Monday, December 31, 2012

MENEBUS WAKTU









Bagaimana kita memandang sesuatu akan
mempengaruhi cara kita memperlakukannya. Demikian pula dengan waktu. Cara kita
mengartikan waktu akan mempengaruhi kita memperlakukan waktu itu. Semua manusia
dikaruniakan waktu yang sama yakni 24 jam. Namun ada orang yangg 24 jamnya
dimanfaatkan dengan baik sebaliknya ada juga yang menyia-nyiakannya. Konsep
tentang waktu dipengaruhi oleh pemikiran dunia tentang waktu itu sendiri.
Ajaran dunia tentang waktu:





1. Waktu adalah uang





Waktu itu sama berharganya dengan uang.
Paham ini dilatarbelakangi oleh jiwa materialisme dari dunia Barat yang
mengukur segala sesuatu dari asas manfaat (Utilitarianisme). Namun Alkitab
berkata waktu adalah hidup. Sama dengan hidup diberikan Allah dengan mandat
demikian juga dengan waktu. Karena itu waktu tidak hanya bicara keuntungan
pribadi tapi anugerah Allah yang oleh waktu itu kita melakukan sesuatu yang
kemudian kita berikan untuk Allah.





2. Waktu itu melingkar





Konsep ini ada di dunia Timur. Hidup
mereka tidak akan berakhir. Selalu ber-reikarnasi. Meski tak ada konsep itu
dalam hidup, namun tanpa kita sadari kita menjalankan konsep tersebut. Misalnya
menunda sesuatu karena menganggap besok masih ada waktu. Menunda adalah
kebiasaan yang kita bangun yang lama kelamaan menjadi sebuah kebiasaan. Berapa
sering kita menunda apa yang Tuhan inginkan dalam hidup kita?





Lalu apa kata Alkitab?





Waktu itu linier. Dimana jika waktu
itu berjalan tidak akan terulang lagi. Belum tentu ada kesempatan buat besok
hari, maka lakukanlah hari ini juga. Karena waktu itu tak akan terulang. Tuhan
beri kita waktu, tapi celakalah kita kalau berpikir waktu itu masih panjang
sedangkan kita tidak tahu berapa waktu kita. Karena waktu/kesempatan itu tidak
akan terulang, terbatas dan merupakan anugerah Tuhan, maka pergunakanlah
waktumu dengan benar. Evaluasi waktu yang kita gunakan belakangan ini. Tebus
itu. Bagaimana kita bisa tebus?





Yang bisa kita lakukan:





1. Gunakan waktumu untuk Tuhan 





Gunakan waktumu untuk memuliakan Tuhan.
Gunakan 24 jam waktu kita dalam segala aktifitas kita memuliakan Tuhan.
Melibatkan dan menghadirkan Tuhan dalam hidup kita.





2. Kita harus mengerjakan sekarang





Tidak mudah menghapus kebiasaan
menunda. Tapi ingat waktu tidak akan pernah terulang. Ketika kita diberi hidup
jangan sia-siakan. Ketika hari ini Tuhan masih beri kesempatan memberitakan
kabar keselamatan jangan tunda, kabarkan. 





Hidupilah hidupmu setiapa hari
seolah-olah itu adalah hari terakhirmu di dunia. Jangan sia-siakan waktu karena
tiap waktu itu istimewa. Bahkan kita bisa membuatnya lebih istimewa. 





Tinggal menghitung jam tahun 2012 akan
berakhir, apakah kita telah memakai waktu untuk Tuhan?


Apa resolusimu mengawali tahun 2013?












Saturday, December 29, 2012

JOURNALING



"These commandments that I give you today are to be upon your hearts."


(Deuteronomy 6:6)







Have you ever tried journaling? As a spiritual discipline, journaling involves writing down your thoughts and responses as you sit in God's presence and read or reflect on Scripture, on how God is working in your life, or on anything else that is affecting you.





Keep an empty spiral notebook and a pen handy as you practice lectio divina or as you sit quietly in an attitude of receptivity to God. remember: the disciplines often combine.





with your notebook open, write down all the thoughts that come to you. These thought do not have to be planned out or organized. They are for no one's eyes but your own-unless you choose otherwise. You may want to share them in confidence with a spiritual mentor or a friend who is walking closely with you in your spiritual journey. Write as much or as little as you can each day, and date the entries.



It's not necessary to go back and read what you have written, but after a time it you can help to look back on some pages. Note now you have changed. Has God written his commands in your heart as you have written them on paper? Perhaps some of the things you wrote will surprise you with their depth of perception in hearing God's voice or experiencing his presence. You can listen to God even when you're the one doing the writing.



Prayer:



O God, author of every good word, thank you for your Word. Help us experience your living presence from your Word as you write that Word into our hearts and lives. Amen.


Saturday, December 22, 2012

FANTASTIS VIDEO GANGNAM STYLE DITONTON 1 MILYAR ORANG









Fantastis itulah gambaran untuk penyanyi rap asal Korea
Selatan Psy, bagaimana tidak karya fenomenalnya “Gangnam Style” mencatatkan
sejarah baru dalam dunia maya. Video musik Gangnam Style di tonton 1 milyar
kali dihampir 75 negara, dengan rata-rata di lihat 200 juta orang per bulannya
di Youtube . Wow fantastis!




Sejak diunggah 15 Juli tahun lalu,
Gangnam Style dengan lagu dan dansa kuda yang atraktif berhasil membius dunia
dengan daya tarik universalnya yang kemudian bisa diterima oleh masyarakat
dunia.


Prestasi Gangnam Style yang dicapai
dengan hanya butuh 5 bulan ini kemudian menggeser popularitas “Baby” milik
Justin Bieber yang sebelumnya memegang rekor video terbanyak di tonton di situs
Youtube. Pemilik YouTube, Google, mengatakan video itu telah ditonton rata-rata
tujuh juta sampai 10 juta kali sehari.


Psy memang di tempat asalnya sudah
tenar, namun mendadak pada pertengahan 2012 pria berusia 34 tahun ini menjadi
selebriti dunia, saat Gangnam Style miliknya menyebar dengan cepat ke seluruh
dunia melalui internet. Tidak hanya itu saja awal bulan ini Google mengumumkan
"Gangnam Style" menjadi daftar pencarian kata tertinggi kedua tahun
2012 di belakang Whitney Houston, yang meninggal pada bulan Februari.




Di Indonesia sendiri, Gangnam Style masuk
daftar 10 video terpopuler di Youtube Indonesia. Sampai-sampai, ada aksi
sekitar 1.000 orang melakukan dansa bersama
(flash mob)
di Bundaran HI, Jakarta.




Gangnam Style juga menarik minat
orang-orang di berbagai penjuru dunia untuk membuat video parodi serupa.
Beberapa di antaranya ditonton jutaan kali. Video fans terhadap Gangnam Style
telah dilihat lebih dari 20 juta kali setiap harinya. Wow fantastis!


Friday, December 21, 2012

DOES GOD EXIST?


 DOES GOD EXIST? This
is one of the best explanations on the


nature of God that I have ever
seen...




A man went to a
barbershop to have his hair
cut and his beard trimmed. As the barber
began
to work, they began to have a good conversation.
They talked
about so many things and various subjects.

When they eventually touched on the subject of
God,
the barber said: 'I don't believe that God exists.'




'Why do you say that?'
asked the customer.
'Well, you just have to go out in the street
to
realize that God doesn't exist.


Tell me, if God exists, would there be so
many
sick people? Would there be abandoned
children?


If God existed, there
would be neither
suffering nor pain.


I can't imagine a loving God who
would
allow all of these things.'


The customer thought for a moment,
but
didn't respond because he didn't want to
start an
argument.

The barber finished his job and the customer
left the
shop.


Just after he left the
barbershop, he saw a
man in the street with long, stringy, dirty
hair
and an untrimmed beard.


He looked dirty and unkempt.The
customer
turned back and entered the barbershop again
and he said to
the barber:


'You know what? Barbers do not exist.'


'How can you say that?' asked the surprised
barber. 'I am here,
and I am a barber. And I
just worked on
you!'

'No!' the
customer exclaimed. 'Barbers don't
exist because if they did, there
would be no
people with dirty long hair and untrimmed
beards, like
that man outside.'

 


'Ah, but barbers DO exist!
That's what happens
when people do not come to me.'


'Exactly!'
affirmed the customer. 'That's the
point! God, too, DOES exist! That's
what
happens when people do not go to Him and don't
look to Him for
help.
That's why there's so much pain and suffering in
the
world.'



If you think God
exists, send this to other
people---


If you think God does not exist, delete
it!



BE
BLESSED &
BE A BLESSING TO OTHERS!


Thursday, December 20, 2012

TREES AND TEAMWORK











By Dr. John C. Maxwell







Pelajaran tentang kepemimpinan
adalah bagi siapa saja yang mau mempelajarinya. Saya telah mengamati beberapa
alasan yang kuat tentang kepemimpinan melalui sebuah tim dari pohon-pohon di
sekitar saya.





Musim dingin yang lalu, beberapa
bagian dari tenggara Amerika Serikat, termasuk Atlanta dimana saya tinggal,
mengalami musim dingin yang lebih sulit dari biasanya. Dalam keadaan yang basah
dan salju dengan ketinggian 6 inci, pohon-pohon cemara memberikan sebuah
perumpamaan yang sangat berarti akan perlunya kerjasama tim.





Sepanjang jalan saya mencatat
bahwa ketika menjadi tinggi, pohon cemara yang muda tumbuh di bidang yang luas,
meskipun ranting-rantingnya ditimpa oleh salju yang berat, batang dan
ranting-rantingnya mampu untuk bersandar satu dengan yang lainnya, saling
mendukung. Ketika saljunya mencair, ranting-ranting dari pohon tersebut kembali
ke posisi semula. Tetapi ketika jenis pohon yang sama berdiri sendiri, akibat
dari timpaan salju tersebut tentulah membawa akibat yang berbeda.
Ranting-rantingnya akan membengkok hingga patah. Kadang-kadang, batangnya
terbelah menjadi dua. Akibatnya, pohon muda tersebut menjadi rusak diatas
salju.





Di pantai Barat, tempat tinggal
saya yang lama, jenis pohon yang beda memberikan pelajaran lain yang sangat
dramatis. Pohon ‘giant redwoods’ hanya dapat mencapai ukuran yang besar di
hutan ‘redwoods’. Sistem pengakaran dari pohon yang besar ini cenderung pendek.
Tumbuh sendiri, mereka pasti roboh bila angin kencang. Tetapi di hutan
‘redwoods’, akar-akar mereka saling berkait satu dengan yang lain di bawah
permukaan bumi. Setiap pohon tertambat bersama pohon-pohon di sekitarnya, dan
dengan bersama mereka dapat bertahan dari serangan angin topan.





Pemimpin yang bekerja sendiri
akan mengalami kegagalan sendiri. Kepemimpinan bersama membutuhkan lebih banyak
kekuatan, tetapi menghasilkan hasil yang lebih besar. Kepemimpinan bersama
menghabiskan lebih banyak waktu, tetapi memberikan kemungkinan lebih besar
untuk berhasil. Pepatah yang mengatakan ‘Tanpa kami adalah sama baiknya dengan
kami semua’ menjadi jelas ketika kegagalan adalah hasil langsung  dari kegagalan untuk mendapatkan inputan dari
anggota tim anda.





1. Rencanakan bersama





Hal ini mengajarkan dirimu untuk
membagi kemenangan dengan tim-mu, dan  
mengajarkan tim-mu untuk menanggung kekalahan.





2. Persiapkan bersama





Dapatkan masukan dari anggota tim
tidak hanya akan memperbaiki kesempatanmu untuk berhasil, itu juga menyiapkan
yang lain untuk menjadi pemimpin. Ketika pemimpin dan calon pemimpin yang
potensial bekerjasama, mereka belajar satu sama lain tentang metode baru untuk
memproses informasi dan merencanakan strategi yang tepat.





3. Rayakan bersama





Jangan pernah memberikan alasan
untuk melewatkan pesta.  Satu dari
kekurangan yang umum yang saya lihat dalam kepemimpinan di hampir semua negara
adalah ketika mereka meraih kesuksesan, mereka segera menset rencana yang lain
tanpa berhenti dahulu untuk merayakan dan mengevaluasi keberhasilan
mereka.  Lakukan itu! Bukan untuk dirimu,
tetapi untuk setiap orang yang telah berperan dalam mewujudkan keberhasilan
tersebut. Dan jika mengalami kegagalan, …hadapi kenyataan tersebut bahwa itu
mungkin dapat lebih buruk.





4. Saling berkomunikasi.





Setelah berhasil atau gagal,
aturlah pertemuan untuk membicarakan dan mencari tahu dari setiap pengurus apa
yang baik -dan apa yang seharusnya dapat lebih baik. Kalian akan melihat
situasi dari beberapa pandangan, dan juga akan melihat siapa dalam tim yang
kemampuannya bertumbuh untuk mengatasi kesuksesan dan kegagalan.


Ketika kamu mengambil pelajaran
dari pohon-pohon, kamu akan dapat keluar dari masalah-masalah kehidupan dengan
baik!





Editor:  Imanuel Suluh


Image: http://redwoods.info/


Tuesday, December 18, 2012

GEREJA SEBAGAI TUBUH KRISTUS DAN MISINYA MEMULIAKAN ALLAH









            Perjanjian Baru memberikan beberapa
gambaran yang terkenal yang dipakai untuk menerangkan tentang gereja. Selain gereja
disebut sebagai bangunan Allah (I Kor 3:9), gereja juga disebut sebagai tubuh
Kristus (Rom 12:4), sebagai mempelai perempuan Kristus (II Kor 11: 2,3), serta
ada gambaran lain yakni pokok anggur dan carang-carangnya (Yoh 15:1-8) dan
kawanan domba yang digembalakan oleh Yesus sendiri (Yoh 10:1-18).[1]
Tetapi dari semua gambaran-gambaran yang diberikan Alkitab, gambaran gereja
sebagai Tubuh Kristus adalah yang paling hidup dan penuh arti, khususnya dalam
kaitan dengan misinya.


            Berkenaan dengan misi gereja Henry
Thiessen menjelaskan setidaknya ada tujuh misi berkaitan dengan mandat yang
diberikan kepada gereja, yaitu: (1) memuliakan Allah, (2) membangun dirinya,
(3) menyucikan dirinya, (4) mendidik angota-anggotanya, (5) menginjili dunia,
(6) bertindak selaku kekuatan penahan dan penerang dalam dunia, dan (7)
memajukan segala sesuatu yang luhur.[2] Perihal
misi gereja, orang Kristen seringkali salah dalam memahami misi utamanya. Orang
Kristen beranggapan bahwa misi utama gereja adalah menginjili, padahal Alkitab
dengan jelas menyatakan bahwa gereja tidak akan memenangkan seluruh dunia bagi
Kristus (Mat. 24:12). Jika demikian apa sebenarnya misi utama gereja berkenaan
Gereja sebagai Tubuh Kristus? Dalam makalah ini penulis akan membahas topik di
atas yakni menjelaskan misi gereja berkenaan Gereja sebagai Tubuh Kristus
dengan beberapa pandangan ahli serta kesimpulan penulis sendiri.





PEMBAHASAN





A.   
GEREJA
SEBAGAI TUBUH KRISTUS


Perihal
gereja sebagai Tubuh Kristus, Paulus memberikan penjelasan kepada beberapa
jemaat yang menjadi tujuan suratnya, misalkan suratnya yang pertama kepada
jemaat di Korintus, dalam I Korintus 12:27.  Bagi Paulus metafora atau kiasan itu
mengekspresikan bagaimana hubungan yang esensial antara Kristus dan gereja-Nya.
Guthrie berpendapat bahwa gagasan gereja sebagai Tubuh Kristus menunjukan
betapa eratnya ikatan yang mempersatukan semua orang percaya.[3]  Everett Ferguson juga berpendapat bahwa yang
ingin ditekankan melalui penggambaran ini adalah pada hubungan yang nyata dan
faktual antara Kristus dan gereja. Hal ini menggambarkan karakter dan sifat
dasar dari gereja. Tubuh dapat ditemukan di dalam kesatuannya di dalam Kristus
dan Kristus memiliki kepenuhan-Nya di dalam jemaat-Nya.[4]


Gereja
sebagai Tubuh Kristus tidak pernah dapat dipikirkan tanpa mempertimbangkan  Kristus sebagai Kepala Gereja. Kristus sebagai
kepala berarti Ia mengendalikan semua anggota Jemaat-Nya. Kristus adalah sumber
kehidupan dan kepenuhan Jemaat, Dia yang paling utama, sehingga gereja tidak
dapat dipisahkan dari Kristus. Demikian pula dalam tubuh gereja ada banyak
keanekaragaman, namun segala pertentangan dan persaingan harus ditiadakan,
karena Kristuslah Kepala Jemaat, yang sepenuhnnya berkuasa atas tubuh-Nya. Semua
anggota dipersatukan di dalam Dia sehingga tubuh itu menjadi tanda dari
persekutuan yang mendalam. Dengan demikian melalui kehidupan persekutuan yang mendalam
antara Gereja sebagai Tubuh Kristus dengan Kristus sebagai Kepala Gereja, Allah
dimuliakan dan kemuliaan-Nya dinyatakan kepada dunia.





B.    
MISI
GEREJA ADALAH MEMULIAKAN ALLAH


Fakta
yang tidak dapat disangkal adalah Allah memiliki rencana agung bagi manusia.
Bahwa Allah memuliakan diri-Nya sendiri dengan mempersatukan di dalam Kristus
segala sesuatu (Ef 1:10). Rencana Allah adalah untuk menyatukan dan mendamaikan
manusia dalam Kristus supaya manusia dapat kembali melayani dan memuliakan
Penciptanya. Howard A Snyder mengatakan bahwa: “Rencana Allah adalah pemulihan
ciptaan-Nya, untuk mengatasi, dalam kepenuhan yang mulia, kerusakan yang
dilakukan kepada manusia dan alam karena kejatuhan ke dalam dosa.”[5]
Dengan kata lain Allah melalui Kristus memiliki misi bagi dunia, yaitu menebus
mereka agar mereka dapat kembali memuliakan Allah yang adalah mulia. Yesus
Kristus datang dan membentuk satu komunitas baru dalam dunia, karena misi agung
yang telah ditetapkan Allah sebelumnya yaitu memuliakan Allah.


Kristus
mendirikan gereja-Nya sendiri untuk suatu misi agung yaitu memuliakan dan
menyatakan kemuliaan Allah kepada dunia. Dengan demikian gereja memiliki misi
Kristus yaitu memuliakan Allah. Gereja sebagai tubuh Kristus harus menyatakan
dan mewujudkan kemuliaan Allah yang tidak kelihatan itu kepada dunia, agar
dunia dapat melihat kemuliaan Allah. Harun Hadiwijono mengatakan: “Jemaat
adalah tubuh Kristus, jemaat harus menampakkan Kristus di dalam  hidupnya seperti halnya dengan tubuh
menampakkan hidup orang yang memiliki tubuhnya. Di dalam cara hidupnya harus
menampakkan hidup Kristus, yang harus diterangi oleh terang Kristus dan di
bawah kuasa Kristus yang mendatangkan berkat.”[6]   


Reputasi
dan opini tentang Allah di dalam dunia dan surga tergantung sejauh mana
kemuliaan-Nya dilihat dan dinyatakan oleh gereja yaitu tubuh-Nya sendiri.[7]  Dengan kata lain kemuliaan Allah dinilai dunia
sejauh mana orang percaya hidup. Lalu bagaimana Allah dapat dimuliakan lewat
gereja-Nya? Thiessen menyebutkan tiga hal bagaimana Allah dimuliakan lewat
gereja; (1) Kita memuliakan Allah dengan menyembah Dia dalam Roh dan Kebenaran,
(2) muliakan Allah dengan doa dan puji-pujian, dan (3) kita memuliakan Allah
dengan menjalani kehidupan yang saleh.[8]


Memuliakan
Allah adalah misi utama gereja. Gereja yang telah ditebus oleh darah Kristus
harus memuliakan Allah dalam dunia ini. Dengan demikian dunia bisa melihat
wujud kemuliaan Allah melalui gereja.





KESIMPULAN


Setelah
pembahasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa gereja tidak bisa terlepas dari
Kristus yang merupakan Kepala Gereja. Kemampuan gereja untuk mewujudkan misinya
memuliakan Allah tergantung dari relasinya dengan Kristus sebagai kepala Gereja.
Kemudian panggilan misi utama gereja adalah memuliakan Allah, dengan demikian
gereja harus senantiasa hidup memuliakan Allah, karena dunia melihat dan menilai
kemuliaan Allah melalui kehidupan gereja dalam dunia.













[1] Perihal gambaran gereja  Henry 
Thiessen secara khusus membahasnya dalam bagian pembahasan gereja yang universal. Henry Thiessen, Teologi Sistematika (Malang: Gandum Mas,
2008), 477.





[2] Thiessen, Teologi Sistematika, 509-514.





[3] Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru (Jakarta: BPK
Gunung Mulia, 2001), 71-72.





[4] Everett Ferguson, The Church of Christ, A Biblical
Ecclesiology Today
(Grand Rapids: Eerdmans, 1996), 94.





[5] John Stott , Johannes Verkuyl,
Howard A. Snyder, Misi Menurut Perspektif
Alkitab
(Jakarta: Komunikasi Bina Kasih, 2007), 154.





[6] Harun Hadiwijono, Iman Kristen (Jakarta: BPK Gunung Mulia,
1991), 374.





[7] Bahan kuliah Eklesiologi Joshua
Ong Ph.D, di STT IMAN, tanggal 2 Mei 2012. Thiessen menjelaskan bahwa tujuan
utama manusia adalah memuliakan Allah. Hal ini sama benarnya bagi orang percaya
secara pribadi maupun bagi gereja secara keseluruhan. Thiessen, Teologi Sistematika, 509.





[8] Thiessen, Teologia Sistematika, 509-510.




 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

ShareThis