Friday, November 30, 2012

Home » » NIHILISME DAN EKSISTENSIALISME

NIHILISME DAN EKSISTENSIALISME







 Pengertian
Nihilisme





Nihilisme
(Lat. Tidak menerima apapun) adalah
sebuah pandangan filosofi yang sering dihubungkan dengan Friedrich Nietzsche.
Nihilisme merupakan istilah umum untuk aliran-aliran Filsafat yang menyatakan
bahwa pada dirinya sendiri realitas akhirnya tidak mempunyai makna,[1] bahwa
dunia ini, terutama keberadaan manusia di dunia, tidak memiliki suatu tujuan.
Nihilis biasanya memiliki beberapa atau semua pandangan ini: tidak ada bukti
yang mendukung keberadaan pencipta, moral sejati tidak diketahui, dan etika
sekular adalah tidak mungkin. Karena itu, kehidupan tidak memiliki arti, dan
tidak ada tindakan yang lebih baik daripada yang lain.


Nihilisme apabila dilihat dari
bentuk kata kerjanya berarti meniadakan, membasmi, memusnahkan, menghapuskan,
dan melenyapkan segala eksistensi. Terminology ini dipakai Nietzsche untuk
menggambarkan bahwa apa saja yang dulu dianggap bernilai dan bermakna kini
sudah mulai memudar dan menuju keruntuhan. Dunia ini terutama keberadaan
manusia di dunia tidak memiliki tujuan.


Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia Nihilisme berati paham aliran filsafat sosial yang
tidak mengakui nilai-nilai kesusilaan, kemanusiaan, keindahan dsb, juga segala
bentuk kekuasaan pemerintahan, semua orang berhak mengikuti kemauannya sendiri.





Pengertian
Eksistensialisme


             


Para penganut paham ini tidak ada kesepakatan tentang
definisi eksistensialisme. Namun jika dilihat dari kata dasar eksistensi adalah
exist yang berasal dari bahasa Latin ex
yang berarti keluar dan sistere
berarti berdiri. Sehingga eksistensi adalah berdiri dengan keluar dari diri
sendiri. Artinya dengan keluar dari dirinya sendiri manusia sadar tentang
dirinya sendiri; ia berdiri sebagai aku atau pribadi.


Eksistensialisme
adalah aliran filsafat yang pahamnya berpusat pada manusia individu yang
bertanggung jawab atas kemauannya yang bebas tanpa memikirkan secara mendalam
mana yang benar dan mana yang tidak benar. Sebenarnya bukannya tidak mengetahui
mana yang benar dan mana yang tidak benar, tetapi seorang eksistensialis sadar
bahwa kebenaran bersifat relatif, dan karenanya masing-masing individu bebas
menentukan sesuatu yang menurutnya benar.


Eksistensialisme
adalah salah satu aliran besar dalam filsafat, khususnya tradisi filsafat
Barat. Eksistensialisme mempersoalkan keber-Ada-an manusia, dan keber-Ada-an
itu dihadirkan lewat kebebasan. Pertanyaan utama yang berhubungan dengan
eksistensialisme adalah melulu soal kebebasan. Apakah kebebasan itu?
bagaimanakah manusia yang bebas itu? dan sesuai dengan doktrin utamanya yaitu
kebebasan, eksistensialisme menolak mentah-mentah bentuk determinasi terhadap
kebebasan kecuali kebebasan itu sendiri.[2]   


Ada
juga yang mendefinisikan sebagai
aliran filsafat yang pahamnya berpusat pada manusia individu
yang bertanggung jawab atas kemauannya yang bebas tanpa mengetahui mana yang benar
dan mana yang tidak benar.





Perbandingan





Nihilisme,
paham ini jelas menolak adanya Allah yang berkuasa dalam menciptakan alam
semesta dan berusaha untuk menghilangkan eksistensi dunia ini, secara
khusus eksistensi manusia tentang makna, tujuan, kebenaran yang komprehensif
dan nilai yang esensial. Paham ini menganggap bahwa manusia tidak diciptakan
oleh Tuhan, tetapi melalui evolusi dari seekor kera. Paham ini percaya bahwa
tidak ada kehidupan setelah kematian, yang ada hanyalah hasrat untuk bertahan
hidup.


Kelemahan
dari paham Nihilist adalah bahwa Nihilist tidak memiliki pertanggung jawaban
secara moral untuk segala perilaku yang dilakukan, khususnya berkaitan dengan
hal-hal negatif.


Sedangkan
Eksistensialisme menekankan tema eksistensi pribadi yang dibandingkan
dengan eksistensi manusia secara umum. Penekanan dari Eksistensialisme adalah
bahwa seseorang dapat menilai dan menetukan sesuatu oleh tindakannya dan
pilihannya sendiri (tidak bergantung dari standard moral yang berlaku baik
secara tertulis ataupun secara lisan). Dalam hal ini “pilihan” menjadi evaluasi
tertinggi dari tindakan yang akan diambil oleh seseorang.


Kelemahan
dari eksistensialisme: (1) standar moralitas (benar atau salahnya) perilaku
seseorang dalam masyarakat, bukan ditentukan oleh pribadi seseorang, melainkan
norma, aturan atau hukum yang menjadi kesepakatan di dalam masyarakat itu; (2)
Eksistensialist mengabaikan nilai-nilai moralitas secara objektif.


           













[1] Kamus Teologia, Gerald O’C dan Edward G
Farrugia (Yogyakarta: Kanisius, 1996), 216.





[2]
http://id.wikipedia.org/wiki/Eksistensialisme




2 comments:

Thanks so much for taking the time to leave a comment :)

 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

ShareThis