dibaca.

Bagian akhir dari buku ini didedikasikan untuk tujuan akhir dari membaca.
Idenya adalah untuk membaca sejumlah buku tentang topik yang diberikan, seobjektif mungkin, dan menahan penghakiman dan kritik dari semua buku sampai kita memahami perspektif yang berbeda.
Selain memaparkan konsep dan teknik membaca, buku ini juga disertai lampiran yang berisi buku anjuran, latihan dan tes untuk empat level membaca yang dilengkapi kunci jawaban. Dengan lampiran ini pembaca diharapkan dapat langsung mempraktikkan kemampuan membacanya.

Buku yang sangat baik! Buku ini akan mengantar kita Mencapai Puncak Tujuan Membaca. Saya sangat merekomendasikan untuk dibaca.

Judul Buku : How to Read a Book: Cara Jitu Mencapai Puncak Tujuan
Penulis       : Mortimer J Adler dan Charles Van Doren
Halaman     : xxiv + 526 halaman
Penerbit     : iPublishing, Jakarta 2007

Friday, November 1, 2013

Perpustakaan Pribadi



Beberapa hari yang lalu saya dengan bodohnya menyia-nyiakan waktu belajar di perpustakaan kampus. Tanpa rasa bersalah yang dalam, jam demi jam saya buang dengan percuma. Alhasil, waktu yang seharusnya menjadi momen indah di mana saya bisa bercengkerama dengan banyak buku. Waktu di mana saya dengan leluasa ‘mengais’ ide-ide dari berbagai penulis ternama mancanegara, terbuang percuma. Sangat disayangkan, bukan?

Setelah berpikir ulang, ternyata dibalik itu ada hal yang saya rasa perlu saya tulisan. Mungkin bagi sebagian orang ini tidak penting tidak heran kalau nanti postingan ini dilewatkan begitu saja. Tidak apa. Lalu apa yang ingin saya tulis? Sebuah mimpi, ya sebuah mimpi memiliki perpustakaan pribadi. Memang beberapa hari ini, saya rajin berkunjung di mesin pencari Google yang memang menyediakan banyak hal yang tak terduga. Kemarin saya sengaja mencuri waktu untuk melihat gambar perpustakaan pribadi. Sungguh banyaknya gambar-gambar yang bermunculan berbagai bentuk, berbagai motif, berbagai gaya, dari klasik hingga modern. Sungguh sangat indah untuk ditatapi. Maka itu jangan heran jika saya sampai lupa waktu.

Dari uraian di atas sebenarnya itulah kerinduan saya: memiliki perpustakaan pribadi. Perpustakaan yang kelak akan menjadi tempat saya menghabiskan masa tua saya dengan bacaan-bacaan yang membuka wawasan bahkan yang bisa mengubah tutur-laku saya. Sebuah tempat di mana saya bisa bercengkerama riang dengan deretan buku luar dan dalam negeri di tiap sisinya. Entah saat suntuk melanda atau apapun itu, buku-buku itu jadi teman terbaik. Teman yang bisa diajak bertukar pikiran hingga berdialog kritis. Oh, sungguh amat menyenangkan, bukan?


Perpustakaan pribadi bisa saja mampir di rumah kelak jika dari sekarang menyisihkan seribu dua ribu untuk sebuah buku. Ya, dengan mengenyampingkan keinginan-keinginan liar akan sesuatu yang sebenarnya tidaklah diperlukan sangat akan menolong saya mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk perpustakaan impian saya. Ya semoga saja :)

 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

ShareThis