Sunday, August 7, 2011

Home » , » “Nyamanlah Jiwaku” – Refleksi Hidup Horatio G. Spafford (By Imanuel Suluh)

“Nyamanlah Jiwaku” – Refleksi Hidup Horatio G. Spafford (By Imanuel Suluh)








Judul lagu: It is Well with My Soul

Mazmur 46: 2

Pengarang: Horatio G. Spafford

Komposer: Philip P. Bliss






           Bila damai mengiring jalanku rasa aman di hatiku dan kesusahan menimpa ku tlah Kau ajar ku mengingat Firman-Mu…Nyamanlah jiwaku…
Kalimat-kalimat di atas, merupakan bagian syair lagu hasil karya
Horatio G. Spafford. Dalam bahasa Inggris, lagu tersebut terkenal dengan
judul “It Is Well With My Soul” yang diterjemahkan dalam
bahasa Indonesia “Nyamanlah Jiwaku”. Bahkan ini juga perasaan penulis
untuk pertama kalinya mendengarkan hymn karya Horatio G. Spafford ini,
harapan ditengah masa-masa sulit, menguatkan, memberkati bahkan
menginspirasi penulis secara pribadi dalam menjalani masa hidup yang
Tuhan percayakan kepada penulis. Selain itu penulis kagum akan sosok
beliau yang berjiwa besar, tabah dan tetap setia hingga akhir menjaga
imannya kepada Tuhan, memberikan kesaksian hidup yang menguatkan yang
masih terus bergema hingga saat ini melalui nada-nada hymn-nya yang bisa
dinikmati setiap saat. Inilah menjadi alasan penulis menulis paper ini.





Riwayat Hidup Horatio Gates Spafford





            Horatio Gates Spafford lahir pada tanggal
20 Oktober 1828, di North Troy, New York. Ia dibesarkan dan bersekolah
di tempat itu. Setelah ia dewasa, pada tahun 1856, ia pindah ke kota
Chicago, disinilah ia menjadi seorang pengacara Kristen terkemuka serta
pengusaha di Amerika. Kemudian ia juga menjadi dosen salah satu
universitas dalam mata kuliah hukum kedokteran. Spafford tertarik dengan
kecantikan Anna dari Stavanger, Norwegia, ketika ia menghadiri kelas
sekolah Minggu itu di Chicago.


           Pasangan ini kemudian menikah pada 1861.
Setelah menikah mereka dikaruniai satu putra dan empat putri.
Suami-istri ini merupakan anggota Gereja Presbyterian yang aktif.
Spafford menjadi guru Sekolah Minggu dan juga pemimpin dalam usaha
kegiatan kaum Kristen. Ia menjabat sebagai anggota dewan pengurus dari
sebuah seminari Presbyterian yang baru didirikan di Chicago. Dalam salah
satu perjalanannya ke negeri Inggris dan Skotlandia pada tahun 1870,
Spafford berjumpa dengan dengan seorang ahli perbintangan yang ternama.
Melalui persahabatan dengan sarjana ini, Spafford menjadi sangat
tertarik untuk mempelajari ilmu purbakala dari zaman Alkitab.


            Pada tanggal 8 Oktober 1871, bencana besar melanda keluarga Spafford, dimana kebakaran hebat yang dikenal dengan nama “The Great Chicago Fire”
menyapu bersih kota tempat tinggal mereka. Horatio selain berprofesi
sebagai pengacara ia juga berinvestasi di real estate di kota itu, dan
api menghancurkan hampir semua yang dimiliki. Pada tahun 1873, Spafford
memutuskan harus mengambil liburan untuk dia dan keluarganya. Dia ingin
beristirahat untuk istri dan empat anak perempuan, dan juga untuk
membantu Moody dan Sankey di salah satu kampanye penginjilan mereka di
Inggris. Namun ia tertunda karena bisnis harus tetap tinggal di Chicago,
karena itu ia mengirim keluarganya berangkat lebih dahulu istri dan
empat putri melakukan perjalanan sesuai dengan jadwal pada SS Ville du
Havre, mengharapkan untuk mengikuti dalam beberapa hari. Tragis pada ada
tanggal 22 November, 1873 saat melintasi Atlantik di kapal uap Ville du
Havre, kapal mereka dipukul oleh kapal berlayar besi dan 226 orang
kehilangan nyawa mereka, termasuk keempat putri Spafford. Anna Spafford
selamat dalam tragedi tersebut. Setelah tiba di Inggris, ia mengirim
telegram kepada Spafford memberitahukan peristiwa naas tersebut.


             Spafford kemudian berlayar ke Inggris, dan
akan mengarungi lokasi kematian orang-orang yang dikasihinya. Menurut
Bertha Spafford Vester, seorang putri lahir setelah tragedi itu,
Spafford menulis “It Is Well With My Soul” dalam perjalanan ini. Dan
musiknya, ditulis oleh Philip Bliss. Beliau adalah komposer himne,
seorang penulis yang produktif menulis lagu Injil. Dia begitu terkesan
dengan pengalaman dan ekspresi teks Spafford ia segera menulis musik
untuk itu, pertama kali diterbitkan di salah satu Hymnals Sankey-Bliss,
Injil Nyanyian Rohani No 2. Tak lama setelah menulis It Is Well With My
Soul, Bliss meninggal dalam kecelakaan kereta api tragis.





Akhir Hidup H.G. Spafford





             Setelah berbagai peristiwa kelam
menimpanya. Spafford yakin bahwa semua ini adalah pertanda kedatangan
Kristus sudah dekat. Dan akhirnya pada tahun 1881, ia dan beberapa
keluarganya berlayar meninggalkan Amerika menuju tanah suci. Anna dan
Horatio Spafford memimpin kontingen kecil Amerika di tahun 1881 ke
Yerusalem untuk membentuk masyarakat Utopia Kristen yang dikenal sebagai
“Colony Amerika.” Ini adalah suatu tempat peristirahatan bagi
orang-orang Kristen, di mana mereka bisa datang dan menghidupi suatu
kehidupan Kristiani yang sederhana, berbagi segala sesuatu, dan melayani
orang-orang sekeliling mereka. Pengaruh mereka akhirnya membuahkan
banyak orang Islam dan orang-orang agama lain yang berbalik kepada
Kristus di kota Yerusalem yang pada zaman itu tandus. Anggota Colony ini
kemudian bergabung dengan orang-orang Kristen Swedia, terlibat dalam
pekerjaan filantropis antara penduduk Yerusalem terlepas dari afiliasi
keagamaan mereka dan tanpa motif dakwah – dengan demikian memperoleh
kepercayaan dari Muslim lokal, Yahudi, dan komunitas Kristen.


              Selama dan segera setelah Perang Dunia I,
Koloni Amerika memainkan peran penting dalam mendukung
komunitas-komunitas melalui penderitaan besar dan kekurangan dari front
timur dengan menjalankan dapur umum, rumah sakit, panti asuhan dan amal
usaha lainnya. Dan mereka semua menetap di Yerusalem. Horatio G.
Spafford meninggal di Yerusalem tujuh tahun kemudian yakni pada 16
Oktober 1888.


             Satu hal yang sangat menarik dari pribadi
Spafford, meskipun nampaknya ia kecewa karena harapannya untuk melihat
kedatangan Tuhan Yesus ke dunia diakhir hidupnya tidak terwujud, bahkan
kecewa atas kepergian orang-orang yang dicintainya, tetapi Horatio
Spafford tidak kecewa terhadap Tuhan, karena imannya yang ia yakini
membuatnya tetap teguh ditengah-tengah kesukaran hidupnya yang dapat
meremukkannya bahkan bisa membuatnya meninggalkan Tuhan. Imannya itu
dinyatakannya dengan nyanyian “Nyamanlah Jiwaku.” Syair yang menyatakan
pengharapan itu telah berkumandang di seluruh dunia termasuk di
Indonesia.





Latarbelakang Penulisan Lagu




 A. Dasar Alkitab





             Spafford menghidupi Mazmur 46:1 dalam Alkitab Indonesia Terjemahan Baru tercantum pada ayat yang ke-2 yang berbunyi: “Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti.”
Bagian ini adalah pernyataan kepercayaan. Dengan tenang dan agung
tetapi juga dengan lantang nyanyian ini dibuka dengan suatu pernyataan
kepercayaan yang bernada pujian kepada Tuhan sebagai “perlindungan dan kekuatan umat-Nya.”
Sebagai penolong dalam kesesakan hal ini berulang terbukti dalam hidup
umat. Kesimpulanya jelas. Meskipun mereka mengalami ancaman yang paling
dasyat sekalipun seperti bumi bergerak dan gunung-gunung bergoncang oleh
karena kecongkakan gelora lautan dibawah bumi mereka tidak akan takut
(ayat 3-4). Demikianlah pernyataan iman jemaah yang dibawakan oleh kor.
Dengan penuh keyakinan mereka meneguhkan pernyataan kepercayaan itu
dengan refrein. Allah yang menjadi perlindungan dan kekuatan mereka itu
adalah “TUHAN semesta alam”, Raja yang maha kuat dan maha Agung yang
mengatasi segala sesuatu.


            Nyanyian ini merupakan suatu kesaksian iman
yang paling mengesankan tentang Allah menolong dalam kesesakan. Hanya
orang yang memeberikan dirinya sepenuhnya kepada Allah, kepada
keberanian iman ini, akan dipenuhi oleh Allah, sehingga tidak ada
sesuatu yang lain. Iman yang teguh diperoleh karena orang percaya dan
tahu bahwa Allah berada ditengah mereka dan inilah yang Spafford bahkan
kita rasakan.





B. Teks Lagu dan Musiknya 





             Naskah asli dalam versi Inggris berjudul “It Is Well With My Soul”
dalam versi Indonesia yang paling sesuai adalah terjemahan dalam PPK
yakni “Nyamanlah Jiwaku” sedangkan dalam Kidung Jemaat diterjemahkan
“Selamatlah” terjemahan ini tidak sesuai dengan maksud penulis hymn,
jika memakai teerjemahan yang kurang baik maka hymn yang baik ini akan
kehilangan makna aslinya. Terjemahan dalam PPK 138, adalah terjemahan
yang baik sehingga jika kita menimkati hymn ini dalam bahasa Indonesia
kita tidak kehilangan makna asli dari maksud dan tujuan teks asli.


            Musik lagu ini sangat indah, membawa dampak
positif terhadap jiwa jika mendengarkannya dengan baik. Begitu pula
keharmonisan antara harmoni dan teks sangat cocok sehingga menambah
keindahan dan mendapatkan mood perasaan penulis hymn ini. Musiknya yang
lembut secara sinergi sangat menekankan teks asalnya sehingga maknanya
bisa keluar dan bisa dinikmati pendengar.





C. Teologia dan Penerapannya





            Lagu ini sangat teologis pada bait yang
pertama penulis hymn mengangumi dan merasakan pemeliharaan Allah, pada
bait yang kedua Spafford menjadikan Yesus sebagai sentral hidupnya sebab
ia percaya di dalam Yesus ada jaminan hidup kekal serta jadi kekuatan
Spafford dalam mengahadapi badai kehidupan. Selain itu pada bait yang
ketiga dalam lagu ini pengharapan eskatologi sangat kental.


          Spafford dengan pengharapan menantikan hari
dimana tidak ada lagi duka derita seperti di alami semasa di dunia yang
penuh kejahatan dan ketidakadilan ini. Yakni kedatangan Tuhan Yesus
sebagai raja yang kali kedua. Syair lagu yang sarat dengan teologia yang
membangun iman pendengar ketika mendengarkan lagu ini.


Darimanakah datangnya pikiran mulia yang
mengilhami Horatio Spafford menuliskan syair pujian yang begitu
terkenal? Terkenal bukan saja karena syair yang begitu Alkitabiah,
tetapi karena ditulis pada saat tragedi demi tragedi sedang menerpa
hidup keluarganya. 


          Paling tidak ada dua sumber utama. Pertama,
firman Tuhan. Alkitab menyatakan bahwa keselamatan sejati ada di dalam
Kristus yang telah mengurbankan diri-Nya di kayu salib. Firman Tuhan
adalah kebenaran mutlak, yang menjadi dasar kepastian keselamatan bagi
semua orang percaya.  


Kedua, iman Spafford
pribadi yang meyakini secara teguh dan berserah penuh kepada Tuhan yang
adalah sandaran yang kuat dan jaminan hidup yang pasti. Iman inilah yang
menafsirkan pengalaman hidup dalam terang firman hingga memampukan
Spafford berkata di tengah derita bertubi-tubi bahwa “It is well with my soul.”


          Pikiran mulia memang hanya bisa bersumber
pada Allah yang mulia, yang telah menyatakan diri dan rencana-Nya dalam
Alkitab. Di luar Alkitab yang ada hanya pikiran-pikiran manusia yang
sudah dinodai dosa dan ditipu oleh Iblis sehingga melihat semua kejadian
di muka bumi ini melalui kaca mata negatif, buram, dan terdistorsi.
Pikiran mulia hanya bisa keluar dari orang yang mengisi hidup dan
pikirannya dengan firman Tuhan. Firman Tuhan sekaligus menjadi benteng
bagi dirinya dari pikiran-pikiran yang menyesatkan. Maka nasihat Paulus
kepada jemaat Filipi, “…semua yang benar, semua yang mulia, semua
yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar,
semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya
itu.”
Yaitu semua pikiran yang bersumber dari firman Tuhan.


           Penulis setuju dengan teologi lagu ini,
sangat baik penuh makna dan pasti membangun dan menguatkan iman jemaat.
Karena lagu ini selain Alkitabiah mengandung teologi dan pengajaran yang
baik dan benar.





D. Apa Alasan Penulisan





           Menurut Kenneth W. Osbeck, Spafford
menerima kenyamanan dan damai dari Allah yang memungkinkan dia untuk
menulis lirik lagu itu. Meskipun di dera duka yang amat dalam tidak
membuat Spafford patah arah. Terbukti di tengah duka yang ia alami tak
lama setelah itu, dalam sebuah perjalanan menyusul istrinya ia melewati
tempat dimana ke empat putrinya tenggelam dengan pena di tangan, ia
menulis syair yang penuh dengan semangat pengaharapan “It Is Well With My Soul”
yang sangat jelas menggambarkan suasana hati paling pedih dan kesedihan
pribadinya yang dalam. 


          Spafford tidak menumpahkan kedukaannya tapi
lebih pada pengampunan yang sudah dilakukan Kristus dan pengharapan akan
kedatangan-Nya yang kedua. Secara manusiawi, sulit dipercaya bahwa di
tengah-tengah rasa dukanya yang mendalam, Spafford sanggup mengatakan,
“Nyamanlah jiwaku” dalam sebuah syair indah karyanya.


          Mengapa Spafford menulis teks ini ditengah
duka yang ia alami? Karena Spafford yakin bahwa Allah yang ia sembah dan
layani adalah adalah yang Hidup yang peduli akan ciptaan-Nya. Selain
itu keyakinan akan kedatangan Kristus juga menjadi alasannya juga.
Keyakinan itulah yang menguatkan dan menginspirasi Spafford menuliskan
pengalaman bersama Tuhan dalam sebuah kalimat-kalimat puitis yang sarat
makna rohani dalam sebuah tulisan indah. Hanya kekekuatan dan rahmat
dari Tuhan yang memampukan Spafford bisa menuangkan kata-kata yang indah
dan bermakna ditengah-tengah ombak kehidupan yang menerpa hidupnya dan
inilah yang menjadi kekuatan yang mendampingi lagu ini, hingga lagu ini
menjadi lagu yang hidup sarat makna dan menjadi berkat bagi banyak
orang. Spafford ingin membagikan pengalaman hidupnya bersama dengan
Tuhan kepada semua orang, bahwa dalam Tuhan ada pengaharapan, ada
kekuatan meskipun dalam keadaan genting sekalipun, Tuhan tidak pernah
meninggalkan umatnya Mazmur 46:2 berbunyi, “Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti.”
Akan sangat sulit bagi kita untuk memprediksi bagaimana kita akan
bereaksi dalam kondisi yang sama dengan yang dialami oleh Spaffords. Ia
telah membuktikannya tetap tegar dalam duka yang bertubi-tubi, iman yang
tetap setia hingga akhir.


              Lagu ini sangat dekat dengan orang-orang
yang mengalami pengalaman hidup yang sama dengan Spafford. Lagu ini
secara pribadi sangat berdampak pada penulis sendiri baik syair maupun
pribadi Horatio Spafford menginspirasi, memberikan teladan, pelajaran
berharga dalam seluruh kehidupan penulis bahkan pendengar pada umumnya.
Semangat firman dalam lagu ini terus menggema hingga saat ini, saat
mendengar lagu ini perasaan Spafford kala menulis syair ini merasuki
jiwa imajinasi pribadi semua pendengar. Gema hymn karya Spafford telah
mempengaruhi seluruh dunia. 


             Nyanyian ini begitu indah. Ini benar-benar
membawa pulang pesan bahwa tidak ada kesenangan duniawi yang membawa
damai, tetapi damai Kristus dan kasih Allah dapat ditemukan dalam
keluarga dan persahabatan sejati dan dalam hubungan dekat dengan Allah
sendiri. Sukacita mendengar kata-kata dan lagu ini membangkitkan
semangat!! Kristen muda perlu menyanyikan lagu ini untuk mengingatkan
diri dari makna hidup, dan untuk tetap setia kepada Yesus di dunia ini
mengerikan.(IS)





Dari: paper Hymnology karya Imanuel Suluh





PUSTAKA



Barth, Marie Claire. Tafsiran Alkitab Mazmur 1-72. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009.


Osbeck, Kenneth W.101 Hymn Stories Grand Rapids: Kregel Publication, 1982.


McElrath William N. Terj.Imarto Wirawan, Cerita-cerita dari Lagu-lagu rohani Kesayangan Kaum Kristen Indonesia-Jilid II Bandung:Lembaga Literatur Baptis,1975.


Osbeck, Kenneth W. Amazing Grace: 366 Inspiring Hymn Stories for Daily Devotions. Grand Rapids: Kregel Publications, 1990.


http://en.wikipedia.org/wiki/Horatio_Spafford


http://www.christians.com/horatiospafford/main





 ”Nyamanlah Jiwaku”


 Verse 1


Bila damai mengiring jalan hidupku


 Rasa aman di hatiku


 Dan kesusahan menimpaku


 Tlah Kau ajarku mengingat firmanMu


Reff:


Nyamanlah jiwaku


 Nyamanlah, nyamanlah jiwaku


 Verse 2


 Dalam pergumulan dan perncobaan


 Kristus membrikan jaminan


 Dan mempedulikan kepapaanku


DarahNya membasuh jiwaku


 (back to Reff)


Verse 3


Tuhan lekaskanlah harinya tiba


 Imanpun akan tampaklah


Dan sangkakala pun akan berbunyi


Tuhan akan turun ke bumi


1 comment:

  1. Strongly builds the faith of everyone who believes in the Lord Jesus. Very inspiring and uplifting in distress. Thank you

    ReplyDelete

Thanks so much for taking the time to leave a comment :)

 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

ShareThis