Monday, December 23, 2013

Book: Confession by Augustine


Confessiones menggambarkan pergumulan atau refleksi kritis Filsafat-Teologi Agustinus. Merupakan campuran autobiografi, filsafat, teologi, dan tafsir kritis dari Alkitab. Kitab pertama hingga kesepuluh menelusuri kisah kehidupan Agustinus, sejak lahir  sampai dengan peristiwa yang terjadi setelah pertobatannya. Sedangkan tiga kitab terakhir dari Confessions fokus langsung pada isu-isu filsafat dan teologis serta intepretasi Alkitab. Agustinus dalam bukunya yang fenomenal ini menulis refleksi hidup, pendidikan hingga imannya. Buku ini menggambarkan pencarian Agustinus pada kebenaran sejati. Confessions menyajikan analisis Agustinus tentang dirinya sendiri di hadapan Allah. Dengan demikian boleh dikatakan buku Confessions adalah suatu kesaksian hidup yang terus bergema hingga hari ini. Sehingga tidaklah keliru jika dikatakan Confessions karya Agustinus adalah termasuk salah satu karya sastra terbaik yang pernah ada. 
 
Isi
Buku ini berisi tiga belas kitab (bab). Sepuluh kitab akan menelusuri kisah kehidupan Agustinus, sejak lahir (354 M) hingga dewas. Sedangkan tiga kitab terakhir dari Confessions fokus langsung pada isu-isu religius dan filsafat, waktu dan kekekalan (Kitab XI), dan interpretasi dari Kitab Kejadian (Kitab XII dan XIII).
Kitab pertama dari Confessions ditujukan terutama untuk analisis kehidupan Agustinus sebagai seorang anak, dari bayi hingga melalui hari-harinya sebagai seorang anak sekolah di Thagaste (di Timur Aljazair). Kitab bagian awal bertutur tentang tahun-tahun awal yang mendorongnya untuk merenungkan asal usul dari manusia, akan keinginan, bahasa, dan memori.

Agustinus memulai setiap kitab Confessions dengan doa untuk memuji Tuhan. Bagian pendahuluan dalam kitab I Agustinus memanjatkan doa dan pujian di Hadirat Allah yang Maha Besar. Juga berisi doa dan pujian menyatakan Kehadiran Allah, Tuhan yang penuh rahasia dan Tuhan sebagai penyelamat jiwa (V.5). Agustinus menyadari benar bahwa manusia termasuk dirinya tikdak ada apa-apanya. Bagian akhir kitab I berisi pengakuan dosa sekaligus syukur Agustinus atas bakat alam yang ia miliki (30-31).

Pada kitab II Agustinus memulai dengan pengakuan jujur dari hasrat seksual yang dia alami sebagai remaja laki-laki. Dia menyadari bahwa salah satu keinginannya adalah hanya untuk mencintai dan dicintai. Dia mengatakan bahwa sebagai remaja dia sesat dengan berpikir bahwa nafsu adalah jalan untuk mencintai. Dia mengatakan bahwa murka Allah terlalu berat baginya saat itu, tapi dia tidak menyadarinya. Dia menjelaskan bahwa ketidakpuasan dan masalah yang dialaminya dalam petualangannya adalah hukuman dari Allah.

Pada bagian berikutnya, Agustinus mengeksplorasi banyak kebajikan zamannya: kesombongan, ambisi, kata sayang lembut, rasa ingin tahu, kesederhanaan, keinginan untuk hidup tenang, kelimpahan, kemurahan hati, dan keunggulan semua terbuka untuk keinginan manusia sia-sia yang terletak di bawah mereka. Allah adalah sumber dari segala kebajikan, dan Agustinus menjelaskan bahwa setiap "kebajikan" yang tidak didirikan dalam ketaatan kepada Allah adalah ilusi, dan mungkin dosa.

Dalam kitab III Agustinus menjelaskan waktunya di Karthago, Agustinus mempelajari tingkat tinggi retorika, pidato, dan sastra. Dalam kitab ini juga Agustinus memeluk Manikheisme. Di sinilah Agustinus membaca sebuah buku oleh Cicero disebut Hortensius. Itu adalah salah satu deretan panjang buku Romawi klasik bertujuan untuk membenarkan penggunaan dan nilai filsafat (kadang-kadang bertentangan dengan agama). Dan Agustinus, yang mungkin berusia delapanbelas tahun ketika ia membaca Hortensius, sangat dipengaruhi oleh gagasan kehidupan filosofis dalam buku itu, namun pada titik ini jugalah ia membandingkan karya Cicero dengan tulisan Paulus. 

Setelah menghabiskan seumur hidup terlibat dalam pencarian filosofis, Agustinus akhirnya mulai membaca teks Neoplatonisme. Neoplatonisme membuat lebih mudah bagi Agustinus untuk menerima agama Kristen pada tingkat intelektual dan membuka hatinya untuk iman (Kitab VII). Setelah membaca beberapa literatur Neoplatonis, Agustinus memiliki visi nyata pertama tentang Allah . Fakta bahwa Neoplatonis mengatakan bahwa Allah adalah penyebab dari semua hal itu sangat menarik bagi Agustinus. Meskipun sebagian besar Neoplatonis kafir, mereka masih memberinya dengan sistem filsafat terbaik yang pernah ia temui.

Ini visi Allah, namun tidak berlangsung: Agustinus terlalu terbebani oleh dosa-dosanya, dan terutama oleh dorongan seksualnya, untuk sepenuhnya menerima iman saat ini. Dia mengatakan bahwa Yesus Kristus tidak memasuki hatinya, tetapi menyatakan bahwa peristiwa seperti itu akan memberinya dengan hubungan antara manusia dan Tuhan. Dia belum memiliki cukup kerendahan hati untuk menerima iman, dan belum menerima keilahian Kristus. Dia berjuang dengan iman Katolik dalam Yesus baik sebagai sepenuhnya ilahi dan sepenuhnya manusia. Menjelang akhir buku VII Agustinus mengalihkan pandangan pada tulisan-tulisan Alkitab dan menghabiskan waktu membahas tulisan rasul Paulus.

Bagian ini memasuki bagian dari buku yang berfokus pada teologi ketimbang informasi otobiografi. Sementara Confessions secara keseluruhan tidak dapat secara akurat disebut sebagai otobiografi murni. Dalam buku-buku selanjutnya, sifat dan membela agama menjadi lebih penting untuk Agustinus dari kisah hidupnya sendiri.

Dalam kitab VIII ini Agustinus akhirnya menghapus semua keraguan bahwa Allah memang memiliki "Substansi spiritual" - yang berarti bahwa Dia tidak ada dalam cara yang immaterial. Gagasan bahwa Tuhan tidak dibatasi oleh hubungan spasial bahwa segala sesuatu di bumi dibatasi oleh akhirnya diselesaikan dalam pikiran Agustinus. Sekarang dia telah memutuskan beberapa masalah filosofis tentang Tuhan, ia berharap bahwa ia bisa lebih tegas dalam praktek moralitas. Di sinilah saya mengagumi Agustinus karena integritasnya. Tidak ada alasan untuk menganggap bahwa pertobatannya tidak sepenuhnya tulus.

Kitab X adalah awal dari bagian filosofis Confessions. Agustinus menetapkan untuk sepenuhnya membela imannya dan menjelaskan sebanyak ajaran Kristen dalam konteks filsafat. Setelah memberitahu hidup dan pertobatannya, ia sekarang menampakkan keadaan pikirannya setelah pertobatan dengan menunjukkan sebanyak mungkin keyakinannya yang ia bisa. Agustinus mengungkapkan keyakinan bahwa pengetahuan (yaitu, pengetahuan tentang hal-hal yang benar) adalah unconsious - dapat ditemukan dalam semua orang tapi tidak diakui atau diakui kecuali dijamah Tuhan. Agustinus mengakui bahwa ia tidak dapat menemukan Allah menggunakan akal sehatnya, sehingga ia harus mengubah pencariannya ke dalam, ke dalam pikirannya. Ia mengibaratkan memori seperti gudang: ia dimulai dengan kenangan sensorik, dan bertanya-tanya bagaimana kenangan ini dapat memiliki efek pada orang yang mengingat mereka. Dia bingung dengan jumlah dan berbagai gambar yang tersimpan dalam pikiran manusia. Hal ini menyebabkan dia untuk memuji Tuhan, dan melihat bukti ini sebagai lebih lanjut bahwa manusia tidak dapat sepenuhnya memahami keseluruhan diri mereka. Ini menyebabkan paradoks filosofis bagi Agustinus untuk sisa hari-harinya. Memahami fungsi otak bukanlah tujuan Agustinus dalam Buku X. Dia agak mencoba untuk memahami bagaimana Tuhan bisa dialami oleh manusia. 

Kitab XI - Waktu dan Keabadian. Dalam Buku ini Agustinus menilai sifat waktu sendiri dan membahas bagaimana kaitannya dengan keabadian Allah. Kemudian dalam kitab XII, Agustinus berusaha untuk memadamkan keragaman pendapat tentang penafsiran kitab Kejadian. Sedangkan kitab XIII adalah salah satu doa filosofis yang panjang. Dalam kitab ini Agustinus "meringkas" poin-poin yang ia telah susah payah dibuktikan dalam kitab sebelumnya, dan juga menyentuh pada beberapa poin lain dari ajaran Katolik. Akhirnya, Agustinus mencerminkan lagi pada kesementaraan manusia dan sifat Allah yang kekal. Dia berakhir dengan beberapa nasihat kepada Allah untuk membimbingnya , dan pujian untuk Tuhan dan semua karyanya.

Keprihatinan utama teologis Agustinus adalah sifat Allah, materi, dan jahat; ide-ide abstrak memori dan waktu, serta rekonsiliasi kisah penciptaan Kejadian sampai doktrin Katolik. Sepanjang buku ini, Agustinus memuji Allah dan mengingatkan pembaca bahwa segala sesuatu datang dari Dia.

Komentar
Buku ini tidak hanya berisi riwayat hidup Agustinus, tetapi juga puji-pujian kepada Tuhan, pengakuan iman kepada Allah, dan pengakuan akan kesalahan-kesalahan/dosa duniawi. Dengan membaca buku ini, saya dapat merasakan semangat dan kehebatan teologia dari Agustinus. Buku ini sangat segar, dengan wawasan yang benar-benar menakjubkan dan sangat menyentuh.

Meski ada pergeseran dalam konten, namun, Confessions tetap koheren secara keseluruhan, dalam membuat otobiografinya yang mendalam reflektif, Agustinus telah memperkenalkan banyak ide yang sama dan tema. Pemersatu tema yang muncul selama seluruh pekerjaannya adalah penebusan: Agustinus melihat proses yang menyakitkan sendiri kembali kepada Allah sebagai turunan dari kembalinya seluruh ciptaan Tuhan.
Secara keseluruhan buku ini sangat baik untuk dibaca menambah pengetahuan akademis serta menjadi refleksu kritis yang akan membuat kita berpikir kembali sejenak betapa besarnya Tuhan yang menciptakan dunia ini dengan segala aspek di dalamnya yang tidak bisa ukur dengan kemampuan intelek manusia yang terbatas ini.

Tentu saja bagi sebagian orang untuk memahami buku ini tidaklah mudah karena selain konteks yang jauh berbeda, bobot karya yang luar biasa inipun terbilang cukup sulit untuk dicerna dalam waktu singkat. Meski demikian, ini tidak akan menghambat kecintaan kita pada sumber bacaan sastra dunia sarat nilai-nilai teologis dan renunga serta doa dan pujian ini. Justru di sinilah pembaca dituntut untuk bekerja keras dengan kritis menyelami alam pemikiran besar seorang Agustinus.

Kesimpulan
Confessions merupakan buku perjalanan ziarah tokoh yang luar biasa. Buku kesaksian hidup seorang pencari kebenaran. Memang pada mulanya, kebenaran yang digeluti oleh Agustinus adalah kebenaran yang fana. Segala arah pencariannya berubah setelah ia menemukan Allah, yang bagi Agustinus adalah Sang Kebenaran sejati. Peziarahan Filsafat-Teologi ini pada akhirnya bermuara pada iman akan Tuhan. Dialog Filsafat-teologi yang dicetuskan oleh Agustinus ini adalah sebuah karya yang luar biasa. Confessions adalah sebuah otobiografi mengenai salah satu tokoh hebat dalam Sejarah Gereja. Tokoh yang berpengaruh bukan hanya dalam Katolik, tapi dalam kekristenan secara umum.



Image: http://seminariesandbiblecolleges.com 

Wednesday, November 27, 2013

Dari Terobosan Kecil


Kepemimpinan dan mahasiswa adalah dua kekuatan dasyat di muka bumi ini. Bersama-sama, keduanya telah menggerakkan jalannya sejarah. Sejarah nasional telah mencatat peranan kaum mahasiswa dalam tumbuh kembangnya bangsa Indonesia. Misalnya, tahun 1998 mahasiswa secara kolektif berhasil menumbangkan rezim Orde Baru dan menancapkan tonggak pemerintahan yang lebih demokratis. Luar biasa, bukan?


Melihat potensi besar ini, mahasiswa sebagai bibit kepemimpinan masa depan harus menempa dirinya menjadi seorang pemimpin handal sejak dini. Senat kampus merupakan sarana yang paling baik untuk belajar menumbuhkembangkan jiwa kepemimpinan. Terobosan kecil seperti komitment tepat waktu dalam rapat senat adalah langkah awal menjadi pemimpin tegas dan antikorupsi. Menjunjung tinggi komitment dan tanggung jawab untuk tepat waktu berarti kita membunuh cikal-bakal budaya korup, terutama terkait waktu. Selain itu, dalam ranah personal, sebagai mahasiswa harus dengan tegas mengatakan tidak pada plagiarisme. Mahasiswa harus mampu berpikir kritis, jujur dan jernih dalam melaksanakan tugas kuliahnya.


Akhirnya, para pecundang akan menghabiskan waktunya dengan bermimpi bahwa hari terobosan besar akan tiba, sambil berharap gaungnya akan mempengaruhi dunia. Mereka terlelap dalam mimpi tanpa aksi sedikitpun. Sedangkan para pemenang tidak menghabiskan waktu dengan bermimpi saja. Satu terobosan kecil tiap hari melatih dirinya menjadi pemimpin berintegritas, tegas dan berbudi luhur. Oleh karena itu, marilah para mahasiswa, agent of change, lakukan terobosan kecil tiap hari niscaya negeri ini tidak akan pernah absen pemimpin yang mampu membuat perubahan positif.

Sunday, November 17, 2013

Mari Membaca



Bisa dikatakan hampir setiap hari saya menghabiskan waktu di perpusatakaan. Entah itu kewajiban ataupun sekadar mampir begitu saja, dimana setiap mahasiswa harus berada di dalam perpustakaan setiap pukul 19.15 hingga pukul 21.15. Satu hal yang tidak pernah menghindar dari dalam diri saya hingga saat ini, sebuah perasaan. Ya, perasaan kecil dan miskin. Jika menengok tiap sisi perpustakaan, ada ribuan bahkan puluhan ribu buku tersusun rapi di sana. Di tengah-tengah ribuan buku itulah saya menyadari betapa banyak hal yang belum saya ketahui. Betapa minimnya pengetahuan yang saya miliki saat ini. Betapa kecilnya saya. Karena itu, rasanya tidak berlebihan ungkapan Henry Ward Beecher, “Where is human nature so weak as in the bookstore?” Di manakah manusia begitu nampak lemah sebagaimana ketika ia berada di toko buku? Ya, di sanalah saya nampak begitu bodoh.

Sejatinya perpustakaan adalah sabahat dikala suntuk dan bukan sahabat yang mempersuntuk. Sahabat dikala bersuka. Tapi dasar si pemalas ulung, perpustakaan bak kamar dengan kasur empuk yang siap membuat badan layu seketika. Ya, rasanya bukan antusias malah mengantuk tak ketulungan. Lagi pula, perpustakaan yang sejatinya tempat berdiam diri, menimba ilmu adakalanya beralih fungsi. Ya, inilah salah satu persoalan yang butuh jawaban hingga saat di mana saya menuliskan uneg-uneg saya ini. 

Dalam diri seharusnya menanamkan prinsip: saya harus membaca setiap hari. Saya bersyukur, belakangan ini saya sedang bergairahnya melahap lembar demi lembar buku. Bahkan tak tanggung dalam sehari bisa menghabiskan 2-3 jam untuk membaca. Saya terus memompa diri untuk tidak berhenti membaca.
   
Yah, semestinya tidak ada alasan untuk tidak membaca. Sesungguhnya waktu begitu bersahabat dengan kita, bahkan adakalanya ia memanggil kita untuk menikmati sajian penulis mancanegara yang tersusun rapi di rak buku. Rasanya saya sangat menyesal dengan membuang banyak waktu tanpa menabung banyak ide dari mereka. Seharusnya saya makin hari makin akrab dengan buku-buku itu. Bukankah ada pernyataan begini, “pintar tidaknya seseorang sebenarnya sangat ditentukan seberapa intens ia melakukan aktivitas baca.” Semakin banyak membaca dapat dijamin ia akan semakin cerdas. Sebaliknya dapat ditebak.

Mari menilik masyarakat di negara-negara maju. Aktivitas membaca adalah bagian kebudayaan yang terus diperlihatkan dalam hidup sehari-hari. Lihat saja Jepang, membaca merupakan pekerjaan wajib dilakukan terus menerus tanpa henti. Alhasil, negara ini maju di segala bidang. Kita tidak perlu berkecil hati, meski animo membaca di negeri kita masih kurang, tetapi setidaknya dari dalam diri kita membuat sebuah terobosan: menjadikan membaca sebagai aktivitas wajib. Bukan sebaliknya menjadikan kegiatan ini menjadi pengatar tidur.

Dengan membaca kita bisa mengenal aspek kehidupan dan menyingkap misteri-misteri yang ada di alam semesta ini. Membaca bisa mengantar kita ke dunia jauh, menerawang menembus batas. Ketika kita menjadikan aktivitas membaca sebagai kegemaran kita maka saat kita tidak bersua dengan buku, rasanya ada sesuatu yang hilang.

Di sinilah refleksi ini berujung: betapa pentingnya peran buku dalam hidup dan peradaban manusia. Tidak ada cara lain untuk membuka jendela dunia selain membaca. Jadi, membacalah baik atau tidak baik keadaanmu, niscaya kita akan menggenggam dunia.
 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

ShareThis