twitterfacebookgoogle plusrss feedemail
Life-ex photo banner-211_zps596e9fc0.jpg
Showing posts with label Christian Life. Show all posts
Showing posts with label Christian Life. Show all posts

Friday, April 5, 2013

I’M TELLING YOU AGAIN







Deuteronomy
1:5









How
many times you have reminded your children not to touch a hot stove or say a
bad word? It seems that some things just have to be repeated again and again,
from one generation to next.





As we
read through Deuteronomy this month, you may think to yourself, ”I’ve read this
before.” And you probably have in Exodus, Leviticus, or Numbers.





So why
the repetition? In those books Moses was speaking to one generation of the
children of Israel. But that generation died in the desert, so in Deuteronomy
Moses speaks to the next generation also. Moses repeats God’s instruction from
Mount Sinai and retraces Israel’s travels in the desert so that this new
generation will know how to obey God as they enter the promised land.





Deuteronomy
calls this combination of history and instruction “this law.” Like the
constitutional of your country, “this law” describes how Israel will live among
other nations. “This law” is not just a code. It is God’s voice – his Sinai
speech repeated by the greatest prophet of the Old Testament. When Moses spoke
“this law” Israel heard God’s voice.





Moses
repeated these instructions so that all generation of God’s people could live
safely in God’s presence. Later God also spoke through the greatest prophet of
all: Jesus Christ. Let us hear God’s words and live.






Friday, March 1, 2013

Mengalahkan Ketakutan dengan Ketakutan









Keluaran 33:1-5;
11-15





Setiap orang
tentu punya ketakutannya masing-masing, bahkan ada sebagian orang yang takut
pada benda-benda yang oleh sebagian orang justru dianggap lucu semisal badut,
kucing, anak ayam, semangka, wortel dan 
masih banyak lagi. Ini menandakan bahwa setiap orang punya ketakutan
masing-masing (phobia). Sebab selain
memiliki banyak kelebihan, manusia ternyata juga disebut sebagai mahluk yang
paling banyak memiliki ketakutan. Ada berbagai hal yang seringkali ditakuti
oleh manusia pada umumnya, misal; takut mati, takut gagal, takut ditolak, takut
gelap, takut ketinggian, takut kehilangan dan sebagainya.


        Takut
pada hal-hal tersebut tentu sah-sah saja, karena memang hal-hal tersebut sangat
berdampak terhadap kehidupan manusia. Oleh karenanya manusia berusaha dengan
segala cara untuk mengatasi ketakutan-ketakutan ini. Meski demikian ternyata
ada satu cara yang sering kali dilupakan oleh manusia padahal cara ini terbukti
ampuh untuk mengatasi berbagai macam ketakutan yaitu melawan ketakutan dengan ketakutan.


Untuk mengatasi
berbagai macam ketakutan itu manusia membutuhkan ketakutan. Sebuah ketakutan
yang telah menjadi kunci sukses pelayanan dan hidup seorang Musa. Apa yang
ditakutkan seoranng Musa? Tidak ada yang lain selain takut jika Allah tidak
lagi berjalan bersama-sama dengan dia. Bukankah ini merupakan ketakutan yang
mampu mengatasi ketakutan namun justru manusia sering mengabaikannya?


Sikap Musa
demikian sangat luar biasa, bagaimana tidak, kemampuan dia punya, pengalaman
dia punya dan situasi yang ia hadapi juga tidak sampai parah karena masih ada
malaikat yang TUHAN janjikan untuk berjalan bersama mereka (ayat 2). Tetapi mengapa
Musa tidak mengandalkan semuanya itu? Mengapa hanya TUHAN satu-satunya pribadi
yang ia kehendaki dan andalkan? Tidak lain karena Musa mengenal Allah. Ia tahu
dengan pasti bahwa TUHAN adalah pribadi yang bisa dipercaya. Sebab apa yang Ia
firmankan tak satupun yang tak tergenapi. Ia adalah pribadi yang bisa
diandalkan. Kalahkan ketakutan dengan ketakutan!


Wednesday, February 20, 2013

TENTERAM DI DALAM LEMBAH KEKELAMAN







Yohanes 14:27; Filipi
4:4-9







Hidup yang bersukacita adalah
kehendak TUHAN dalam kehidupan orang percaya. Sukacita berbicara ketentraman
jiwa. Damai sejahtera yang Alkitab bicarakan adalah unik, sejati dan spesial (Yoh.
14:27). Damai sejahtera yang Allah karuniakan kepada manusia adalah damai yang
tidak pernah terpikir oleh manusia (Fil.4:4-9). Damai sejati tidak akan pernah ditemukan
manusia dalam proses pencariannya, karena pada hakekatnya damai sejati adalah
bersifat anugerah.





Dikatakan damai sejati karena
bukan bersifat sementara atau hanya penampilan belaka. Damai sejati tidak
tergantung atau dipengaruhi situasi. Selain itu mengapa dikatakan damai yang
sejati karena dijamin oleh Allah sendiri. Dia Allah penentu dan penjamin dalam
sejarah kehidupan manusia. Allah sejak semula telah merancang damai sejahtera (Shalom)
bagi kehidupan manusia. Namun ketika manusia jatuh dalam dosa, dosa mencemari
seluruh aspek hidup manusia saat itulah tidak ada damai dalam hidupnya.





Firman Tuhan hari dalam Yohanes
14:27, Yesus mengatakan ada damai dalam Dia yang dunia tidak dapat berikan.
Kedamaian sejati hanya ada dalam Yesus. Damai yang mendamaikan manusia dengan
Allah, damai yang mendamaikan manusia dengan alam dan sesamanya, damai yang
menjamin manusia tidak akan binasa melainkan beroleh hidup kekal. Dalam kehidupan ini tentu kita
pernah bahkan sering merasakan tidak ada damai. Mengapa kita masih mengalami
rasa tidak damai? Melalui Filipi 4:4-9 kita diberitahukan ada penghalang-penghalang
yang menghalangi orang percaya hidup bersukacita. Penghalang sukacita  itu adalah:





1.      
Sifat
Keakuan (Filipi 4:4)


Sifat keakuan
ini bisa merekrut kedamaian dalam hidup manusia. Bagi Paulus inti pertikaian
adalah menganggap diri utama. Bagi Paulus inti sukacita bukan berfokus pada diri
tapi ketika melihat orang lain (Fil 1:4; 2:17). Sukacita bagi Paulus berbuat
baik pada sesama (4:5). 





2.     
Rasa
Kuatir (Filipi 4:6)


Orang yang
kuatir tidak mungkin bersukacita. Rasa kuatir timbul karena manusia merasa ia
terbatas. Maka itu manusia tidak bisa mengandalkan diri untuk mencari rasa
damai. Untuk itu buanglah rasa kuatir, berharap dan bergantunglah pada Dia
karena Dia sanggup beri damai sejati dalam hidup ini. 





3.      
Kebiasaan
Kita (Filipi 4: 8-9)


Dunia membuat kita
terbiasa mengikuti jalannya yaitu mengikuti cara yang dianggap dunia sebagai
jalan keluar. Namun firman Tuhan mengingatkan kita agar merenungan Firman (Filipi
4:8; Mazmur 1). Tidak hanya itu saja kita diajak untuk melakukan firman itu
dalam kehidupan kita.





Di Tahun yang baru
ini mari membiasakan diri memikirkan orang lain lebih utama, menyerahkan
kekuatiran pada Tuhan dan jangan andalkan diri serta membiasakan merenungkan
dan melakukan firman Tuhan maka Allah sumber damai sejati akan menganugerahi
damai yang sejati.


Thursday, February 7, 2013

TANGGALKAN TOPENGMU!









2 Korintus 10:9-10





Dalam kehidupan sehari-hari tentu
kita semua tahu tentang topeng. Topeng seringkali digunakan untuk berbagai hal
(film, drama, dll). Namun ternyata dalam kehidupan ini ada juga topeng-topeng
yang seringkali disalahgunakan yang kemudian menimbulkan masalah dalam diri
manusia. Topeng digunakan orang agar tampil beda. Tidak heran kemudian ada
begitu banyak orang yang mengenakan topeng agar terlihat berbeda dari aslinya, agar
dapat menyenangkan orang lain. Namun tanpa disadari ketika seseorang mengenakan
topeng sebenarnya ia membiarkan dirinya dirusak yang kemudian tinggal menunggu
waktu kehancuran dalam hidupnya.





Dalam 2 Kor. 10:9-10
memperlihatkan bagaimana Rasul Paulus membela diri terhadap pengkritik yang iri
terhadapnya. Pada waktu itu ada guru-guru palsu, pengajar-pengajar yang ahli
berfilsafat dan fasih berpidato yang merasa iri dan terganggu posisi/kedudukan
mereka di hadapan warga Korintus. Mereka kemudian iri serta terusik terhadap
kehadiran Paulus yang penampilannya tidak menarik, tidak sekolah pidato, yang
bicaranya biasa-biasa saja namun memiliki banyak pengikut dalam waktu yang
singkat. Mereka kemudian melakukan provokasi terhadap jemaat di Korintus dengan
menyatakan bahwa Paulus adalah seorang yang tidak konsisten. Mereka menyatakan
Paulus tidak tampil seperti apa adanya. Di surat meneggur dengan tegas dan keras
namun ketika berhadapan muka tidaklah demikian. Lalu Paulus dalam pembelaannya
mengatakan bahwa dia bukan orang seperti yang dituduhkan, dia selalu tampil apa
adanya, dalam surat begitu tegas demikian pula ketika berhadapan muka. Paulus
tidak memakai topeng, ia tidak menunjukan dirinya yang berbeda ketika hadir
berhadapan muka dengan jemaatnya. Paulus memberi telandan tetap konsisten dan
tampil apa adanya.





Berikut ini topeng-topeng yang
harus kita tanggalkan dalam kehidupan kita sebagai orang percaya
; 





1. Topeng yang menunjukan Aku tidak ada masalah  


Jangan pernah menampilkan diri seolah-olah
tidak pernah punya masalah. Jujur terhadap diri dan tentunya terhadap TUHAN
bahwa sesungguhnya kita punya masalah dan butuh jalan keluar.
 





2. Topeng Inkonsistensi 


Ketika seseorang tidak konsisten dalam
hidupnya maka lamban laun inkonsistensi tersebut akan merusak dirinya (dia
menjadi orang tidak jelas dan tegas).
 





3. Topeng Penipuan. 


Jangan pernah menunjukkan diri kita benar padahal
sebenarnya tidak. Tuhan Yesus dalam Mat 5:37 berkata:  “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika
tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari
si jahat.”





Belajar dari Paulus yang tampil apa adanya mari kita menjadi
orang bahagia dengan menanggalkan topeng-topeng yang mungkin kita kenakan,
berganti dengan apa adanya disertai kemurnian hati. Jangan biarkan diri kita
tidak memperkenankan hati TUHAN dengan tampilan kita yang tidak original. Tanggalkan
topengmu!









Saturday, December 29, 2012

JOURNALING



"These commandments that I give you today are to be upon your hearts."


(Deuteronomy 6:6)







Have you ever tried journaling? As a spiritual discipline, journaling involves writing down your thoughts and responses as you sit in God's presence and read or reflect on Scripture, on how God is working in your life, or on anything else that is affecting you.





Keep an empty spiral notebook and a pen handy as you practice lectio divina or as you sit quietly in an attitude of receptivity to God. remember: the disciplines often combine.





with your notebook open, write down all the thoughts that come to you. These thought do not have to be planned out or organized. They are for no one's eyes but your own-unless you choose otherwise. You may want to share them in confidence with a spiritual mentor or a friend who is walking closely with you in your spiritual journey. Write as much or as little as you can each day, and date the entries.



It's not necessary to go back and read what you have written, but after a time it you can help to look back on some pages. Note now you have changed. Has God written his commands in your heart as you have written them on paper? Perhaps some of the things you wrote will surprise you with their depth of perception in hearing God's voice or experiencing his presence. You can listen to God even when you're the one doing the writing.



Prayer:



O God, author of every good word, thank you for your Word. Help us experience your living presence from your Word as you write that Word into our hearts and lives. Amen.


 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

ShareThis