twitterfacebookgoogle plusrss feedemail
Life-ex photo banner-211_zps596e9fc0.jpg
Showing posts with label Inspirasi. Show all posts
Showing posts with label Inspirasi. Show all posts

Monday, December 31, 2012

MENEBUS WAKTU









Bagaimana kita memandang sesuatu akan
mempengaruhi cara kita memperlakukannya. Demikian pula dengan waktu. Cara kita
mengartikan waktu akan mempengaruhi kita memperlakukan waktu itu. Semua manusia
dikaruniakan waktu yang sama yakni 24 jam. Namun ada orang yangg 24 jamnya
dimanfaatkan dengan baik sebaliknya ada juga yang menyia-nyiakannya. Konsep
tentang waktu dipengaruhi oleh pemikiran dunia tentang waktu itu sendiri.
Ajaran dunia tentang waktu:





1. Waktu adalah uang





Waktu itu sama berharganya dengan uang.
Paham ini dilatarbelakangi oleh jiwa materialisme dari dunia Barat yang
mengukur segala sesuatu dari asas manfaat (Utilitarianisme). Namun Alkitab
berkata waktu adalah hidup. Sama dengan hidup diberikan Allah dengan mandat
demikian juga dengan waktu. Karena itu waktu tidak hanya bicara keuntungan
pribadi tapi anugerah Allah yang oleh waktu itu kita melakukan sesuatu yang
kemudian kita berikan untuk Allah.





2. Waktu itu melingkar





Konsep ini ada di dunia Timur. Hidup
mereka tidak akan berakhir. Selalu ber-reikarnasi. Meski tak ada konsep itu
dalam hidup, namun tanpa kita sadari kita menjalankan konsep tersebut. Misalnya
menunda sesuatu karena menganggap besok masih ada waktu. Menunda adalah
kebiasaan yang kita bangun yang lama kelamaan menjadi sebuah kebiasaan. Berapa
sering kita menunda apa yang Tuhan inginkan dalam hidup kita?





Lalu apa kata Alkitab?





Waktu itu linier. Dimana jika waktu
itu berjalan tidak akan terulang lagi. Belum tentu ada kesempatan buat besok
hari, maka lakukanlah hari ini juga. Karena waktu itu tak akan terulang. Tuhan
beri kita waktu, tapi celakalah kita kalau berpikir waktu itu masih panjang
sedangkan kita tidak tahu berapa waktu kita. Karena waktu/kesempatan itu tidak
akan terulang, terbatas dan merupakan anugerah Tuhan, maka pergunakanlah
waktumu dengan benar. Evaluasi waktu yang kita gunakan belakangan ini. Tebus
itu. Bagaimana kita bisa tebus?





Yang bisa kita lakukan:





1. Gunakan waktumu untuk Tuhan 





Gunakan waktumu untuk memuliakan Tuhan.
Gunakan 24 jam waktu kita dalam segala aktifitas kita memuliakan Tuhan.
Melibatkan dan menghadirkan Tuhan dalam hidup kita.





2. Kita harus mengerjakan sekarang





Tidak mudah menghapus kebiasaan
menunda. Tapi ingat waktu tidak akan pernah terulang. Ketika kita diberi hidup
jangan sia-siakan. Ketika hari ini Tuhan masih beri kesempatan memberitakan
kabar keselamatan jangan tunda, kabarkan. 





Hidupilah hidupmu setiapa hari
seolah-olah itu adalah hari terakhirmu di dunia. Jangan sia-siakan waktu karena
tiap waktu itu istimewa. Bahkan kita bisa membuatnya lebih istimewa. 





Tinggal menghitung jam tahun 2012 akan
berakhir, apakah kita telah memakai waktu untuk Tuhan?


Apa resolusimu mengawali tahun 2013?












Wednesday, December 12, 2012

FILOSOFI ANGSA





Kalau anda tinggal di negara empat musim, maka pada musim gugur akan terlihat rombongan angsa terbang ke arah selatan untuk menghindari musim dingin. Angsa-angsa tersebut terbang dengan formasi berbentuk huruf "V".Kita akan melihat beberapa fakta ilmiah tentang mengapa rombongan angsa tersebut terbang dengan formasi "V".

Fakta 1: Saat setiap burung mengepakkan sayapnya, hal itu memberikan "daya dukung" bagi burung yang terbang tepat di belakangnya. Ini terjadi karena burung yang terbang di belakang tidak perlu
bersusah-payah untuk menembus 'dinding udara' di depannya. Dengan terbang dalam formasi "V", seluruh kawanan dapat menempuh jarak terbang 71% lebih jauh daripada kalau setiap burung terbang sendirian.

Pelajaran: Orang-orang yang bergerak dalam arah dan tujuan yang sama serta saling membagi dalam komunitas mereka dapat mencapai tujuan mereka dengan lebih cepat dan lebih mudah. Ini terjadi karena mereka menjalaninya dengan saling mendorong dan mendukung satu dengan yang lain.

Fakta 2: Kalau seekor angsa terbang keluar dari formasi rombongan, ia akan merasa berat dan sulit untuk terbang sendirian. Dengan cepat ia akan kembali ke dalam formasi untuk mengambil keuntungan dari daya dukung yang diberikan burung di depannya.

Pelajaran: Kalau kita memiliki cukup logika umum seperti seekor angsa, kita akan tinggal dalam formasi dengan mereka yang berjalan di depan. Kita akan mau menerima bantuan dan memberikan bantuan kepada yang lainnya. Lebih sulit untuk melakukan sesuatu seorang diri daripada melakukannya bersama-sama.

Fakta 3: Ketika angsa pemimpin yang terbang di depan menjadi lelah, ia terbang memutar ke belakang formasi, dan angsa lain akan terbang menggantikan posisinya.

Pelajaran: Adalah masuk akal untuk melakukan tugas-tugas yang sulit dan penuh tuntutan secara bergantian dan memimpin secara bersama. Seperti halnya angsa,manusia saling bergantung satu dengan lainnya dalam hal kemampuan, kapasitas dan memiliki keunikan dalam karunia, talenta atau sumber daya lainnya.

Fakta 4: Angsa-angsa yang terbang dalam formasi ini mengeluarkan suara riuh rendah dari belakang untuk memberikan semangat kepada angsa yang terbang di depan sehingga kecepatan terbang dapat dijaga.

Pelajaran: Kita harus memastikan bahwa suara kita akan memberikan kekuatan. Dalam kelompok yang saling menguatkan, hasil yang dicapai menjadi lebih besar. Kekuatan yang mendukung (berdiri dalam satu hati atau nilai-nilai utama dan saling menguatkan) adalah kualitas suara yang kita cari. Kita harus memastikan bahwa suara kita akan menguatkan dan bukan melemahkan.

Fakta 5: Ketika seekor angsa menjadi sakit, terluka,atau ditembak jatuh,dua angsa lain akan ikut keluar dari formasi bersama angsa tersebut dan mengikutinya terbang turun untuk membantu dan melindungi. Mereka tinggal dengan angsa yang jatuh itu sampai ia mati atau dapat terbang lagi. Setelah itu mereka akan terbang dengan kekuatan mereka sendiri atau dengan membentuk formasi lain untuk mengejar rombongan mereka.

Pelajaran: Kalau kita punya perasaan, setidaknya seperti seekor angsa, kita akan tinggal bersama sahabat dan sesama kita dalam saat-saat sulit mereka, sama seperti ketika segalanya baik.


Tuesday, December 11, 2012

BERUBAH ATAU MATI









Elang merupakan jenis burung
yang mempunyai umur paling panjang. Konon umur elang dapat mencapai hingga
lebih dari 70 tahun. Tetapi untuk mencapai umur sepanjang itu, seekor elang
harus membuat suatu keputusan yang sangat berat dalam hidupnya yakni pada umurnya yang ke-40.


           Ketika
elang berumur 40 tahun, cakarnya yang panjang dan fleksibel itu mulai sulit
untuk dan membengkok. Sayapnya menjadi sangat berat karena bulunya telah tumbuh
lebat dan tebal, sehingga sangat menyulitkan waktu terbang. Dalam kondisi
seperti itu, sang elang hanya mempunyai dua pilihan: menunnggu kematian tiba
atau mengalami suatu proses transformasi yang sangat menyakitkan dan memakan
waktu yang panjang, 150 hari.


             Untuk
mengahadapi proses tersebut, elang harus berusaha keras untuk terbang ke atas
puncak gunung untuk kemudian membuat sarang ditepi jurang; berhenti dan
tinggal di sarang selama proses transformasi berlangsung.


         Pertama-tama,
elang harus mematukkan paruhnya pada batu karang, sampai paruh tua itu terlepas
dari kepalanya, kemudian berdiam beberapa lama menunggu tumbuhnya paruh baru.
Dengan paruh baru yang tumbuh itu, ia harus mencabut satu persatu cakar-cakarnya
dan ketika cakar yang baru sudah tumbuh, ia akan mencabut bulu pada tubuhnya
satu demi satu. Sungguh suatu proses yang panjang dan menyakitkan.


          Lima
bulan kemudian, bulu-bulu elang yang baru sudah tumbuh. Elang mulai dapat
terbang kembali. Dengan paruh dan cakar baru, elang tersebut mulai menjalani 30
tahun kehidupan barunya dengan penuh energi. 


          Dalam
kehidupan kita ini, kadang kita juga harus melakukan suatu keputusan yang
sangat berat untuk memulai suatu proses pembaruan. Kita harus berani dan mau
membuang semua kebiasaan lama yang mengikat, meskipun kebiasaan lama itu adalah
suatu yang menyenangkan. Kita harus rela meninggalkan prilaku lama kita agar
dapat mulai terbang lagi menggapai tujuan yang lebih baik di masa depan.


         Hanya
bila kita bersedia melepaskan beban lama, membuka diri untuk belajar hal-hal
yang baru, kita baru mempunyai kesempatan untuk mengembangkan kemampuan kita
yang terpendam, mengasah keahlian baru dan menatap masa depan dengan penuh
keyakinan. Halangan terbesar untuk berubah terletak dalam diri sendiri dan
Andalah juga yang dapat menguasai diri Anda. Jangan biarkan masa lalu
menumpulkan asa dan melayukan semangat kita. Perubahan pasti. Karena itu, kita
harus berubah. (GS)






Monday, December 3, 2012

Olivia Sang Malaikat Kecil Telah Menyelesaikan Tugasnya





Kisah nyata tentang kehidupan gadis kecil yang bernama Olivia






Pengantar Redaksi: Dalam terbitan Warta RC minggu
lalu dimuat suatu ucapan belasungkawa atas berpulangnya Olivia
Laurencia, 10 tahun, keponakan dari Jelly Lim,  anggota Dewan Paroki
Regina Caeli. Banyak Warga RC yang menyempatkan diri melayat di rumah
duka ikut menitikkan air mata tapi sekaligus diteguhkan iman mereka
mendengar  kisah hidup Olivia  yang berjuang melawan penyakitnya sejak
usia satu setengah tahun. Berikut adalah kesaksian yang ditulis oleh
salah seorang kerabatnya. Semoga kesaksian ini membawa kita pada
permenungan yang mendalam tentang makna hidup kita masing-masing. 






Tiga
Juli 1999, tangis bayi memecah kesunyian. Sang bayi mungil lahir ke
dunia membawa kebahagiaan bagi pasangan Jimmy dan Aiwan. Kulit putih
kemerah-merahan, mata yang sungguh indah, bahkan ia memiliki bobot tubuh
yang cukup besar dibandingkan ukuran normal bayi yang baru lahir. Semua
orang yang melihat memuji sang bayi cantik yang kemudian diberi nama
Olivia Laurencia dengan nama kecil Ping Ping ini. Yah, ini adalah
mahakarya yang sungguh indah dari Tuhan bagi keluarga muda itu.






Sang
bayi mungil tumbuh cepat dan makin cantik dari waktu ke waktu. Babak
baru kehidupannya dimulai ketika umur satu setengah tahun. Saat anggota
keluarga yang lain melihat adanya kelainan penglihatan pada Oliv kecil,
segera mereka memeriksakannya ke dokter. Bagaikan disambar petir mereka
harus menerima kenyataan bahwa Olivia divonis menderita kanker mata,
atau istilah kedokterannya penyakit Retina Blastoma. “Biasanya
untuk penyakit begini umurnya paling sekitar 2 tahun lagi,” demikian
kata sang dokter yang terus terngiang-ngiang di ingatan orangtuanya.






Bergelut dengan Pengobatan






Berbagai
pengobatan mulai dijalani, bahkan pengobatan sampai ke luar negeri.
Dokter menyarankan agar bola mata kiri yang terkena kanker segera
diangkat. Namun sang papa bersikeras untuk tidak mengambil jalan itu.
“Dia seorang anak gadis, bagaimana dia menghadapi hidupnya kelak dengan
mata palsunya. Jalan ini juga tidak bisa menjamin 100% sel kanker itu
hilang begitu saja. Mata dia sungguh indah, semua orang juga
mengakuinya,” berontak sang papa. Akhirnya dipakailah cara kemotherapy untuk
mematikan sel-sel kanker yang telah tumbuh itu. Saat sang putri
kesayangan teriak menahan sakit yang dideritanya, sang papa tidak kuat
menerima kenyataan itu bahkan ia membenturkan kepalanya sendiri ke
dinding.






Menurut
pengakuannya meski sudah dibaptis dan menjadi pengikut Kristus, Jimmy
dan Aiwan belum menjadi pengikut Kristus yang sesungguhnya. Untuk pergi
ke gereja pun kadang masih agak ogah-ogahan. Tepatnya hanya menjadi umat
yang biasa-biasa saja. Dalam mimpinya suatu malam Jimmy didatangi oleh
malaikat yang membawa sebuah maklumat berisi hanya satu kata ‘BAPTIS’.
Setelah menceritakan kepada saudaranya, saudaranya itu memberikan
masukan “baptis berarti kamu mesti bertobat!”. Sambil tetap menjalani
pengobatan, kondisi Olivia mengantar papa dan mamanya lebih rajin dalam
berdoa dan mengikuti persekutuan. Mereka lebih berpasrah dan menyerahkan
sepenuhnya kepada kehendak Bapa. Mereka bertumbuh dalam iman di tengah
penyakit yang diderita Olivia.


Di
sela-sela kesibukan mengurusi pengobatan Olivia, Elohim mendatangkan
penghibur di keluarga ini. Seorang anak pemberian Tuhan hadir di tengah
mereka. Sang adik kecil itu kemudian diberi nama Yohanes Natanael.
Setidaknya ini adalah suatu penghiburan di tengah kesedihan
mereka.        






Olivia sempat menjalani dua kali kemotherapy yang membuat kondisi fisiknya drop. Saat ia drop dan
trombosit dalam tubuhnya turun, sang papa dan pamannya dengan kondisi
was-was musti siap mengantri sepanjang hari untuk mendapatkan bantuan
darah di PMI. Demikian sepanjang hidupnya Olivia menjalani pengobatan.
Biasanya setelahtherapy ia mengalami kerontokan rambut hingga
botak sama sekali. Dengan fisik yang demikian Olivia tidak pernah merasa
rendah diri. Ia tetap menjadi anak yang periang. Bahkan di sekolah ia
termasuk salah satu murid yang memiliki prestasi yang cemerlang. Seluruh
keluarga besar sangat menyayangi dan memberi perhatian penuh kepadanya.
Saat ilmu kedokteran sudah angkat tangan dan hanya memberikan harapan
kosong atas kesembuhannya, seluruh keluarga tidak berputus asa. Berbagai
pengobatan alternatif dijalani. Pantangan-pantangan makanan selalu
dituruti oleh gadis kecil ini. Obat-obatan dari berbagai bentuk dan rasa
yang sungguh merusak indra pengecapan juga dilahap dengan pasrah.






Membawa kepada Kristus


Dalam
kondisi demikian, Oliv kecil sungguh bergantung pada Tuhan Yesus.
Setiap pagi saat jam dinding baru menunjukkan pukul 04.00, bagai jam
weker Olivia membangunkan orangtuanya untuk mengajak doa pagi. Ketika
melihat papanya bersedih hati, Olivia selalu berujar “Smile”. Dengan polosnya Olivia berujar dan mengajarkan papanya“Dalam masalah apa pun kita harus selalu smile.” Imannya
kepada Yesus itu membuat ia boleh dibilang tak pernah mengeluh soal
penyakit yang dideritanya. Ia bahkan tak pernah menangis karena penyakit
itu.






 Iman
Olivia ini menghantarkan sang kakek, nenek, om, tante yang belum
mengenal Kristus menjadi orang-orang percaya. Ketegaran Olivia membuat
mereka semua merasakan bahwa Yesus sungguh ada bersama Olivia. Hal itu
pula yang kemudian mendorong keluarga besarnya semakin berpasrah pada
Yesus. Bahkan mereka kemudian terjun aktif dalam kegiatan rohani di
lingkungannya. Sungguh inilah karya besar yang ditinggalkannya.






Bulan-bulan
terakhir menjelang ajalnya ia menunjukkan kasihnya yang luar biasa
kepada keluarganya, terutama kepada adik kecilnya. Ia
berujar kepada sang mama “Kan Oliv mau jadi peri yang baik hati”.
Natal dan malam Tahun Baru 31 Desember 2008, meskipun menahan sakit
kepala yang belakangan selalu menyerangnya, ia berusaha tetap ceria.
Saat acara tukar kado bersama jemaat Gereja, ia juga masih selalu
bercanda dengan semua orang. Beberapa hari kemudian, 4 Januari 2009,
saat sakit kepala yang semakin parah dan disertai dengan muntah-muntah,
keluarga memutuskan untuk merawatnya di rumah sakit. Semakin lama
kondisi fisiknya semakin parah. Tubuhnya bahkan sudah sulit untuk
menerima asupan makanan. Hal yang ditakutkan pun terjadi. Hasil MRI
menunjukkan sel kanker yang sudah membutakan mata kirinya telah menjalar
sampai ke otak bahkan ke seluruh tubuhnya.






“Terimakasih Tuhan Yesus”






Setiap
hari ia hanya bisa terbaring lemas dan tertidur. Saat ia terbangun,
kesakitan yang sungguh luar biasa dialaminya. Ia hanya bisa berteriak, “Aduh sakit, sakit sekali Tuhan…”.  Sang
mama yang tidak kuat melihat penderitaan putrinya mengatakan, “Kalau
sakit sekali, menangis saja Oliv,” tapi anak ini sungguh kuat. Dia tidak
pernah mau menangisi kesakitannya. Orang tuanya kembali dikuatkan dan
diajarkan untuk tetap tegar dalam segala masalah, walaupun itu tidak
mengenakkan. Kesakitannya semakin memuncak, bahkan obat penahan sakit
yang diberikan dokter sudah tidak bisa menghilangkan rasa sakit itu. Dua
malam menjelang ajalnya, Oliv yang bulan Juli mendatang genap berumur
10 tahun berdoa penuh iman. “Terima kasih Tuhan atas kasih
karuniaMu, Oliv percaya Oliv sudah sembuh, Oliv sudah dipulihkan. Tidak
ada satu penyakit apa pun di badan Oliv, dari ujung rambut sampai ujung
kaki Oliv, karena sudah Engkau tebus di kayu salib. Tuhan berkati Oliv,
Tuhan ampuni semua dosa Oliv, terima kasih Tuhan, Haleluya, Amin...”
 Sebuah doa yang sungguh indah dan penuh makna. Doa seorang anak yang sungguh mencintai dan mengimani Yesus.






Saat
malam terakhir ia bahkan sempat meminta sang papa yang memang sangat
dekat dengannya untuk memeluk, menurunkannya dari ranjang pasien dan
memangkunya. Dia meminta kepada semua orang dan keluarga yang
mengunjunginya untuk senantiasa  berdoa dan mendoakannya sepanjang malam
itu. Detik-detik maut semakin mendekatinya. Dalam kesakitan yang sudah
tidak tertahan, kalimat terakhir yang keluar dari mulutnya “Sakit sekali ya Tuhan, Oliv sudah tidak tahan lagi…” kemudian kepalanya jatuh terkulai sambil berucap “Trima kasih Tuhan Yesus” .
Kemudian ia sudah tidak sadarkan diri, tubuhnya mulai kejang-kejang.
Saat sang papa membisikkan ke telinganya “Papa merelakan Oliv pergi,
karena papa percaya di surga penuh damai sejahtera dari pada di dunia
dengan menanggung penderitaan. Saat Oliv bertemu dengan Yesus dan Yesus
ingin memegang tangan Oliv, segeralah sambut tangan-Nya. Selamat jalan
Oliv kami semua merelakan Oliv.”  Dalam kondisi yang sudah ‘koma’ Olivia
meneteskan airmata.






Sesaat
setelah itu, bergantian istri pendeta memegang tangan Oliv sambil
membisikkan di telinganya, “Kalau Oliv sudah bertemu Tuhan Yesus, Oliv
genggam kencang tangan tante yah.." Dalam keadaan ‘koma’ itu ia benar2
menggenggam tangan itu dan tak lama kemudian Oliv kecil pun pergi untuk
selamanya dengan perlahan, tenang dan damai. Dua belas Januari 2009,
pukul 15.45.






Tugasnya sudah selesai






Kedua
orang tuanya tentu sedih dengan kepergiannya. Tapi mereka mengimani
bahwa Olivia sudah bahagia di surga selamanya. Mereka berusaha menahan
tetesan airmata dan merelakan kepergiannya. Mereka berusaha meneladani
apa yang selalu dikatakan Olivia selama hidupnya, bahwa “Segala
sesuatu ada waktunya; selalu tersenyumlah dalam segala hal; tetap kuat
dan tegar dalam pergumulan;  berserah dirilah kepada Tuhan Yesus, karena
Dia akan memberikan jalan terbaik dan selalu mengasihi kita”.






Jasadnya
sudah terbaring kaku, tapi ia terlihat seperti hanya tertidur. Semua
pelayat yang melihat, memuji Olivia bagaikan peri kecil cantik yang
tertidur pulas. Wajah dan kulitnya putih bersih. Bibir kecilnya
menyunggingkan senyum kecil bahagia. Salah satu mata yang tadinya agak
cekung karena sel kanker sudah menggerogoti dan membutakan mata kirinya
bahkan terlihat normal kembali. Ia benar-benar seperti tertidur. Semua
mengimani, saat ajal menjemputnya Tuhan terlebih dahulu memulihkan
fisiknya. Keluarga besarnya juga mengimani bahwa Olivia adalah penolong
yang diberikan Tuhan di tengah-tengah keluarga mereka. Melalui sakit
yang dideritanya satu persatu anggota keluarga besarnya bertobat dan
menerima Kristus. Tugas malaikat kecil ini sudah selesai, maka ia
kembali dipanggil Bapa ke surga.






 Bahkan
saat pemakamannya, di tengah-tengah cuaca yang sepanjang hari dipenuhi
hujan deras, ketika kebaktian pamakaman dimulai, dan ketika sang
pemimpin Ibadat menyerukan “Semoga prosesi pemakaman ini diliputi dengan
cuaca cerah… Tuhan, walaupun kami tidak dapat melihat dengan mata kami
tapi kami yakin Tuhan hadir di tempat ini,” detik itu juga, gemuruh
guntur berbunyi seakan langit menjawab. Dan hujan yang sepanjang hari
menyelimuti bumi, seketika berhenti. Semua yang menghantar ke pemakaman
ini dengan tertegun berujar dalam hati, “Sungguh ia benar-benar dikasihi
Tuhan”


Segalanya
berjalan lancar, kepergian sang malaikat kecil bahkan didoakan dan
dihantar oleh beratus-ratus pelayat. Walaupun Olivia sudah tidak ada di
dunia, tapi karyanya dalam dunia sungguh selalu akan dikenang. Karena
bukan diukur dari berapa lama kita tinggal di dunia, tetapi seberapa
berartinya hidup yang kita jalani.


Selamat jalan Olivia, doa kami menyertaimu selalu. Dan kami percaya, engkau juga senantiasa mendoakan kami dari sana. (sanz)


Monday, November 26, 2012

MENGISI LIBURAN AKHIR PEKAN









Berakhir
pekan di toko buku adalah salah satu alternatif pilihan menyenangkan sekaligus
berfaedah, jikalau belum memiliki tujuan berlibur diakhir pekan ini. Mengisi
liburan akhir pekan di toko buku sangat mengasyikan sekaligus bermanfaat. Kita bisa
bersantai sekaligus belajar. Apalagi jika ditemani kawan-kawan, dijamin kita
akan mendapatkan pengalaman berkesan. Tapi jika tidak bersama kawanpun tak
mengapa, sendiripun tak akan mengurangi asyiknya berlibur di toko buku.


          Pergi ke toko buku seperti Gramedia
adalah kegiatan yang sering saya lakukan, takkala libur akhir pekan tiba. Kegiatan
yang menurut hemat saya kaya akan manfaat.







Bagaimana
tidak selain bisa bersantai ria kita dapat belajar banyak hal lewat membaca
berbagai jenis buku. Wawasanpun bertambah. Sang buku pun begitu banyak tersedia
dan tersusun rapi di rak buku. Tak usah kuatir bila tak punya uang, berlibur di
toko buku dijamin gratis. Bacaanpun tak harus berbayar, karena sepenuhnya
gratis (kecuali berniat membeli-tentu harus membayar) dan tergantung
kesanggupan kita melahap bacaan.


Melahap ide demi ide
penulis ternama menjadi kenikmatan tersendiri takkala berada di sana. Tips demi
tips jua tak jarang akan kita temui di rak demi rak. Hikmah serta renungan
tersedia di lembar demi lembar kertas itu. Kitapun ditak jarang terharu takkalan
berinteraksi dengan penulis yang menceritakan dirinya lewat pena, bahkan sesekali
tertawa renyah takkala kata dan kalimat jenaka membumbui bacaan. Demikian juga
tak jarang kita akan mengerutkan dahi takkala penulis berkaliber internasional
memaparkan fakta-fakta ilmiah yang perlu kita serap dengan penghayatan dan
kosentrasi penuh itu. Sungguh merupakan moment emas. Momen di mana terpuaskannya
hati dan pikiran.





          Ketimbang menghabiskan waktu dan kemudian
tergoda mengeluarkan dana takkala berkunjung ke mall, maka pilihan bijak nan
mengasyikan bila memilih toko buku jadi tujuan liburan kali ini. Liburan tak
harus mahal baru mengasyikkan. Sementara yang lain menghabiskan waktu berlibur
di tempat wisata pada umumnya, Anda berlibur dengan cara lain, namun lebih
mendidik dan tidak kalah menyenangkan tentunya. Takkala libur tak rugi jika
menyambangi toko buku jadi tempat berlibur ria.  








 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

ShareThis