Wednesday, October 31, 2012

Reformasi Gereja dan Perayaan Halloween












Tepat
pada 31 Oktober 1517 Martin Luther memakukan 95 tesisnya di pintu gerbang
gereja istana Wittenberg. Inilah letusan gerakan reformasi sebagai bentuk
penolakan terhadap penjualan Surat Indulgensia (pengampunan dosa) yang
dilakukan pada masa pemerintahan Paus Leo X untuk pembangunan gedung Gereja
Rasul Petrus di Roma dan pelunasan hutang Uskup Agung Albrecht dari Mainz
(Wellem 1999). Situasinya pada waktu itu, gereja tidak lagi mengajarkan ajaran
yang sesuai dengan kebenaran Alkitab. Pemimpin gereja Katolik berusaha
mendapatkan uang sebanyak-banyaknya untuk membiayai renovasi gedung gereja
Basilika Santo Petrus di Roma, dengan memperjualbelikan surat
indulgensia. Dengan demikian gereja Katolik mengajarkan bahwa keselamatan
tidak berdasarkan pada anugerah Tuhan melalui iman, tetapi melalui surat
pengampunan dosa yang dikeluarkan gereja.


Dalam
situasi seperti inilah Martin Luther dengan berani menentang dan mereformasi
gereja untuk membawa gereja kembali kepada kebenaran firman Tuhan. Peristiwa
ini menjadi tonggak sejarah kekristenan yang kemudian diperingati sebagai Hari
Reformasi. Seruan Luther kepada Gereja agar kembali kepada ajaran-ajaran
Alkitab telah melahirkan tradisi baru dalam kekristenan.  Di kemudian
hari, reformasi gereja terus terjadi, seperti yang dilakukan John Calvin
(1509–1564) di Perancis. Dari reformasi gereja yang terjadi, warisan penting
dari mereka terangkum dalam "The Five Solas," yaitu: Sola Scriptura,
Sola Fide, Sola Gratia, Solus Christus, dan Soli Deo Gloria. Lima kepercayaan
dan keyakinan ini menjadi pilar yang fundamental dari tradisi reformed.





Sola Scriptura (The Bible
Only)


Menyatakan bahwa hanya Alkitab
satu-satunya firman Allah yang diinspirasikan dan yang berotoritas.
Satu-satunya sumber bagi doktrin-doktrin dan pengajaran Kristen.





Sola Fide (Faith Only)


Menyatakan bahwa hanya oleh iman
kita dinyatakan benar di hadapan Allah, bukan karena perbuatan baik kita.





Sola Gratia (Grace Only)


Mengajarkan bahwa hanya oleh
anugerah Allah kita diselamatkan, bukan karena jasa manusia.





Solus Christus (Christ Only)


Mengajarkan bahwa hanya Kristus
satu-satunya pengantara antara Allah dan manusia. Tidak ada keselamatan di luar
Kristus.





Soli Deo Gloria (Only Worship
God)


Mengajarkan bahwa hanya bagi
Allah saja segala pujian dan kemuliaan. (dari berbagai sumber)





Warisan
reformasi ini begitu penting berharga sehingga tidak boleh diabaikan dan
dilupakan begitu saja, melainkan terus didengungkan agar kita hidup dan
berjalan dalam kebenaran Allah.


Namun
pada kenyataannya tidak sedikit orang Kristen justru lupa akan hari reformasi.
Memprihatinkan sekaligus miris, menyaksikan kenyataan kebanyakan orang Kristen
lebih tertarik pada peraayaaan Halloween yang kebetulan turut dirayakan pada
tanggal yang sama.




Rupa-rapanya
hari Halloween telah menjadi sebuah trend baru yang cukup menarik di mata
masyarakat. Tak heran jika dijumpai di sana sini orang berbondong-bondong
mempromosikan hari Halloween lewat berbagai medi. Padahal Halloween identik
dengan setan, penyihir, hantu goblin dan makhluk-makhluk menyeramkan dari
kebudayaan Barat. Perayaan Halloween disambut dengan menghias rumah dan pusat
perbelanjaan dengan simbol-simbol Halloween.


Dengan demikian
di satu pihak gereja dan orang Kristen serta anak-anak Kristen harus merayakan
hari Reformasi yang berpusat hanya pada kemuliaan Allah, sementara di pihak
lain juga ada sungguhan dari dunia dengan perayaan Halloween yang berpusat pada
dunia dan manusia bahkan hantu-hantu dan setan.


Sebagai
orang Kristen yang sejati tentu kita harus menolak perayaan yang hanya berpusat
pada manusia (antropho-centris) dan pada dunia ini bahkan mengarah
kepada penyembahan berhala. Saya berharap kiranya pada kesempatan ini, kita
dapat bersama mengambil waktu untuk merenungkan kembali pentingnya gerakan
Reformasi yang kerjakan oleh Tuhan kita lewat para Reformator seperti Luther,
Calvin, Swingly demi gereja Tuhan dan umatNya. Marilah kita, sebagai umat yang
telah menerima anugerah keselamatan melalui iman kepada Kristus, bersungguh
hati mencintai firman Tuhan dan hidup memuliakan Dia.











Tuesday, October 30, 2012

Manusia Individualis









Sejatinya
ruang publik adalah milik bersama untuk dinikmati bersama. Namun seiring
tuntutan jaman, ruang publik kerap beralih tangan serta fungsi. Semula area
publik kini area privat. Dulu tempat bersosialisasi dan melakukan berbagai
kegiatan berfaedah kini wadah berbisnis dan mencari untung.


Kondisi
ini turut merupa manusia individualis di Tanah Air. Tak heran kita jumpai manusia akhir-akhir ini semakin eksklusif. Hubungan
di antara sesama mereka sendiri tampak lebih dangkal. Hubungan akan bertahan
lama sejauh menguntungkan mereka saja.


Kondisi
demikian tentu sangat memprihatinkan sekaligus miris, keseimbangan hidup
manusia kian hari kian terganggu. Ketiadaan ruang publik merupakan salah satu
penyebabnya.



Ketika ruang publik sedikit demi sedikit
digusur oleh kebutuhan jaman, maka proses berinteraksi akan berhenti dan mati. Maka
itu perlu kerja sama apik antar seluruh elemen masyarakat dengan pemerintah
yang bersangkutan. Yang ada sekarang hendaknya dijaga dan dirawat dengan baik. Tularkanlah
virus mencintai yang ada demi yang akan datang, niscaya mereka yang melihat dan
menyaksikan tergugah melakukan hal serupa. Nihil menuntut pemerintah membuka
ruang publik baru sedangkan yang ada tak terjaga.


    


Dimuat di Koran
Kompas, rubrik Kompas Kampus edisi Selasa 30 Oktober 2012






Sunday, October 28, 2012

Refleksi 84 Tahun Sumpah Pemuda



Delapan
puluh empat tahun silam, ikrar Sumpah Pemuda digemakan secara kolektif oleh
kelompok-kelompok pemuda bersemangat baja di berbagai daerah di Indonesia. Mereka
berkumpul demi satu tekad melepaskan Indonesia dari belenggu penjajahan bangsa
Asing.






Rumusan
satu tumpah darah, satu bangsa, dan menjunjung tinggi bahasa Indonesia menjadi
prasasti sekaligus tonggak kebangkitan pergerakan nasional melawan penjajah. Itulah
sejarah yang mewarnai perjalanan bangsa Indonesia.


Salah
satu tujuan dari adanya sebuah peringatan adalah mengingat kembali
rentetan-rentetan sejarah yang bisa saja acap kali luput dari ingatan. Akan tetapi,
peringatan tak berhenti pada sebuah nostalgia dan pelengkap pengetahuan belaka.
Momentum penting itu hendaknya senantiasa dimanifestasikan dalam wujud nyata yang
kontekstual.


Memang
kini Indonesia secara fisik tidak lagi terjajah oleh bangsa lain. Namun sebenarnya
Indonesia masih ‘terjajah’ dalam bentuk lain; Ekonomi, Sosial dan Budaya.
Dahulu bangsa Indonesia pernah berwibawa dan mandiri, Indonesia kini
bergelimang produk impor. Bukan hanya impor barang, melainkan juga impor
pemikiran dan budaya. Lihat saja di bidang pemikiran, intelektual muda lebih
merasa gagah bila mengutip kearifan tokoh bangsa lain ketimbang mengutip
kearifan tokoh nasional seperti Bung Karno, Bung Hatta, Gus Dur dan banyak
tokoh lagi yang pemikirannya sudah diakui di dunia Internasional.


Sementara
itu, dari sisi kebudayaan, arus pop impor semakin memudarkan kecintaan
pemuda-pemudi Indonesia melestarikan warisan budaya nasional. Padahal tidak
sedikit orang asing yang justru kemudian mempelajari dan membawa warisan budaya
leluhur ke pentas Internasional.


Keberhasilan
sebuah bangsa sangat ditentukan oleh keberhasilan pemuda-pemudinya dalam
berkiprah dibidang keahliannya masing-masing. Negeri ini sesungguhnya dilimpahi
tunas-tunas bangsa yang punya potensi besar membawa kejayaan bangsa di pentas
dunia.


Maka
itu semangat pemuda sebagai agen perubahan dan pergerakan nasional tidak boleh
padam. Indonesia masih menantikan gebrakan-gebrakan dari si pantang menyerah,
si pekerja keras, dan si cerdas itu.


Generasi
Muda Indonesia harus mampu menjawab tantangan krisis multidimensi ini dengan
tangan dingin, pemikiran yang lugas namun aplikatif serta ketelandanan hidup
yang bercitra baik. Berkarya secara maksimal sesuai dengan bidang kemampuannya.
Niscaya Republik ini akan cepat bangit dan melesat sejajar dengan bangsa-bangsa
lain.





Monday, October 22, 2012

GAYA HIDUP KONSUMTIF









Gaya hidup konsumerisme[1],
inilah ciri masyarakat di zaman ini. Gaya hidup yang telah merasuki seantero
dunia dengan iming-iming kepuasan diri dan prestise tinggi. Konsumerisme
berarti gaya hidup berfoya-foya dengan berbelanja secara berlebihan sekadar
memenuhi keinginan pribadi. Menjamurnya pusat perbelanjaan serta ramainya
pembeli merupakan salah satu tandanya. Tidak dapat dipungkiri gaya hidup
konsumtif juga telah masuk keberbagai lapisan masyarakat Tanah Air. Masyarakat
berlomba-lomba membelanjakan uang untuk membeli barang-barang bermerek terkenal,
dari alas kaki hingga gadget terbaru
menjadi ikon gaya hidup masyarakat
masa kini.


Guna
memuaskan keinginan pribadi, secara membabi buta mereka membelanjakan uang
tanpa berpikir bahwa barang-barang yang dibeli belum tentu penting bagi
kehidupannya. Bagi mereka, gaya hidup berfoya-foya mencerminkan gengsi dan
status mereka dalam masyarakat sekaligus memuaskan hasrat pribadi mereka.
Status menjadi sesuatu yang penting bagi mereka.


Tidak
dapat dipungkiri perluasan gaya hidup ini sangat cepat dan berpengaruh, tidak
sedikit anak Tuhan yang sudah mulai terjerat dengan gaya hidup ini. Kini tidak
jarang kita temui anak Tuhan bergaya hidup konsumtif yang jelas menyimpang dari
ajaran Alkitab. Mereka tidak lagi mempedulikan apa yang tertulis dalam Alkitab.





BERDAMPAK BURUK


Padahal
tanpa disadari ada banyak dampak buruk yang dihasilkan dari gaya hidup ini, misalkan
bagi kaum remaja, mereka tidak dididik untuk hidup sederhana atau hemat
melainkan condong bergaya hidup boros. Lebih parahnya lagi mereka bisa
menghalalkan segala cara demi kepuasan dan keinginan pribadi mereka. Mereka
rela melakukan atau bahkan diperlakukan apa saja asalkan mereka mendapatkan
uang guna memuaskan keinginan pribadi mereka. Belum lagi kecemburuan sosial
yang akan muncul yang tentunya bisa merusak hubungan dengan sesama.


Konsumerisme
adalah prilaku mubazir yang menimbulkan dampak buruk dalam hidup. Prilaku
“berhala” karena ujung-ujungnya untuk kemuliaan dan kepuasan diri sendiri.
Menempatkan kesenangan diri  berlawanan
dengan kehendak Tuhan.





TOLAK


Bagaimanakah
kita sebagai anak Tuhan menyikapinya? Jelas, bahwa gaya hidup seperti ini harus
kita tolak. Kita harus belajar dan membiasakan gaya hidup sederhana dan hemat, membeli
sesuatu berdasarkan kebutuhan bukan karena keinginan yang ujung-ujungnya demi gengsi dan status saja. Tidak
sepatutnya kita yang mengaku anak Tuhan, terjerat dan menjadi penganut dari
gaya hidup ini.


Rasul
Petrus dengan tegas mengingatkan jemaat yang menjadi tujuan suratnya, agar
berhati-hati terhadap ajaran para nabi dan guru palsu yang dengan
terang-terangan mengajarkan hal pemuasan hawa nafsu yang menyesatkan, “Berfoya-foya pada siang hari, mereka anggap
kenikmatan. Mereka adalah kotoran dan noda, yang mabuk dalam hawa nafsu mereka,
kalau mereka duduk makan minum bersama-sama dengan kamu
” (2 Pet. 2:13). Melalui
bagian ini Rasul Petrus mau menyatakan bahwa gaya hidup berfoya-foya seperti
yang gencar diajarkan oleh para nabi dan guru palsu tidak memperkenankan hati
Tuhan.


Pula
Rasul Paulus pernah menuliskan, “Ia
mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan
duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia
sekarang ini
…” (Titus 2:12). Meninggalkan gaya hidup yang bertentangan
dengan Firman Tuhan itu yang Allah inginkan terjadi dalam hidup orang percaya.
Orang percaya harus membuang keinginan daging yang berujung pada kepuasaan diri
semata.


Alkitab
yang adalah Firman Allah harus menjadi standar dalam menjalani hidup ini,
karena hidup kita adalah ibadah kita kepada Tuhan. Hidup kita harus
berpadananan dengan Firman Tuhan. Gaya hidup yang tidak berkenan di hati Tuhan
harus jauh dari hidup orang percaya. Hidup sederhana namun memperkenan hati
Tuhan itu yang jauh lebih penting.










[1] Penyuntingan ulang opini  penulis berjudul “Tolak Gaya Hidup Konsumtif” yang dimuat dalam rubrik Kompas Kampus edisi 13 September 2011.




 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

ShareThis