Friday, November 30, 2012

SEKILAS TENTANG PERAYAAN MASA ADVENT









Begitu
pentingnya peristiwa kelahiran Yesus Sang Juruselamat, sehingga Gereja
mempersiapkan umatnya untuk memperingatinya; dan masa persiapan ini dikenal
dengan masa Advent. Kata "Advent" berasal dari kata bahasa Latin
"Adventus" yang berarti "Kedatangan". Pertama kali kata
”advent” yang  artinya kedatangan dipakai umum dalam imperium Romawi. Saat
itu, kata ini digunakan untuk menyambut kedatang-an seorang kaisar yang
dianggap sebagai de-wa. Baru beberapa abad kemudian, kata yang sama kemudian
dipakai dalam gereja untuk menyatakan bahwa yang datang itu bukanlah kaisar,
melainkan Kristus yang adalah Raja dan Tuhan. Jadinya, masa advent yang tadinya
dipahami sebagai masa penyam-but kedatangan se-orang dewa, kini dipahami
sebagai penyambutan kedatangan Kristus ke dunia. Advent sendiri sudah dirayakan
oleh gereja sejak abad 6.





Masa
Advent adalah masa persiapan sebelum Natal, yaitu menghayati makna kedatangan
Yesus Kristus. Kita merenungkan kembali misteri inkarnasi  agung ketika Kristus merendahkan diri,
mengambil rupa manusia, dan masuk dalam dimensi ruang dan waktu guna
membebaskan kita dari dosa.







Minggu
Advent adalah 4 minggu berturut-turut sebelum Natal 25 Desember. Tahun ini,
minggu Advent pertama dimulai pada hari Minggu, 2 Desember 2012. Minggu Advent
kedua, 9 Desember 2012, dan seterusnya.





Masa
Advent diperkuat dengan simbol keagamaan berupa pemasangan 4 lilin berwarna
ungu dalam kebaktian. Warna ungu dalam tradisi gereja melambangkan penyesalan
dan pertobatan. Di masa Advent, kita diajak untuk merefleksikan ulang kehidupan
kita yang bermuara pada pertobatan, yaitu kita berbalik dari dosa, memohon
pengampunan Tuhan, dan menata kembali kehidupan supaya sesuai dengan kehendak
Tuhan.


Dalam memasuki Minggu-minggu Advent, kita patut merenung dan bertanya pada diri
sendiri: Apa yang telah kita persembahkan selama ini kepada Allah? Apa yang
sudah kita lakukan bagi sesama kita? Sudahkah hidup kita menyenangkan hati-Nya?






PANDANGAN TENTANG PENGANGKATAN ORANG-ORANG KUDUS







PENDAHULUAN


            Tidak dipungkiri salah satu isu
kontroversi dalam eskatologi adalah Kedatangan Kristus Kedua kali. Para teolog
tidak selalu sepaham mengenai Kedatangan Kristus yang kedua kali ini. Masalahnya
terletak pada apakah peristiwa itu terjadi hanya satu tahap ataukah terjadi
atas dua tahap. Sementara beberapa pangajar Alkitab percaya bahwa pengangkatan
dan kedatangan kedua itu sendiri terjadi pada saat yang bersamaan, yang lain percaya
bahwa ada dua tahap atau fase yang berbeda dari kedatangan-Nya. Paul E. Little
berkata: “Banyak golongan Injili yang membedakan antara kedatangan Kristus
untuk menjemput orang-orang kudus-Nya pada saat “pengangkatan orang-orang
kudus” dan kedatangan-Nya bersama dengan orang-orang kudus-Nya untuk menyatakan
kuasa-Nya.”[1]
Teolog Louis Berkhof misalnya menolak anggapan bahwa kedatangan Yesus kedua
kali terjadi dalam dua fase, Berkhof menegaskan: “On the basis of Scripture it should be maintained that the second coming
of the Lord will be a single event.
[2]
Sebaliknya Henry Thiessen percaya bahwa kedatangan Kristus akan terjadi dalam
dua tahap.[3]


Ketidaksepahaman
ini tentunya secara otomatis akan mempengaruhi juga pandangan terhadap pengangkatan
orang-orang kudus. Berkenaan dengan hal di atas maka pada makalah ini penulis
akan memaparkan pandangan-pandangan mengenai pengangkatan orang-orang kudus,
berikut dengan beberapa catatan terhadap pandangan-pandangan tersebut.





PEMBAHASAN


            Masalah utama yang selalu menjadi perdebatan
hangat perihal pengangkatan adalah kapan pengangkatan gereja akan terjadi
sebelum masa kesusahan, pertengahan masa kesusahan ataukah pasca masa
kesusahan. Banyak orang Kristen yang berbeda pendapat tentang hal ini.
Tiga pandangan utama: Pratribulasi,
Midtribulasi, dan Pascatribulasi.





A.     Pandangan
Pra-masa Kesusahan (Pretribulation)


Pandangan
yang pertama mengajarkan bahwa Kristus akan datang di udara, membangkitkan
orang-orang mati dalam Kristus dari zaman gereja (I Tes 4:16), dan mengangkat gereja-Nya
untuk bisa bersama dengan Dia sebelum masa kesusahan dimulai, sehingga
menyelamatkan mereka dari hari kemurkaan yang akan menimpa seluruh bumi.
Seperti yang dikatakan John F. Walvoord: “The
wrath of God will be poured out upon the world during the great tribulation
.”[4] Paul
D. Feinberg menguraikan empat argumen alkitabiah untuk mendukung pandangan ini,
yakni pertama, the promise of
exemption from divine wrath, kedua,
the church is promised exemption not only from divine wrath but also from the
time of wrath; ketiga, the necessity
of an interval between the rapture of the church and second coming of Christ; terakhir, the differnces between rapture
passages and second cominng passages.[5] Dunia
kemudian akan berjalan melewati tujuh tahun masa kesusahan, lalu Kristus akan
menyelesaikan kedatangan-Nya dengan turun dalam kuasa dan kemuliaan besar ke
bumi untuk mendirikan kerajaan seribu tahun-Nya.


B.     Pandangan
Pertengahan Masa Kesusahan (Midtribulation)


Pandangan
ini mengajarkan bahwa gereja akan
masuk dan melalui paruh pertama masa
kesusahan
atau tiga
setengah tahun pertama dari masa Tribulasi.
Setelah tiga setengah tahun masa
Tribulasi
Kristus akan datang di udara untuk mengangkat
gereja-Nya dan membangkitkan yang mati dalam Kristus (I Tes 4:16,17) dipertengahan
tujuh tahun itu, sebelum berlangsungnya masa kesusahan besar selama tiga
setengah tahun lagi. Kemudian Kristus datang dalam kemuliaan untuk menegakkan
kerajaan-Nya.
Millard
Erickson mengatakan: “Midtribulationism teaches that the church will be present
on earth during, and thus will experience, a portion of the tribulation, but
then will be removed before the worst of tribulation.”[6]
Jadi menurut pandangan ini gereja diangkat di pertengahan masa Tribulasi.


C.     Pandangan
Pasca Masa Kesusahan (Posttribulation)


Secara
umum pandangan ini mengajarkan bahwa gereja akan berjalan melewati keseluruhan
masa kesusahan. Seperti yang dikatakan Millard Erickson: “The first major feature of posttribulationism is of course that the
church will not be removed from the world prior to tribulation but will go
through it, enduring it by the grace and strength of God
.”[7]
Lanjutnya Erickson menguraikan tiga prinsip utama posttribulationism; Pertama, the church’s presence in the
tribulation; kedua, the meeting “in
the air”; ketiga, the restrainer’s
removal.[8]  Menurut pandangan ini banyak orang-orang kudus
akan mati sebagai martir, dan bahwa Tuhan akan membangkitkan orang-orang
percaya yang sudah mati sampai waktu itu dan mengangkat orang-orang kudus yang
masih hidup pada saat itu dengan mengangkat mereka ke arah-Nya ketika Dia
sendiri turun, dan kemudian menyelesaikan kedatangan-Nya ke bumi dalam kuasa
untuk mendirikan kerajaan-Nya.


Setelah
melihat setiap pandangan di atas maka sangatlah penting untuk mengenali tujuan
dari Tribulasi. Menurut Daniel 9:27 ada tujuh “masa” (7 tahun) yang masih akan
datang. Keseluruhan nubuat Daniel mengenai tujuh puluh masa (Daniel 9:20-27)
berbicara mengenai bangsa Israel. Ini adalah masa di mana Tuhan memusatkan
perhatianNya secara khusus pada Israel.[9] Ayat
Alkitab yang utama mengenai Pengangkatan orang percaya adalah 1 Tesalonika
4:13-18. Ayat-ayat ini menjelaskan bahwa setiap orang percaya, bersama dengan
orang-orang percaya yang telah meninggal, akan bertemu dengan Tuhan di angkasa
dan akan bersama-sama dengan Dia selama-lamanya. Pengangkatan orang percaya
adalah Tuhan memindahkan umatNya dari bumi ini. Dalam 5:9 Paulus mengatakan,
“Karena Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka, tetapi untuk beroleh
keselamatan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.”


Kitab
Wahyu yang secara utama berbicara mengenai masa Tribulasi adalah berita
nubuatan mengenai bagaimana Tuhan akan mencurahkan murkaNya atas bumi ini pada
saat Tribulasi. Adalah tidak konsisten untuk Tuhan menjanjikan orang-orang
percaya bahwa mereka tidak akan mengalami murka Tuhan namun membiarkan mereka
di bumi pada masa Tribulasi. Fakta bahwa Allah berjanji melepaskan orang-orang
Kristen dari murkaNya tidak lama setelah berjanji untuk menyingkirkan umatNya
dari bumi ini nampaknya menghubungkan kedua peristiwa ini.
Feinberg
berkata:


All agree that
God has exempted the church from divine wrath. Thus, there is at least this
point of agreement, the belief that the true church is exempt from divine
wrath. However, before examining the Scripture texts that support this
principle. First, this exemption from wrath does not mean that the church will
never experience trial, persecution, or suffering, see John 16:33 Phil 1:27; 1
Thess 3:3; 1 Pet 4:12, 13. Second, the ground for the exemption is not that Jesus
Christ on the cross has borne our wrath so that we will not come into wrath.”[10]





Bagian Alkitab lain
yang krusial mengenai waktu dari Pengangkatan orang percaya adalah Wahyu 3:10.
Di sana Kristus berjanji melepaskan orang-orang percaya dari “hari pencobaan”
yang akan datang atas seluruh dunia. Ini dapat berarti Kristus berjanji untuk
memelihara orang-orang percaya dari masa pencobaan, yaitu Tribulasi. Thiessen
berkata:“ Janji dalam Wahyu 3:10 agaknya bukan saja bahwa Allah akan melindungi
orang-orang yang setia dari pencobaan, seakan-akan hendak menjadi perisai
mereka, tetapi bahwa Ia akan menyelamatkan mereka dari hari pencobaan itu.”[11]
Tujuan dari Tribulasi, tujuan dari Pengangkatan orang percaya, arti dari 1
Tesalonika 5:9, dan penafsiran Wahyu 3:10 semua memberi dukungan jelas pada
pandangan Pratribulasi. Jikalau Alkitab ditafsirkan secara harafiah dan
konsisten, pandangan Pratribulasi adalah pandangan yang paling konsisten dengan
Alkitab.





KESIMPULAN


            Dari pembahasan di atas dapat
disimpulkan pertama, fakta  yang tidak dapat disangkal adalah bahwa
Kristus akan datang kembali. Kedua,
meskipun Alkitab jelas menunjukkan fakta bahwa Kristus akan datang kembali,
tetapi tidaklah sama jelasnya tentang apakah Kristus akan datang kembali untuk
gereja-Nya sebelum, di tengah atau pada akhir masa kesusahan. Sehingga untuk sampai pada pendirian terhadap
satu pandangan diperlukan konsistensi dalam menelaah Alkitab.











[1] Paul E. Little, Kutahu Yang Kupercaya (Bandung: Kalam
Hidup, 2000), 161.




[2] Louis Berkhof, Systematic Theology (Grand Rapids:
Eerdmans, 1984), 696.




[3] Thiessen mengatakan: “Kita
mendapati bahwa Kristus akan datang di udara dan pada saat itu beberapa hal
akan terjadi di udara, kemudian kita melihat bahwa Ia akan datang di bumi dan
beberapa peristiwa akan terjadi di bumi.” Henry C. Thiessen, Teologi Sistematika (Malang: Gandum Mas,
2008), 536.




[4] Walvoord dikutip oleh Paul
Feinberg. 51, Paul D, Feinberg, ed. Stanley N. Gundy Three Views on the Rapture (Grand Rapids: Zondervan Publishing,
1996), 51.




[5] Ibid, 50-86.




[6] Millard J. Erickson, Contemporary Options in Eschatology
(Grand Rapids: Baker Books House, 1988), 163.




[7] Erickson, Contemporary, 145.




[8] Ibid, 152-159.




[9] Gundry, Three Views on the Rapture, 50.




[10] Paul D. Feinberg, ed. Stanley N.
Gundry, Three Views on the Rapture
(Grand Rapids: Zondervan Publishing, 1996), 50-52.




[11] Thiessen, 585.




NIHILISME DAN EKSISTENSIALISME







 Pengertian
Nihilisme





Nihilisme
(Lat. Tidak menerima apapun) adalah
sebuah pandangan filosofi yang sering dihubungkan dengan Friedrich Nietzsche.
Nihilisme merupakan istilah umum untuk aliran-aliran Filsafat yang menyatakan
bahwa pada dirinya sendiri realitas akhirnya tidak mempunyai makna,[1] bahwa
dunia ini, terutama keberadaan manusia di dunia, tidak memiliki suatu tujuan.
Nihilis biasanya memiliki beberapa atau semua pandangan ini: tidak ada bukti
yang mendukung keberadaan pencipta, moral sejati tidak diketahui, dan etika
sekular adalah tidak mungkin. Karena itu, kehidupan tidak memiliki arti, dan
tidak ada tindakan yang lebih baik daripada yang lain.


Nihilisme apabila dilihat dari
bentuk kata kerjanya berarti meniadakan, membasmi, memusnahkan, menghapuskan,
dan melenyapkan segala eksistensi. Terminology ini dipakai Nietzsche untuk
menggambarkan bahwa apa saja yang dulu dianggap bernilai dan bermakna kini
sudah mulai memudar dan menuju keruntuhan. Dunia ini terutama keberadaan
manusia di dunia tidak memiliki tujuan.


Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia Nihilisme berati paham aliran filsafat sosial yang
tidak mengakui nilai-nilai kesusilaan, kemanusiaan, keindahan dsb, juga segala
bentuk kekuasaan pemerintahan, semua orang berhak mengikuti kemauannya sendiri.





Pengertian
Eksistensialisme


             


Para penganut paham ini tidak ada kesepakatan tentang
definisi eksistensialisme. Namun jika dilihat dari kata dasar eksistensi adalah
exist yang berasal dari bahasa Latin ex
yang berarti keluar dan sistere
berarti berdiri. Sehingga eksistensi adalah berdiri dengan keluar dari diri
sendiri. Artinya dengan keluar dari dirinya sendiri manusia sadar tentang
dirinya sendiri; ia berdiri sebagai aku atau pribadi.


Eksistensialisme
adalah aliran filsafat yang pahamnya berpusat pada manusia individu yang
bertanggung jawab atas kemauannya yang bebas tanpa memikirkan secara mendalam
mana yang benar dan mana yang tidak benar. Sebenarnya bukannya tidak mengetahui
mana yang benar dan mana yang tidak benar, tetapi seorang eksistensialis sadar
bahwa kebenaran bersifat relatif, dan karenanya masing-masing individu bebas
menentukan sesuatu yang menurutnya benar.


Eksistensialisme
adalah salah satu aliran besar dalam filsafat, khususnya tradisi filsafat
Barat. Eksistensialisme mempersoalkan keber-Ada-an manusia, dan keber-Ada-an
itu dihadirkan lewat kebebasan. Pertanyaan utama yang berhubungan dengan
eksistensialisme adalah melulu soal kebebasan. Apakah kebebasan itu?
bagaimanakah manusia yang bebas itu? dan sesuai dengan doktrin utamanya yaitu
kebebasan, eksistensialisme menolak mentah-mentah bentuk determinasi terhadap
kebebasan kecuali kebebasan itu sendiri.[2]   


Ada
juga yang mendefinisikan sebagai
aliran filsafat yang pahamnya berpusat pada manusia individu
yang bertanggung jawab atas kemauannya yang bebas tanpa mengetahui mana yang benar
dan mana yang tidak benar.





Perbandingan





Nihilisme,
paham ini jelas menolak adanya Allah yang berkuasa dalam menciptakan alam
semesta dan berusaha untuk menghilangkan eksistensi dunia ini, secara
khusus eksistensi manusia tentang makna, tujuan, kebenaran yang komprehensif
dan nilai yang esensial. Paham ini menganggap bahwa manusia tidak diciptakan
oleh Tuhan, tetapi melalui evolusi dari seekor kera. Paham ini percaya bahwa
tidak ada kehidupan setelah kematian, yang ada hanyalah hasrat untuk bertahan
hidup.


Kelemahan
dari paham Nihilist adalah bahwa Nihilist tidak memiliki pertanggung jawaban
secara moral untuk segala perilaku yang dilakukan, khususnya berkaitan dengan
hal-hal negatif.


Sedangkan
Eksistensialisme menekankan tema eksistensi pribadi yang dibandingkan
dengan eksistensi manusia secara umum. Penekanan dari Eksistensialisme adalah
bahwa seseorang dapat menilai dan menetukan sesuatu oleh tindakannya dan
pilihannya sendiri (tidak bergantung dari standard moral yang berlaku baik
secara tertulis ataupun secara lisan). Dalam hal ini “pilihan” menjadi evaluasi
tertinggi dari tindakan yang akan diambil oleh seseorang.


Kelemahan
dari eksistensialisme: (1) standar moralitas (benar atau salahnya) perilaku
seseorang dalam masyarakat, bukan ditentukan oleh pribadi seseorang, melainkan
norma, aturan atau hukum yang menjadi kesepakatan di dalam masyarakat itu; (2)
Eksistensialist mengabaikan nilai-nilai moralitas secara objektif.


           













[1] Kamus Teologia, Gerald O’C dan Edward G
Farrugia (Yogyakarta: Kanisius, 1996), 216.





[2]
http://id.wikipedia.org/wiki/Eksistensialisme




Thursday, November 29, 2012

PANDANGAN ALKITAB TENTANG STRUKTUR MANUSIA









PENDAHULUAN





          Tidak
dapat sangkal dalam ajaran kekristenan, dokrin Manusia khususnya tentang
struktur manusia adalah topik yang hangat yang menimbulkan silang pendapat yang
tidak akan berakhir dengan pandangan-pandangan yang berbeda oleh para teolog
dari abad ke abad. Berbagai pandangan mengenai struktur manusia seperti
dualisme (yang mempertentangkan tubuh dan jiwa), dikhotomi (manusia terdiri
dari dua unsur yakni tubuh dan jiwa/roh), ataupun trikhotomi (manusia terdiri
dari tiga unsur yakni tubuh, jiwa dan roh). Henry C. Thiessen berkata: ”Gereja
Barat umumnya menerima pandangan dikhotomik; sedangkan gereja Timur umumnya
menerima pandangan trikhotomik.[1]
Fakta ini menurut penulis menambah daftar panjang perdebatan dalam kalangan kekristenan
dalam lingkup teologi Kristen khususnya serta timbulnya perasaan masa bodoh dari
kalangan kaum awam untuk mencintai teologi itu sendiri, yang justru dikarenakan
oleh berbagai pandangan yang berbeda serta perdebatan mengenai topik ini yang
tiada berakhirnya.


          Berdasarkan
fakta di atas mengenai berbagai pandangan tentang struktur manusia yang
akhirnnya banyak menimbulkan kebingungan dari banyak orang termasuk penulis
sendiri untuk memutuskan mana yang harus dipegang, bahkan perdebatan yang tidak
pernah akan usai maka dalam semangat untuk mengerti kebenaran Alkitab penulis
mencoba menguraikan pandangan mutlak Alkitab mengenai berbagai pandangan
struktur manusia serta pendapat para ahli sebagai perbandingan dan akhirnya
pandangan penulis sendiri sebagai jawaban sementara atas masalah yang
dikemukakan di atas.





PEMBAHASAN


I.            
Pandangan Teori Trikotomi


Teori ini menganggap bahwa manusia
terdiri dari tiga unsur yakni tubuh, jiwa dan roh.  Teori ini mengacu pada 1 Tes. 5:23 dan Ibr.
4:12 yang menjadi dasar argumen mereka. Mengenai hal ini Harun Hadiwijono
berkata: “Seolah-olah ayat-ayat ini memberi kesan, bahwa Alkitab mengajarkan
apa yang disebut trikhotomi.”[2]


Anthony A. Hoekema berkata: “Pandangan
ini harus ditolak karena nampaknya merusak kesatuan manusia. Istilah trikotomi itu sendiri menunjukkan bahwa
manusia bisa dibagi menjadi tiga “bagian”: trikotomi
berasal dari dua kata Yunani, tricha,
“rangkap tiga” atau “menjadi tiga” dan temnein,
“memotong.”
[3]  Jelaslah bahwa teori ini memilah-milah unsur
manusia menjadi tiga bagian yang berdiri sendiri-sendiri. Penulis dengan tegas
menolak pandangan ini, karena manusia adalah satu kesatuan yang tidak dapat
dipilah-pilah.





II.           
Pandangan Teori Dikotomi


Jikalau teori trikotomi manusia terdiri
dari tiga bagian yang berdiri sendiri, teori justru ini beranggapan bahwa
struktur manusia hanya terdiri dari dua bagian saja yakni tubuh, jiwa/roh.
Strong yang dikutip oleh Thiessen mengatakan:


“Bagian manusia yang tidak badaniah,
bila dipandang sebagai kehidupan individual dan sadar, mampu memiliki dan
menggerakkan organisme fisik, dinamakan psuche;
bila dipandang sebagai unsur yang rasional dan moral, peka terhadap pengaruh
dan penguasaan ilahi, disebut pneuma.
Dengan demikian pneuma merupakan
sifat manusia yang senantiasa mengarah kepada Allah, dan mampu untuk menerima
serta menyatakan Pneuma hagion;
sedangkan psuche adalah sifat manusia
yang mengarah ke bumi dan menyentuh dunia indra. Pneuma adalah bagian yang lebih luhur dari manusia karena
berhubungan dengan berbagai realitas rohani atau mampu berhubungann secara
rohani. Dengan demikian wujud manusia itu bersifat dikhotomis dan bukan
trikhotomis, karena bagian yang tidak badaniah itu (pneuma dan psuche),
sekalipun berbeda kemampuannya, tetap merupakan satu kesatuan hakekat.”[4]


Thiessen menguraikan setidaknya ada
tujuh fakta yang mendukung teori ini, misalnya: a) Allah menghembuskan ke dalam
manusia satu prinsip saja, yaitu jiwa yang hidup (Kej. 2:7). Dalam kitab Ayub
27:3 “hidup” (dalam Alkitab TB disebut “napas”) dan “roh” nampaknya dapat
dipertukartempatkan (lit. Ayub 33:18). b) Alkitab mengatakan bahwa baik “roh”
maupun “jiwa” dimiliki oleh semua mahkluk ciptaan Allah sekalipun jiwa atau roh
di dalam binatang sifatnya tidak rasional dan fana, sedangkan jiwa atau roh
manusia itu rasional dan tidak fana (Pengkh. 3:21; Why. 16:3).[5]


Meskipun nampaknya didukung fakta
Alkitab yang cukup jelas, namun harus diperhatikan asal katanya yang
notabenenya bersifat pemisahan. Enns misalnya menerangkannya demikian:
“Dikotomi berasal dari kata Yunani dicha,
“dua”, dan temno, “memotong”. Jadi
manusia adalah keberadaan yang terdiri dari dua bagian, yaitu tubuh dan jiwa.”[6]
Nampak jelas bahwa  seperti halnya
penganut trikotomi pandangan ini juga nampaknya memisahkan unsur manusia dari
kesatuannya. Dan sudah jelas Alkitab tidak pernah mengajarkan hal demikian
bahwa manusia terdiri dari dua unsur yang berbeda.





III.         
Pandangan Alkitab


Setelah menguraikan kedua pandangan di
atas maka saat ini bagaimana pandangan Alkitab sendiri. Berkhof  beranggapan bahwa Alkitab memegang pandangan
dikhotomi, ini dapat dilihat dari ungkapannya berikut:” Penjelasan yang ada
sampai sekarang tentang manusia dalam Alkitab jelas dikhotomis.” Selain itu ia
juga mengatakan: “Jadi Alkitab menunjukan hanya dua saja elemen konstitusional
dalam natur manusia yaitu tubuh dan roh atau jiwa.”[7]
Dari ungkapanya ini jelas Berkhof percaya bahwa manusia terbagi dari dua unsur.


          Namun
harus diperhatikan Alkitab memang mengunakan kata-kata yang dipakai untuk
menjelaskan aspek manusia, namun jikalau Alkitab memegang teori dikhotomi
bukankah teori dikhotomi dan trikhotomi mengajarkan dualisme. Yang oleh Harun
Hadiwijono mengartikanya sebagai: “Ajaran yang mengakui adanya dua zat yang
saling bertentangan secara asasi.[8]
Jelaslah bahwa Alkitab tidak mengajarkannya.


          Nampaknya
agar kita memiliki pemahaman yang jelas tentang pandangan Alkitab sendiri
mengenai manusia sebagai pribadi yang utuh, cara terbaik adalah mempelajari
atau menelaah istilah-istilah yang dipakai Alkitab dalam menjelaskan aspek
manusia itu sendiri. Namun perlu diperhatikan setidaknya kita harus memahami
kaidah atau cara menafsir yang baik, sehingga kita tidak salah dalam menafsirkan
Firman Tuhan. Berhubung dengan bahasan ini misalnya yang perlu kita perhatikan
dalam menafsirkan satu bagian teks Alkitab adalah jenis bahasa yang digunakan dalam
Alkitab. Mengenai hal ini W. Gary Crampton berkata: “ Untuk mengeksegese Firman
Allah secara tepat kita perlu memahami jenis bahasa yang dijumpai dalam Alkitab
dan bagaimana kita harus mempelajarinya.[9]


Mengenai 1 Tes. 5:23 dan Ibr. 4:12,
yang menjadi dasar argumen para penganut trikotomi, nampaknya tidaklah tepat
jikalau langsung diintepretasikan sebagai ayat-ayat yang membicarakan pembagian
struktur manusia tanpa analisa yang cermat terlebih dahulu. Harun misalnya
mengatakan: “ Yang menjadi pokok pembicaraan dalam Ibr. 4:12 adalah Firman atau
Sabda Allah. Firman Allah bukanlah Sabda yang kosong, yang mati, melainkan
sabda yang hidup dan berkuasa, serta yang tajam melebihi pedang bermata dua
manapun.”[10] Jelaslah ayat bagi kita
bahwa ayat ini tidak sedang berbicara mengenai struktur atau bagian-bagian
manusia.


Sebagai orang Kristen yang percaya
kepada Alkitab, sabda Allah, kita seharusnya mempertimbangkan penjelasannya
mengenai manusia, dan satu hal yang perlu kita ingat bahwa Alkitab bukanlah
buku uraian yang menjelaskan fakta ilmiah tentang struktur manusia.


IV.         
Pandangan Penulis


    
Adapun pandangan penulis sendiri mengenai struktur manusia, penulis
berpendapat bahwa memang manusia bersifat jasmaniah dan rohaniah tetapi tubuh,
jiwa/roh adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang
lain. Seperti halnya yang diungkapkan Harun Hadiwijono bahwa: “Adalah
bertentangan dengan maksud Alkitab, jikalau diajarkan, bahwa manusia terdiri
dari badan, jiwa dan roh sebagai zat yang berdiri sendiri-sendiri.”[11]
Sedangkan Isak Roedi dalam diktat Teologi PL-nya mengatakan:


”Adanya ungkapan-ungkapan seperti basar
(daging atau tubuh), nepes (jiwa) dll. Sebenarnya hanya mau menunjukan bahwa
manusia diciptakan Tuhan sebagai mahluk badani dan sekaligus pula sebagai
mahluk rohani. Jadi ini hendak menunjuk pada dua segi hidup manusia yang satu
(ibarat dua sisi dari satu uang logam yang sama).[12]


Hoekema berkata: “ Manusia harus dilihat di dalam
totalitasnya, bukan sebagai susunan yang terdiri dari berbagai “bagian” yang
berbeda. Inilah ajaran yang jelas dari PL maupun PB.”[13]


Jadi menurut penulis Alkitab tidaklah
mengajarkan mengenai pembagian struktur manusia seperti yang diajarkan oleh
psikologi, filsafat, teori dikotomi maupun trikotomi, bahwa manusia terdiri
dari tubuh, jiwa dan roh, tetapi Alkitab menyatakan bahwa Allah yang hidup dan
berkuasa itu menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya supaya manusia
ciptaan-Nya itu bisa bersekutu dengan Dia dan sesamanya. Manusia harus dilihat
secara satu kesatuan bukan sebaliknya.





KESIMPULAN


Dari pemahasan ini penulis menyimpulkan
bahwa Alkitab tidaklah mengajarkan teori dikhotomi maupun trikhotomi yang
diperdebatkan oleh para teolog. Struktur manusia adalah satu kesatuan yang
tidak dapat dipisahakan satu dengan yang lainnya sehingga kita sebagai orang
percaya tidak usah berdebat mempertahankan pendapat yang dinggap benar yang
justru merusak kesatuan tubuh Kristus. Penulis menyadari uraian dalam paper ini
bukanlah suatu kebenaran akhir, tetapi ini hanya sebagai perbadingan kita saja.
Karena kita percaya Allah sumber kebenaran sejati itu pada waktunya akan mengungkapkan
kebenaran itu kepada kita umat yang menantikan-Nya.


















[1] Henry
C. Thiessen, Teologi Sistematika (Malang:
Gandum Mas, 2008), 244. Bahkan Louis Berkhof mengatakan :
”Konsep trikhotomis manusia memperoleh dukungan kuat di kalangan bapak-bapak
Gereja dari Yunani maupun Alexandria pada abad-abad pertama.” Louis Berkhof, Teologi Sistematika, Doktrin Manusia
(Surabaya: Momentum LRII, 1994), II:24. Lihat juga penjelasan Paul Enns yang
senada dalam bukunya, The Moody Handbook
of Theologia
(Malang: Literatur SAAT, 2010), I:378.




[2] Harun
Hadiwijono, IMAN KRISTEN (Jakarta:
BPK Gunung Mulia, 1991), 179.




[3] Anthony A. Hoekema, Manusia: Ciptaan Menurut Gambar Allah (Surabaya:
Momentum,2003), 226. Lih. Juga Enns The
Moody Handbook of Theologia
, I:378.




[4] Thiessen, Teologi, 244.




[5] Ibid,
244-245. Yakobus mengatakan, tubuh tanpa jiwa itu
mati. Alkitab juga mengatakan, pada waktu Elia membangkitkan anak budak, maka
jiwanya kembali kepada tubuhnya, dan anak itu hidup kembali. Dengan demikian
unsur jiwa yang tidak kelihatan dan unsur tubuh yang kelihatan, merupakan dua
unsur yang membentuk manusia. Inilah dasar Alkitab dikotomi (oleh Pdt. Dr.
Stephen Tong. http://dennytan.blogspot.com/2008_06_16_archive.html) Lihat juga
penjelasan Paul Enns yang senada dalam bukunya, The Moody.., I:379.




[6]Paul  Enns, The Moody Handbook of
Theologia
(Malang:
Literatur SAAT, 2010), I:378.




[7] Berkhof, Teologi,
26.




[8] Hadiwijono, IMAN, 179




[9] W. Gary Crampton, Verbum Dei-Alkitab: Firman Allah (Surabaya: Momentum, 2008), 111.
Dalam Diktat mata kuliahnya Isak Roedy menyebutkan khususnya dalam PL ada dua
bentuk bahasa, yakni 1.Bah. Stereometris (bah. yang
menggunakan dua kata atau lebih untuk mengungkapkan segenap keberadaan
seseorang; dan kata-kata tersebut acapkali pula saling berdekatan artinya serta
digunakan secara silih berganti, mis dalam Mzm. 84:3, Ams 2:10). 2.
Bah. Sintetis (Satu anggota tubuh misalnya dimaksudkan untuk seluruh tubuh itu
sendiri, mis dalam Yes 52:7). Diktat TPL Oleh Pdt. Isak Roedi M.Th.




[10] Hadiwijono, Iman..,180. Lihat juga penjelasan Berkhof, Teologi.., 30.




[11] Ibid,
180.




[12] Diktat TPL Oleh Pdt. Isak Roedi M.Th. Bruce Milne berkata: “Menurut Alkitab, manusia tidak terdiri dari
beberapa bagian yang digabung, apakah dua bagian atau tiga, melainkan merupakan
kesatuan psikosomatis. Istilah yang digunakan Alkitab -- "tubuh",
"jiwa", "roh", "hati", "akal budi" dan
sebagainya -- kesemuanya hanya merupakan cara yang berbeda-beda untuk melihat
pribadi yang satu itu.” Bruce Milne, Mengenali
Kebenaran
(Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993), 137.




[13] Hoekema, Manusia:
Ciptaan Menurut Gambar Allah
, 280.




 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

ShareThis