Friday, July 29, 2011

ONE DAY AT A TIME




The most useless thing to do ...


........Worry






The
greatest Joy..........



.......Giving


The
greatest
loss.................Loss of
self-respect




The
most satisfying work......

.Helping
others


The
ugliest personality
trait......................Selfishness


The most endangered
species...................Dedicated leaders


The greatest "shot in the
arm"..................Encouragement

The
greatest problem to
overcome.........

...Fear



Most
effective sleeping
pill...........


...Peace
of mind


The
most crippling failure
disease.....


....Excuses


The
most powerful force in life..............



........Love


The
most dangerous
pariah.................................A gossiper



The world's most incredible computer...


...The
brain !



The
worst thing to be without...................Hope


The
deadliest weapon....


The tongue.......



The two most power-filled words..............."I
Can"



The greatest asset..............


...Faith


The
most worthless emotion................Self-pity


The most prized possession................Integrity


The
most beautiful attire................



...A
SMILE!


The
most powerful channel of
communication.....

...Prayer

The
most contagious spirit............


.....Enthusiasm


The
most important thing in
life.......


........GOD











Everyone
needs this list to live by...pass it along!!!

Thursday, July 28, 2011

SEX: LOVE OR TRUST (The Story Of Amnon)

Amnon dan Tamar
Komisi Nasional Perlindungan Anak melakukan penelitian
terhadap 4.500 pelajar SMP-SMU dibeberapa kota, dan menemukan 97 % pernah menonton film porno; 93,7 % pernah berciuman, petting, dan oral seks; 62,7 % pelajar SMP mengaku sudah tidak perawan; 21,2 % pelajar SMU mengaku pernah aborsi.

Kisah tragis Amnon dan Tamar yang tercatat dalam 2 Samuel 13:1-39 menolong kita memahami fenomena ini.

Ada hal yang saling mendukunng yang menyebabkan tragedi tersebut. Salah satunya Sexual Desire dalam diri Amnon (ayat 1-2). Ketertarikan seksual adalah hal yang normal pada hampir semua orang.
Tidak ada yang salah dalam situasi ini. Remaja memang mulai bisa tertarik
seksual pada lawan jenisnya. Dalam situasi ini, remaja perlu di tolong untuk
memahami apa yang terjadi dan mengerti perbedaan antara cinta, seks dan nafsu.


Amnon dan Tamar tidak berutung, karena ada 3 hal yang mengakibatkan mereka memilih dan melakukan hal yang salah dalam hidup mereka.

Pertama, Amnon memilih bersahabat dengan remaja yang tidak mengerti kebenaran (ayat 3-5). Sahabat adalah hal yang penting dalam kehidupan remaja. Sahabat yang baik dan mengenal kebenaran berpengaruh positif pada remaja. Sebaliknya, sahabat yang tidak mengenal kebenaran berpengaruh sangat negatif. Remaja perlu diberi ketrampilan untuk dapat memilih sahabat yang baik.

Kedua, Amnon hidup dalam lingkungan yang permisif. Hal ini tampak jelas pada ayat 7. Perintah Daud kepada Tamar seperti yang diingini Amnon menunjukan bahwa Daud sebagai ayah dan raja tidak peka terhadap jebakan-jebakan dosa seksual. Ketidakpekaan Daud pada jebakan dosa seksual menjadikan dia sangat permisif dalam mengoontrol pergaulan anak-anaknya.

Ketiga, Amnon bertemu denngan remaja putri yang kompromis, sebagaimana yang diceritakan dalam ayat 8. Tamar adalah remaja putri yang baik dan cenderung lugu. Tamar mungkin berpikir, di luar sana semua orang baik-baik, tidak ada yang jahat. Tamar adalah korban dari orangtua dan lingkungan yang permisif. Sangat besar kemungkinan dia tidak pernah di ajari untuk waspada pada jebakan-jebakan dosa seksual dalam pergaulan remaja. Sehingga dia sangat mudah diperdaya oleh pemuda licik seperti Amnon. Bahkan ketika bahaya sudah didepan mata Tamar memilih untuk tetap bersikap santun dan tanpa
perlawanan yang berarti (ayat 9-14).

Orangtua, sekolah dan gereja harus mengajarkan sikap dan tidakan hidup yang tegas, tanpa kompromi. Berani melakukan perlawanan, menghindari berbagai jebakan dosa seksual, selalu mengingat dan waspada bahwa banyak orang jahat di luar sana. Sikap yang baik, santun, harusdiimbangi dengan kewaspadaan berbagai bahaya yang jadi mengancam.

Setelah terjadi hubungan seks pranikah, Amnon malah membenci Tamar. Akibatnya, Absalon membenci dan membunuh Amnon. Dosa seksual, air mata dan darah terus mengalir dalam kehidupan keluarga Daud. Sebuah tragedi yang seharusnya bisa dicegah.
Andapun bisa mencegah tragedi seperti ini terulang dalam keluarga Anda sendiri.

Bila remaja Anda telah jatuh cinta, pastikan mereka memiliki sahabat-sahabat yang baik.
Orang tua, sekolah dan gereja bisa menjadi sahabat-sahabat yang baik.. pastika
orangtua, sekolah dan gereja terus menerus menyampaikan reglasi dan standar
kekudusan seksual kepada mereka. Tolonglah agar mereka memiliki sikap dan
tindakan hidup yang tidak berkompromi terhadap dosa seksual.

Sumber: Majalah Bahana,
Edisi Maret 2009 oleh Dr. Andik Wijaya, M.Rep.Med.








Kekudusan Umat Israel dan Hubungannya dengan Kehidupan Kita Masa Kini
















PENDAHULUAN













         Ketika bangsa Israel hidup di tanah Mesir, mereka
mengenal kepercayaan orang-orang Mesir yang menyembah allah-allah lain. Mereka
berada di lingkungan yang tidak percaya kepada Allah. Sehingga setelah mereka
keluar dari tanah Mesir, kepercayaan itupun mempengaruhi sikap hidup mereka di
hadapan Allah, kehidupan mereka tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Itulah
sebabnya Allah memberi firman-Nya yang penuh dengan pernyataan, larangan dan
juga perintah. Allah menunjukkan bahwa Dia adalah Allah yang Esa yang patut
disembah, Dia Allah yang kudus yang penuh dengan keteraturan hidup yang kudus
serta yang menuntut kekudusan. Aturan, perintah dan tuntutan Tuhan tersebut
banyak terdapat di dalam kitab Imamat. Sehingga kitab Imamat dianggap sebagai
buku panduan pelaksanaan korban dan upacara pengudusan, serta panduan untuk
hidup kudus di hadapan Allah dengan satu alasan yaitu sebab Dia adalah Allah
yang kudus (19:2). Ayat tersebutlah yang menjadi kunci dan tema utama pada
kitab Imamat.













           Dalam kesempatan ini penulis akan membahas tentang
apa yang dimaksudkan dengan 'kudus', arti dikuduskan bagi Tuhan, pentingnya
kekudusan bagi bangsa Israel, serta hubungannya dengan masalah kehidupan
(etika, perbuatan, perkataan, isi hati, serta kasih). Satu harapan penulis
dalam tulisan ini yaitu supaya apa yang pernah diajarkan oleh Allah dulu kepada
bangsa Israel bisa menjadi pelajaran juga bagi setiap umat Kristen khususnya
pada masa sekarang.















PEMBAHASAN













          Kekudusan adalah tema utama dalam kitab Imamat.
Tema ini dijabarkan dengan berbagai peraturan yang mengatur tiga aspek
kehidupan umat, yaitu kehidupan ibadah, hal-hal yang berkaitan dengan
ketahiran/kenajisan, dan kehidupan sehari-hari. Ketiga aspek ini  mau menjelaskan kehidupan umat yang berpusat
pada ibadah. Ibadah yang kudus hanya bisa dilakukan oleh umat yang menjaga
kehidupan sehari-harinya kudus. Sedangkan aturan ketahiran/kenajisan terletak
di antara kedua aspek kehidupan itu. Umat Tuhan bukan hanya harus hidup kudus
sehari-hari, tetapi juga dituntut bersih secara fisik sehingga umat layak
mendekat pada Tuhan saat ibadah dalam kemah suci.













             Banyak orang Kristen yang mengartikan kekudusan
itu bersih tanpa dosa. Jika demikian berarti hanya satu yang tidak berdosa
yaitu Tuhan Yesus. Kudus adalah segala sesuatu yang dikhususkan dari kebiasaan
atau hal-hal yang di duniawi[1]. Jika demikian kekudusan tentunya bisa dikejar
oleh setiap orang. Dalam mencapai kekudusan, di satu sisi manusia harus aktif
dan sisi lain manusia pasif sedangkan yang aktif adalah Allah, seperti yang
dikatakan oleh Rasul Paulus di dalam II Tim 2:21 (manusia menyucikan diri,
namun ia juga dikuduskan). Jadi, yang pertama adalah manusia itu sendiri
berusaha untuk menyucikan dirinya sendiri, dan inilah yang dituntut oleh Allah
dalam Imamat, sedangkan yang kedua adalah dikuduskan, artinya bukan manusia
yang menguduskan dirinya sendiri seperti ungkapan Stephen Tong yang mengatakan,
”Manusia (orang Kristen khususnya) dapat dikatakan kudus secara status setelah
Allah menguduskannya.”[2] Oleh sebab itu, kekudusan tidak terlepas dari
perbuatan Tuhan.













1.   
Pengertian Kudus dan dikuduskan bagi Tuhan




















Pengertian Kudus













           Kata kudus dalam bahasa Ibrani adalah qadosy yang
artinya dipisahkan atau dikhususkan. Makna dasar adalah: ’menyendirikan’, dan
’cemerlang’. Harun Hadiwijono mendefinisikan kata kudus dengan singkat, dia
mengatakan, “Kata kudus berasal dari pokok kata Ibrani yang berarti:
memisahkan.[3] Yacob Milgrom juga mendefinisikan kata kudus ini hampir sama
dengan definisi tersebut di atas akan tetapi dia memberikan satu pernyataan
yang penting dalam definisinya tersebut. Yacob Milgrom mengatakan  bahwa kata kudus tidak hanya diartikan
sebagai ‘dipisahkan dari’ tetapi ‘dipisahkan ke’ (Holiness means not only
‘separation from’ but ‘separation to’). 
Ini merupakan sebuah inspirasi dan tujuan serta keinginan Allah terhadap
manusia.[4] Jadi definisi kata ‘kudus’ tersebut mengarah pada status bangsa
Israel yang dipisahkan, yang dikhususkan bagi Tuhan serta statusnya yang
berbeda dengan bangsa-bangsa yang lain.













         Akan tetapi, pengertian Alkitab tentang kekudusan
tersebut tidak terbatas pada pengkhususan dan pemisahan (bicara status),
malainkan bicara mengenai moral dan perilaku manusia juga. Benar bahwa
penggunaan kata kudus dalam Im 19:2, “Aku (Allah) adalah kudus menerangkan bahwa
status Allah adalah terpisah, namun dalam statusnya yang terpisah tersebut
terlihat juga moral Allah yang adalah kudus. Allah bersifat rohani dan manusia
bersifat jasmani, Allah terpisah (terlepas) dari dosa sedangkan manusia
berdosa. Oleh sebab itu, kesempurnaan Allah secara moral menjadi bagian dari
konsep kekudusan-Nya dan menjadi tuntutan-Nya bagi umat pilihan-Nya agar hidup
kudus di hadapan-Nya. Sehingga pengertian daripada kata ‘kudus’ tidak hanya
menunjukkan status melainkan  moral
seseorang juga.













          Sesuai dengan pengertian tersebut di atas, maka
arti daripada ‘dikuduskan bagi Tuhan’ yaitu hidup dipisahkan dari cara dunia
dan dipisahkan kepada cara Allah. Hidup kudus menuntut pemisahan dari dunia
untuk dipersatukan kepada Allah. Sehingga oleh karena bangsa Israel merupakan
umat pilihan Allah maka selayaknya hidup mereka dikhususkan/dipisahkan untuk
Tuhan, cara hidup mereka mengikuti cara Allah sebagai bentuk pemeliharaan
hubungan Israel sebagai umat yang terpilih dan juga sebagai bentuk peresekutuan
yang utuh dan benar antara Israel dengan Allah. sehingga mereka terlihat pisah
dan berbeda dengan yang lain.













2.     
Pentingnya kekudusan bagi bangsa Israel




















a.     
Menyatakan kekudusan Allah













             Tuntutan Allah agar bangsa Israel menjadi kudus
merupakan tuntutan yang sangat penting dan berguna. Allah menyampaikan
tuntutan-Nya kepada bangsa Israel tersebut dengan sebuah alasan yang tepat
yaitu karena status-Nya yang kudus. Bangsa Israel dituntut untuk hidup kudus
sebagaimana Allah adalah kudus dengan tujuan supaya kemuliaan-Nya dan
kekudusan-Nya menjadi nyata melalui umat pilihan-Nya tersebut (Im 10:3).
Seperti pandangan yang tertulis di dalam Ensiklopedi Alkitab Masa Kini,













         “Para nabi menyatakan bahwa Allah menghendaki
untuk mengkomunikasikan kekudusan-Nya kepada makhluk ciptaan-Nya, dan
sebaliknya Dia menuntut kesucian dari mereka. ‘Apabila Aku ini kudus adanya’,
demikianlah pernyataan Allah sendiri yang mengangkat hakikat diri-Nya
mengungguli makhluk ciptaan-Nya, demikianlah ‘hendaknya kamu kudus’ adalah
seruan Allah bagi makhluk cipataan-Nya, supaya mereka dapat menjadi orang yang
mengambil bagian dalam kekudusan-Nya (Ibrani 12:10).”[5]













           Dalam Im 19: 2, Tuhan menghendaki supaya umat-Nya
meniru kekudusan-Nya, dan memang inilah yang menjadi tujuan hidup umat Tuhan
setelah menerima keselamatan dari Tuhan yang Kudus yaitu menjadi kudus di
hadapan Tuhan, seperti yang dikatakan oleh Gordon J. Wenham bahwa Rakyat Israel
ada untuk meniru Allah yang adalah kudus. Dengan demikian kemuliaan Allah
menjadi nyata.[6] Menurut Groenen, “Kekudusan Allah harus nyata dalam tata
hidup segenap umat-Nya, baik para imam maupun rakyat pada umumnya.”[7]  Itulah yang menjadi tugas setiap umat Allah.
Sehingga, ketika umat Tuhan mampu hidup kudus di hadapan Tuhan, maka kekudusan
Allah menjadi terwujud. Dan sebagai landasan dalam mencapai kekudusan itu
adalah kekudusan Allah yang dianugerahkan-Nya kepada setiap orang yang percaya,
tanpa anugerah Allah maka tidak ada seorangpun yang telah kudus adanya selain
Allah. Sebab tidak ada seorang pun yang kudus di dunia ini sebelum  Tuhan menguduskannya.













b.     
Membedakan umat Allah dengan yang bukan umat Allah













        Kekudusan
bagi Tuhan juga penting untuk membedakan yang mana umat Allah dan mana yang
bukan umat Allah, yang mana pengikut Tuhan dan yang bukan pengikut Tuhan. Sikap
moral manusia menunjukkan siapakah dirinya, dan bagaimana hubungan-Nya dengan
Allah. Kekudusan dalam pikiran, perkataan dan perbuatan inilah yang membedakan
umat Allah dengan yang bukan umat Allah. Sebab umat dituntut untuk tidak serupa
dengan dunia ini dalam hal moral (Roma 12:2). Jadi dengan hidup kudus maka umat
Allah berbeda dengan orang yang bukan umat Allah.













c.      
Menjaga hubungan yang utuh (antara bangsa Israel ‘sebagai umat pilihan’
dengan Allah)













          Sebagaimana hakikat Allah yang ‘kudus’ atau
‘terpisah’ seperti yang diungkapkan oleh Harun Hadiwijono bahwa di dalam segala
Firman dan karya-Nya di dalam sejarah itulah tampak bahwa Tuhan Allah
benar-benar tidak dapat bersekutu dengan dosa, bahwa Ia benar-benar terpisah
dari dosa, bahwa Ia benar-benar kudus[8] demikian bangsa Israel harus menjaga
kekudusannya di hadapan Tuhan, sebab hanya dengan hidup kudus Allah berkenan
dan mau bersekutu dengan manusia. Oleh karena Allah tidak dapat bersatu dengan
dosa maka Allah juga tidak dapat bersatu dan bersekutu dengan umat yang berdosa
(yang  tidak kudus).













Sesuai dengan tujuan Allah dalam memilih bangsa
Israel yakni untuk menjadikannya sebagai 
umat kesayangan-Nya, untuk dijadikan sebagai  saluran berkat bagi bangsa-bangsa yang lain,
maka tujuan Allah dalam menuntut bangsa Israel untuk hidup kudus pun berkaitan
dengan tujuan pemilihan tersebut. Seperti yang disampaikan oleh  Christoph Barth yang mengatakan, “













          Oleh karena Allah adalah kudus, maka Ia pun ingin
agar umat-Nya menjadi kudus. Dengan menebus bangsa Israel dari Mesir dan dengan
mengikat perjanjian di Sinai, Allah menjadikan Israel milik kesayangan (Kel
19:5). Allah memilih umat-Nya demi tujuan yang jelas, yakni hendak
menjadikannya kerajaan imam, pengantar berkat kaum kepada segala kaum di muka
bumi (Kej 12:3). Untuk menjalankan tugas panggilan itu, umat diberikan petunjuk
dalam bentuk torah, hukum, peraturan, dan sebagainya. Seluruh hukum tersebut
mengarahkan umat pada kekudusan agar dengan nyata ia hidup sebagai milik
Tuhan.[9]













         Bangsa Israel dituntut untuk kudus supaya sebagai
bangsa pilihan dan bangsa pengantar berkat bagi bangsa lain mereka sekaligus
dapat menjadi teladan bagi bangsa lain tersebut. Allah ingin supaya perantara
bagi bangsa lain adalah orang-orang kudus, dan Allah menunjukkan bahwa Dia
hanya mau bekerja sama dan bersekutu dengan orang-orang kudus di hadapan-Nya.













3.      Apa
ada hubungannya dengan masalah kehidupan?













         Perlu diakui bahwa tuntutan untuk hidup kudus
diberikan kepada bangsa Israel berapa ribu tahun yang lalu. Walaupun demikian,
namun tuntutan tersebut masih berlaku bagi setiap umat Allah pada zaman
sekarang. Tuntutan untuk hidup kudus tidak berbeda dengan perintah atau pun
peraturan-peraturan atau hukum Taurat yang diberikan dulu kepada bangsa Israel,
masih tetap berlaku bagi umat Allah pada masa ini. Misalnya dalam Imamat pasal
19 Allah memberi The commands to reverence mother and father (v. 3), to avoid
idols (v. 4), and not to steal, deal falsely, or lie (v. 11) are all applicable
to us.perintah untuk menghormati ibu dan ayah (ay. 3), untuk menghindari
berhala (ay. 4), dan bukan untuk mencuri, menghadapi palsu, atau berbohong (ay.
11) semuanya berlaku bagi kita.













a.      
Etika dalam kekudusan













Menurut Wismoady Wahono, “Kumpulan Imamat,
sebagaimana ditulis oleh para Priester (kaum imam) atau dikenal dengan sumber
P, menjadi semacam penuntun dan panduan orang Israel atas apa yang harus dan
akan harus dilakukan mereka sebagai umat Allah. Hal ini berarti bahwa kekudusan
berkaitan erat dan (lebih) menitikberatkan pada etika Kristen.”[10]













          Kekudusan dinyatakan di dalam integritas moral,
dan etika dalam kehidupan. Ketika Allah menyuruh Musa untuk berbicara kepada
bangsa Israel supaya mereka menjadi kudus, Allah tidak hanya sekedar memberi
perintah tersebut. Allah tidak hanya menuntut umat-Nya supaya hidup kudus tanpa
memberikan cara untuk mencapai kekudusan tersebut. Namun, masing-masing umat
mempunyai kebebasan dalam memutuskan apakah menuruti atau tidak menuruti
kehendak atau perintah Tuhan tersebut.













b.     
Kekudusan dalam perbuatan













        Wujud daripada kekudusan yang dimaksud oleh Tuhan
dalam kitab Imamat dapat terlihat di dalam perbuatan manusia. Seseorang tidak
dapat dikatakan kudus apabila perbuatannya tidak menunjukkan hal kekudusan.
Seperti halnya dengan iman, seseorang tidak dapat dikatakan beriman apabila
tidak dibuktikan dengan perbuatan-perbuatannya (Yak 2:14, 18) demikian juga
dengan tuntutan Allah kepada bangsa Israel. Mereka dapat membuktikan bahwa
mereka telah hidup kudus melalui perbuatan-perbuatan mereka di hadapan Allah
dan juga di hadapan manusia. Kekudusan bangsa Israel nampak dari tindakan
mereka dalam kehidupan mereka sehari-hari, baik dalam tindakan terhadap orang
tua (Im 19:2), tindakan dalam ibadah, dalam mempersembahkan korban (Im 22),
dalam perkawinan (Im 18) dan lain sebagainya.













c.      
Kekudusan dalam perkataan













Kekudusan tidak hanya dapat diwujudkan dalam
perbuatan namun lewat perkataan juga. Di dalam Im 19:11,12, 14 Allah memberi
peraturan kepada umat-Nya dalam masalah perkataan. Allah melarang untuk berkata
bohong, berdusta dan untuk mengutuk orang serta untuk memfitnah.  Allah tidak mengizinkan penggunaan perkataan
secara sembarang.  Lidah yang membentuk
perkataan harus dikekang seperti firman Tuhan di dalam Yak 3:2.













d.      
Kekudusan di dalam hati













         Meskipun sesama hanya bisa melihat bentuk
kekudusan seseorang melalui perbuatan dan perkataan namun, Allah yang adalah
mahatahu juga melihat kekudusan hati setiap umat-Nya. Sesama manusia hanya bisa
melihat kekudusan hati seseorang apabila telah diwujudkan dalam bentuk
perkataan dan perbuatan.













        Tuhan tidak hanya meminta umat-Nya untuk
menguduskan perbuatan dan perkataan saja melainkan seluruh hidup. Itulah
sebabnya dalam Im 19:16-18 membahas kekudusan dalam hati. Di dalam ayat 16
terdapat larangan supaya tidak menyebarkan fitnah dan jangan mengancam hidup
sesama manusia. Di dalam ayat 17 terdapat larangan untuk tidak membenci saudara
di dalam hati, dan di dalam ayat 18 ada larangan supaya tidak menuntut balasan,
tidak menaruh dendam, melainkan harus mengasihi sesama. Firman Tuhan dalam
ayat-ayat ini sungguuh merupakan Firman yang menyatakan bahwa Allah itu mahatau
dan berdaulat, mampu mengatur seluruh kehidupan manusia baik yang dinyatakan
maupun yang tidak dinyatakan lewat perbuatan dan perkataan. Hal ini juga diakui
oleh seorang theolog yang bernama Roy Gane, ia mengatakan,











          “Remarkably, this law controls an internal
attitude that is 'in your heart.' no human legislative body would    dream of
formulating such a decree because not even the FBI, with the latest
surveillance technology, can enforce. the lord can hold people responsible to
love rather than hate or covet because his perception penetrates human  thought.”[11] (Sesungguhnya, hukum ini
mengatur sikap internal yang 'dalam hatimu. "Tidak ada badan legislatif
manusia bermimpi untuk merumuskan keputusan tersebut bahkan FBI, dengan
teknologi pengawasan terbaru, bisa menegakkan. Tuhan bisa menerima orang yang
bertanggung jawab untuk mencintai daripada membenci atau mengingini karena
persepsi-Nya menembus pemikiran manusia).














Dari hukum Tuhan ini dapat dikatakan bahwa Allah
sungguh-sungguh kudus dan tidak mau bercampur dengan kecemaran. Dia juga
melihat dan menilai hati manusia di hadapan-Nya serta Dia berkuasa untuk
mengatur isi hati manusia.













e.      
Kekudusan dalam kasih













         Imamat 19;17-18 menuntut untuk hidup penuh
kedamaian oleh karena kasih. Allah menghendaki agar kesucian-Nya ditunjukkan
oleh umat-Nya ketika mereka mengasihi sesama mereka.It is not that holiness is
manifested only by one's loving one's neighbor, but it is here emphasized that
holiness must include an active love for one's neighbor. Di sini menekankan
kesucian yang harus menyertakan cinta kasih yang aktif untuk sesama. Thus, just
as God's holiness is seen in His love for Israel in the Old Testament, and for
the world in its weakness and need in the New, so God's people must demonstrate
God's holiness as they show love for their neighbors, especially those in need.
Dengan demikian, sama seperti kekudusan Allah terlihat dalam kasih-Nya bagi
Israel dalam Perjanjian Lama, dan bagi dunia. Jadi umat Tuhan harus menunjukkan
kekudusan Allah saat mereka menunjukkan cinta untuk sesama mereka, terutama
mereka yang membutuhkan .













Kesimpulan













       Mengejar kekudusan bukan suatu pilihan melainkan
sesuatu hal yang harus dikerjakan dan butuh pengorbanan. Allah menuntut
umat-Nya untuk kudus sebab Dia kudus. Maksud dari tuntutan Allah ini adalah
supaya kekudusan-Nya boleh diwujudnyatakan dalam kehidupan umat-Nya, supaya
hubungan-Nya dengan umat-Nya selalu terjaga, supaya bangsa Israel menjadi
teladan bagi bangsa yang lain. Kekudusan tersebut dapat dinyatakan lewat cara
hidup sehari-hari, di dalam kehidupan beretika, perbuatan, perkataan, isi hati
dan juga di dalam kasih terhadap sesama. Dan tuntutan kekudusan bagi bangsa
Israel ini merupakan tuntutan juga bagi umat Tuhan pada masa kini.(DW)




















[1] Browning, W.R.F, Kamus Alkitab, (Jakata:
Gunung Mulia, 2007), hal 230.






[2] Stephen Tong, Pengudusan Emosi, (Surabaya:
Momentum, 2007), hal. 5.






[3] Harun Hadiwijono, Iman Kristen, (Jakarta: BPK
Gunung Mulia, 1997), hal 91






[4] Jacob Milgrom, Leviticus 1-16, A New
Translation with Introduction and Commentary, (New York: The Anchor
Bible,1991), 731.






[5] R.A Finlayson, Ensiklopedi Alkitab Masa Kini
A-L, (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 1992), 617.






[6] Gordon J. Wenham, The New International
Commentary on the OT- The Book of Leviticus (William Eermans Publishing
Company, Grand Rapids, Michigan), 264.






[7] Ofm. C. Groenen, Pengantar Ke Dalam Perjanjian
Lama (Yogyakarta: Kanisius, 1980), hal 107.






[8] Harun Hadiwijono, Iman Kristen,  hal 91.






[9] Christoph barth, Marie-Claire Barth, Frommel,
Teologi Perjanjian Lama 1, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008), hal  334.






[10] Wismoady Wahono, Di Sini Kutemukan-Petunjuk
mempelajari dan mengajarkan Alkitab, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1998)










[11] Roy Gane, The New Application
Commentary-Leviticus, Numbers, (Grand Rapids, Michigan Usa: Zondervan, 2004),
337.

Rumput Gue Lebih Asyik dari Rumput Tetangga








Gk mau ah!!...
Suatu waktu saya jalan-jalan di Solo satu hal yang menarik saya untuk berpikir, ada satu space iklan rokok yang terpampang di jalan, bukan bermaksud promosi ya….sekedar
penasaran dengan cerita iklan tersebut yang ternyata sarat makna yang bisa kita tarik maknanya dalam kehidupan kita sehari-hari.


Langsung
aja ceritanya gini jadi ada sekumpulan kambing dalam kandang.
Kumpulan itu tertarik dengan rumput dari kandang sebelah yang lebih hijau dan
lebih subur. Begitu mereka menyatukan visi untuk rame-rame lompat pagar
kandang, hanya seekor kambing yang ngotot ga mau ikut ke rumput sebelah. Maka
ditinggallah si kambing yang satu ini.

Namun ketika para kambing berhasil lompat pagar dan mulai makan rumput yang
hijau tersebut, mereka sadar ternyata rumput ini hanya rumput sintetis…alias
rumput palsu!! Ternyata jebakan dari si Singa. Nah, si kambing yang satu yang
tak mau ikut menikmati rumput tetangganya itu, dengan tetap santai menyantap
rumput dihalamannya tanpa rasa takut, kuatir dan sebagainya. Sambil makan ia
bergumam, “Rumput Gue lebih asik dari Rumput tetangga…”


Saya akhirnya memetik pelajaran dari sini. Kebetulan juga saya pernah khotbah di
komisi pria dan wanita disebuah gereja di Solo dapat tema hampir sama “rumput tetangga lebih hijau?” Intinya, mensyukuri dan menerima apa yang ada saja. Kita harus bersyukur terhadap kondisi apapun pada diri kita. Tanpa kita melihat atau merasa kok orang lain lebih enak, lebih nyaman dibandingakan dengan kondisi atau keadaan kita.


Dari pada kita sibuk melihat, membandingkan keadaan kita dengan orang lain “tetangga” kita, coba untuk merenung sejenak untuk bersyukur pada Tuhan atas hal-hal baik yang Tuhan sudah beri dalam hidupmu.

Renungkan tentang apa yang telah kamu capai, orang-orang yang memperhatikanmu, pengalaman yang telah kamu dapatkan, keahlian dan minat yang kamu miliki, apa yang kamu percayai, dan hal-hal terindah dalam hidupmu. Hal-hal yang kamu hargai, pelihara, dan jaga, akan
terus meningkat dalam hidupmu. Kelimpahan dimulai dengan rasa syukur. Dengan rasa syukur yang tulus, kamu menghargai apa yang telah kamu miliki, yang selanjutnya akan mendorong dirimu secara mental, spiritual, dan fisik – untuk mencapai apa saja yang menjadi tujuan dalam hidupmu.


Seluruh kehidupan kita harus menjadi kehidupan yang terus menerus mengucap syukur, atas apa yang Tuhan beri kepada kita, semua itu milik dan dari Tuhan.(IS)


Monday, July 25, 2011

PACARAN KUDUS











JUEGGGERRR… NGEBUT BIKIN KECELAKAAN! Pernah nyetir mobil? Bisa gak sih nyetir mobil langsung ngebut? Gak bisa lho! Pertama tentunya harus buka pintunya dulu, hehe, lalu masuk, duduk, masukin kunci, starter, masuk gigi satu, gigi dua, gigi tiga hingga gak kerasa udah ngebut di gigi lima! Bener gak? Nah, pas mau berenti juga gak bisa langsung berenti, en kalo udah ngebut resikonya tau sendiri: kecelakaan!       

Begitu juga dalam pacaran yang gak sehat. Mungkin kita-kita mikir gak bakalan jatuh dalam dosa seksual.   Kita en pacar kita udah tau kok kalo itu dosa, apalagi kita berdua udah terlibat dalam pelayanan. Tapi, kok bisa tetep ‘kecelakaan’ ya?  Soalnya kayak nyetir mobil tadi kadang kita gak nyadar kalo kita udah ngebut, gara-garanya kita mulai dengan buka pintu, pelan-pelan masuk ke mobil, mulai muter starter en masuk gigi satu. Dua. Tiga. Cekiiiit… Juegggeeeer! Nggak kerasa. Awalnya cuma ngobrol di tempat sepi, lalu saling bersentuhan, lalu mulai meraba, lalu kissing, petting.. Dan kejadian deh.  Tau gak sih, yang boleh nyetir mobil itu cuma yang udah punya SIM. Yang boleh melakukan hubungan seks itu cuma yang udah punya SIM (Suami Istri Menikah, maksa ya?) juga. So, yang boleh nyetir ya mereka ini. Kita-kita yang belum punya SIM, jalan kaki aja. Cari yang aman. Pacaran bukan ajang kenal-kenalan tubuh, tapi kenal-kenalan karakter en bersahabat. So, sebelum tabrakan… keluar dari mobil dan jalan kaki.

PACARAN KUDUS NGEBOSENIN!?

Apa yang kita pikirin waktu denger kata ‘kekudusan’ dalam pacaran? Pasti banyak dari kita yang mikir soal batasan-batasan, segala gak boleh, ketidakbahagiaan. Aaah, bosen! Kesannya Tuhan itu Tuhan yang nggak fun, nggak suka anakNya seneng. Apalagi film-film, buku en gaya hidup seleb sekarang yang menyamakan antara menjaga kekudusan selama pacaran dengan ketidakbahagiaan en kekunoan en kejadulan!  Nah, kalo kita sampe kepikir kayak gitu, terima aja deh kalo kita sebenernya udah ditipu abis-abisan ama si iblis. Si iblislah yang pengen kita gak bahagia, soalnya yang namanya kekudusan itu sebenernya indah! Bukan sebaliknya. Iblis mendorong pasangan muda buat mengekspresikan rasa cintanya secara bebas dengan dalih agar bisa bahagia en senang. Tapi taukah kita kalo kebebasan yang ditawarkan iblis itu adalah sebuah perbudakan dosa tanpa kita sadari?  Ketika Tuhan meminta kita untuk hidup kudus, Dia sedang memikirkan kebahagiaan kita. Bukan sebaliknya! Lha wong Dia itu Bapa kita kok, masa mikirin supaya kita menderita? Tapi gara-gara roh kita dikuasai sama perbudakan dosa, maka rambu-rambu dari Tuhan itu rasanya kayak rantai belenggu di penjara. Pacaran tanpa bumbu seks rasanya ngebosenin. Otak kita mikirnya seks masa pacaran itu menyenangkan, akhirnya lupa tujuan semula. Justru percayalah, ketika kita menjalani pacaran dengan kudus, maka Tuhan telah menyediakan berkat kebahagiaan pada saat kita menikah dan menjalani rumah tangga nanti!





QUOTES


Menunda berhubungan seks tidak pernah menyakiti siapapun. Saya jamin

(Pam Stenzel – Sex Has A Price Tag) 


Andaikata seks yang Anda berhalakan selama pacaran, justru dalam kehidupan pernikahan Anda dengan istri atau suami Anda nanti, seks tidak akan bisa Anda nikmati. …Yang Anda sakralkan waktu berpacaran, itu yang akan Anda nikmati pada saat menikah nanti.”

(Phillip Mantofa - Before 30) 





PACARAN KUDUS, MUNGKIN GITU?

Nah, tapi mungkin gak sih kita bisa pacaran kudus? Pacaran tanpa ada embel-embel seks? Soalnya survey membuktikan banyak banget anak Tuhan (apalagi yang bukan) yang pacarannya gak kudus. Bahkan banyak diantaranya sudah terlibat pelayanan di gereja! Tenang, biar statistiknya tinggi, jangan mau ikut-ikutan meramaikan statistik itu. Ada banyak pasangan yang bisa buktiin kalo pacaran kudus itu mungkin. Nah, buat kita-kita yang mau pacaran kudus, ini beberapa tips dari hamba-hamba Tuhan yang udah buktiin kalo pacaran kudus itu mungkin.

1. Tau batasan diri. Tiap orang punya ‘batas’ kekuatan sendiri-sendiri. Sampe sejauh mana mereka bisa menguasai diri. Contohnya gini, buat beberapa orang, pegangan tangan itu gak masalah. Tapi buat beberapa orang tertentu pegangan tangan aja bisa bikin mikir yang nggak-nggak. Kebanyakan orang yang pacarannya gak kudus gak nyadar kalo mereka udah melampaui ‘batas’ mereka. Ini penting banget. Kalo kita tau ‘batas’ kita en pasangan kita, en tetap menjaga hubungan kita dalam batas itu, kita gak akan terjebak dalam hubungan yang gak kudus.  Waktu mulai komit buat pacaran, obrolin batasan itu. Sambungkan dengan tujuan kita berpacaran. Cari kesepakatan untuk mengatasi masalah yang mungkin akan terjadi, misalnya tentuin batasan tempat pacaran, batasan mana yang boleh dan tidak boleh, dsb.

2. Jangan ketok pintu pencobaan! Kadang kita suka salah berdoa, ‘Tuhan, beri aku kekuatan agar aku bisa menang dalam pencobaan!’. Padahal Tuhan sendiri bilang: “Jangan masuk dalam pencobaan!’ (kalo gak percaya baca deh: Matius 6:13, Matius 26:41, Lukas 11:4). Artinya jangan sok jago masuk dalam pencobaan, soalnya 99% biasanya bukannya menang malah keok! Hehe. Jangankan masuk, ketok pintunya aja juga mending jangan deh. Misalnya kalo kita yang cowok lemah dalam godaan visual, suka mikir ngeres kalo liat kulit cewek yang mulus, janganlah ketok-ketok pintu en masuk ke pencobaan dengan melirik (atau bahkan melototin) gambar cewek pake rok mini. Langsung tutup majalahnya atau pindahin channel tipinya atau merem sekalian.  Termasuk dalam berpacaran. Kalo memang godaannya besar pas berduaan di tempat sepi, jangan masuk ke tempat sepi. Selalu cari tempat yang aman, ada orang ketiga. Atau ngobrol di tempat umum.
3. Buat cowok, anggap cewek kita itu adik kandung kita. Apa batasan perlakukan kita sama pacar kita. Sebagai cowok, kita bisa ambil patokan firman Tuhan ini: “…Tegorlah orang-orang muda sebagai saudaramu, perempuan-perempuan tua sebagai ibu dan perempuan-perempuan muda sebagai adikmu dengan penuh kemurnian.” (1 Timotius 5:1b-2).  Sebagaimana kita memperlakukan adik perempuan kita (kalo yang gak punya, bayangkan!) begitulah seharusnya kita memperlakukan cewek kita. Penuh kemurnian! Jangan ngelaba, jangan jahat, jangan egois. Lindungi dia sebagai kakak, jagai kehormatannya, sayangi seperti adik kandung. Jadilah cowok sejati.  Kalo ada yang berkilah, “…kalo gitu saya boleh dong cium pipi pacar, soalnya saya juga suka cium pipi adik gue!”, tanyakan betul dalam hatimu, apakah efek ciuman itu beda atau sama? Jangan-jangan itu cuman alasan doang buat membenarkan ketidakmurnian hati kita.

4. Buat cewek, jangan segan tampar cowokmu Beda ama cewek, kata orang, gairah seks ama otak cowok itu gak bisa berjalan bareng. Makanya kalo hasrat seksnya muncul biasanya cowok suka gak bisa mikir. Sekalipun si cowok udah tau resikonya dan bahkan sudah berjanji untuk tidak melakukannya, tapi ketika hasrat seksnya muncul, dia bisa lupa semuanya dan yang terpikir hanya… “ah biarin gimana nanti aja!”. Itulah makanya di film-film Hollywood gampang sekali seorang cewek membujuk atau mencuri sesuatu dari cowok, cukup dengan diangkat gairah seksnya. Dan itu memang kenyataan.  Makanya perlu bantuan dari cewek buat nyadarin otak si cowok biar bekerja. Kalo sudah ada tanda-tanda gak beres, ingetin dia. Kalo maksa terus, langsung tampar aja atau cubit sampe biru. Makanya bilang dari awal, kalo sampe kamu nampar, dia jangan marah, hehe.

5. Libatin ortu sama pembimbing rohani Penting banget punya pembimbing rohani ato ortu yang tau apa yang kita lakuin sama pacar kita. Bukan artinya kita mesti laporan sama ortu ato pembimbing rohani kita apa aja yang kita lakuin pas pacaran. Tapi belajarlah terbuka sama mereka, apa yang jadi masalah kita, apa yang jadi pergumulan kita dalam pacaran. Dengan terbuka begitu, kita juga akan merasa lebih aman, karena ada orang yang lebih dewasa yang mengawasi kita.

Sumber: gfreshmag.blogspot.com


 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

ShareThis