twitterfacebookgoogle plusrss feedemail
Life-ex photo banner-211_zps596e9fc0.jpg
Showing posts with label Tokoh. Show all posts
Showing posts with label Tokoh. Show all posts

Monday, December 3, 2012

Olivia Sang Malaikat Kecil Telah Menyelesaikan Tugasnya





Kisah nyata tentang kehidupan gadis kecil yang bernama Olivia






Pengantar Redaksi: Dalam terbitan Warta RC minggu
lalu dimuat suatu ucapan belasungkawa atas berpulangnya Olivia
Laurencia, 10 tahun, keponakan dari Jelly Lim,  anggota Dewan Paroki
Regina Caeli. Banyak Warga RC yang menyempatkan diri melayat di rumah
duka ikut menitikkan air mata tapi sekaligus diteguhkan iman mereka
mendengar  kisah hidup Olivia  yang berjuang melawan penyakitnya sejak
usia satu setengah tahun. Berikut adalah kesaksian yang ditulis oleh
salah seorang kerabatnya. Semoga kesaksian ini membawa kita pada
permenungan yang mendalam tentang makna hidup kita masing-masing. 






Tiga
Juli 1999, tangis bayi memecah kesunyian. Sang bayi mungil lahir ke
dunia membawa kebahagiaan bagi pasangan Jimmy dan Aiwan. Kulit putih
kemerah-merahan, mata yang sungguh indah, bahkan ia memiliki bobot tubuh
yang cukup besar dibandingkan ukuran normal bayi yang baru lahir. Semua
orang yang melihat memuji sang bayi cantik yang kemudian diberi nama
Olivia Laurencia dengan nama kecil Ping Ping ini. Yah, ini adalah
mahakarya yang sungguh indah dari Tuhan bagi keluarga muda itu.






Sang
bayi mungil tumbuh cepat dan makin cantik dari waktu ke waktu. Babak
baru kehidupannya dimulai ketika umur satu setengah tahun. Saat anggota
keluarga yang lain melihat adanya kelainan penglihatan pada Oliv kecil,
segera mereka memeriksakannya ke dokter. Bagaikan disambar petir mereka
harus menerima kenyataan bahwa Olivia divonis menderita kanker mata,
atau istilah kedokterannya penyakit Retina Blastoma. “Biasanya
untuk penyakit begini umurnya paling sekitar 2 tahun lagi,” demikian
kata sang dokter yang terus terngiang-ngiang di ingatan orangtuanya.






Bergelut dengan Pengobatan






Berbagai
pengobatan mulai dijalani, bahkan pengobatan sampai ke luar negeri.
Dokter menyarankan agar bola mata kiri yang terkena kanker segera
diangkat. Namun sang papa bersikeras untuk tidak mengambil jalan itu.
“Dia seorang anak gadis, bagaimana dia menghadapi hidupnya kelak dengan
mata palsunya. Jalan ini juga tidak bisa menjamin 100% sel kanker itu
hilang begitu saja. Mata dia sungguh indah, semua orang juga
mengakuinya,” berontak sang papa. Akhirnya dipakailah cara kemotherapy untuk
mematikan sel-sel kanker yang telah tumbuh itu. Saat sang putri
kesayangan teriak menahan sakit yang dideritanya, sang papa tidak kuat
menerima kenyataan itu bahkan ia membenturkan kepalanya sendiri ke
dinding.






Menurut
pengakuannya meski sudah dibaptis dan menjadi pengikut Kristus, Jimmy
dan Aiwan belum menjadi pengikut Kristus yang sesungguhnya. Untuk pergi
ke gereja pun kadang masih agak ogah-ogahan. Tepatnya hanya menjadi umat
yang biasa-biasa saja. Dalam mimpinya suatu malam Jimmy didatangi oleh
malaikat yang membawa sebuah maklumat berisi hanya satu kata ‘BAPTIS’.
Setelah menceritakan kepada saudaranya, saudaranya itu memberikan
masukan “baptis berarti kamu mesti bertobat!”. Sambil tetap menjalani
pengobatan, kondisi Olivia mengantar papa dan mamanya lebih rajin dalam
berdoa dan mengikuti persekutuan. Mereka lebih berpasrah dan menyerahkan
sepenuhnya kepada kehendak Bapa. Mereka bertumbuh dalam iman di tengah
penyakit yang diderita Olivia.


Di
sela-sela kesibukan mengurusi pengobatan Olivia, Elohim mendatangkan
penghibur di keluarga ini. Seorang anak pemberian Tuhan hadir di tengah
mereka. Sang adik kecil itu kemudian diberi nama Yohanes Natanael.
Setidaknya ini adalah suatu penghiburan di tengah kesedihan
mereka.        






Olivia sempat menjalani dua kali kemotherapy yang membuat kondisi fisiknya drop. Saat ia drop dan
trombosit dalam tubuhnya turun, sang papa dan pamannya dengan kondisi
was-was musti siap mengantri sepanjang hari untuk mendapatkan bantuan
darah di PMI. Demikian sepanjang hidupnya Olivia menjalani pengobatan.
Biasanya setelahtherapy ia mengalami kerontokan rambut hingga
botak sama sekali. Dengan fisik yang demikian Olivia tidak pernah merasa
rendah diri. Ia tetap menjadi anak yang periang. Bahkan di sekolah ia
termasuk salah satu murid yang memiliki prestasi yang cemerlang. Seluruh
keluarga besar sangat menyayangi dan memberi perhatian penuh kepadanya.
Saat ilmu kedokteran sudah angkat tangan dan hanya memberikan harapan
kosong atas kesembuhannya, seluruh keluarga tidak berputus asa. Berbagai
pengobatan alternatif dijalani. Pantangan-pantangan makanan selalu
dituruti oleh gadis kecil ini. Obat-obatan dari berbagai bentuk dan rasa
yang sungguh merusak indra pengecapan juga dilahap dengan pasrah.






Membawa kepada Kristus


Dalam
kondisi demikian, Oliv kecil sungguh bergantung pada Tuhan Yesus.
Setiap pagi saat jam dinding baru menunjukkan pukul 04.00, bagai jam
weker Olivia membangunkan orangtuanya untuk mengajak doa pagi. Ketika
melihat papanya bersedih hati, Olivia selalu berujar “Smile”. Dengan polosnya Olivia berujar dan mengajarkan papanya“Dalam masalah apa pun kita harus selalu smile.” Imannya
kepada Yesus itu membuat ia boleh dibilang tak pernah mengeluh soal
penyakit yang dideritanya. Ia bahkan tak pernah menangis karena penyakit
itu.






 Iman
Olivia ini menghantarkan sang kakek, nenek, om, tante yang belum
mengenal Kristus menjadi orang-orang percaya. Ketegaran Olivia membuat
mereka semua merasakan bahwa Yesus sungguh ada bersama Olivia. Hal itu
pula yang kemudian mendorong keluarga besarnya semakin berpasrah pada
Yesus. Bahkan mereka kemudian terjun aktif dalam kegiatan rohani di
lingkungannya. Sungguh inilah karya besar yang ditinggalkannya.






Bulan-bulan
terakhir menjelang ajalnya ia menunjukkan kasihnya yang luar biasa
kepada keluarganya, terutama kepada adik kecilnya. Ia
berujar kepada sang mama “Kan Oliv mau jadi peri yang baik hati”.
Natal dan malam Tahun Baru 31 Desember 2008, meskipun menahan sakit
kepala yang belakangan selalu menyerangnya, ia berusaha tetap ceria.
Saat acara tukar kado bersama jemaat Gereja, ia juga masih selalu
bercanda dengan semua orang. Beberapa hari kemudian, 4 Januari 2009,
saat sakit kepala yang semakin parah dan disertai dengan muntah-muntah,
keluarga memutuskan untuk merawatnya di rumah sakit. Semakin lama
kondisi fisiknya semakin parah. Tubuhnya bahkan sudah sulit untuk
menerima asupan makanan. Hal yang ditakutkan pun terjadi. Hasil MRI
menunjukkan sel kanker yang sudah membutakan mata kirinya telah menjalar
sampai ke otak bahkan ke seluruh tubuhnya.






“Terimakasih Tuhan Yesus”






Setiap
hari ia hanya bisa terbaring lemas dan tertidur. Saat ia terbangun,
kesakitan yang sungguh luar biasa dialaminya. Ia hanya bisa berteriak, “Aduh sakit, sakit sekali Tuhan…”.  Sang
mama yang tidak kuat melihat penderitaan putrinya mengatakan, “Kalau
sakit sekali, menangis saja Oliv,” tapi anak ini sungguh kuat. Dia tidak
pernah mau menangisi kesakitannya. Orang tuanya kembali dikuatkan dan
diajarkan untuk tetap tegar dalam segala masalah, walaupun itu tidak
mengenakkan. Kesakitannya semakin memuncak, bahkan obat penahan sakit
yang diberikan dokter sudah tidak bisa menghilangkan rasa sakit itu. Dua
malam menjelang ajalnya, Oliv yang bulan Juli mendatang genap berumur
10 tahun berdoa penuh iman. “Terima kasih Tuhan atas kasih
karuniaMu, Oliv percaya Oliv sudah sembuh, Oliv sudah dipulihkan. Tidak
ada satu penyakit apa pun di badan Oliv, dari ujung rambut sampai ujung
kaki Oliv, karena sudah Engkau tebus di kayu salib. Tuhan berkati Oliv,
Tuhan ampuni semua dosa Oliv, terima kasih Tuhan, Haleluya, Amin...”
 Sebuah doa yang sungguh indah dan penuh makna. Doa seorang anak yang sungguh mencintai dan mengimani Yesus.






Saat
malam terakhir ia bahkan sempat meminta sang papa yang memang sangat
dekat dengannya untuk memeluk, menurunkannya dari ranjang pasien dan
memangkunya. Dia meminta kepada semua orang dan keluarga yang
mengunjunginya untuk senantiasa  berdoa dan mendoakannya sepanjang malam
itu. Detik-detik maut semakin mendekatinya. Dalam kesakitan yang sudah
tidak tertahan, kalimat terakhir yang keluar dari mulutnya “Sakit sekali ya Tuhan, Oliv sudah tidak tahan lagi…” kemudian kepalanya jatuh terkulai sambil berucap “Trima kasih Tuhan Yesus” .
Kemudian ia sudah tidak sadarkan diri, tubuhnya mulai kejang-kejang.
Saat sang papa membisikkan ke telinganya “Papa merelakan Oliv pergi,
karena papa percaya di surga penuh damai sejahtera dari pada di dunia
dengan menanggung penderitaan. Saat Oliv bertemu dengan Yesus dan Yesus
ingin memegang tangan Oliv, segeralah sambut tangan-Nya. Selamat jalan
Oliv kami semua merelakan Oliv.”  Dalam kondisi yang sudah ‘koma’ Olivia
meneteskan airmata.






Sesaat
setelah itu, bergantian istri pendeta memegang tangan Oliv sambil
membisikkan di telinganya, “Kalau Oliv sudah bertemu Tuhan Yesus, Oliv
genggam kencang tangan tante yah.." Dalam keadaan ‘koma’ itu ia benar2
menggenggam tangan itu dan tak lama kemudian Oliv kecil pun pergi untuk
selamanya dengan perlahan, tenang dan damai. Dua belas Januari 2009,
pukul 15.45.






Tugasnya sudah selesai






Kedua
orang tuanya tentu sedih dengan kepergiannya. Tapi mereka mengimani
bahwa Olivia sudah bahagia di surga selamanya. Mereka berusaha menahan
tetesan airmata dan merelakan kepergiannya. Mereka berusaha meneladani
apa yang selalu dikatakan Olivia selama hidupnya, bahwa “Segala
sesuatu ada waktunya; selalu tersenyumlah dalam segala hal; tetap kuat
dan tegar dalam pergumulan;  berserah dirilah kepada Tuhan Yesus, karena
Dia akan memberikan jalan terbaik dan selalu mengasihi kita”.






Jasadnya
sudah terbaring kaku, tapi ia terlihat seperti hanya tertidur. Semua
pelayat yang melihat, memuji Olivia bagaikan peri kecil cantik yang
tertidur pulas. Wajah dan kulitnya putih bersih. Bibir kecilnya
menyunggingkan senyum kecil bahagia. Salah satu mata yang tadinya agak
cekung karena sel kanker sudah menggerogoti dan membutakan mata kirinya
bahkan terlihat normal kembali. Ia benar-benar seperti tertidur. Semua
mengimani, saat ajal menjemputnya Tuhan terlebih dahulu memulihkan
fisiknya. Keluarga besarnya juga mengimani bahwa Olivia adalah penolong
yang diberikan Tuhan di tengah-tengah keluarga mereka. Melalui sakit
yang dideritanya satu persatu anggota keluarga besarnya bertobat dan
menerima Kristus. Tugas malaikat kecil ini sudah selesai, maka ia
kembali dipanggil Bapa ke surga.






 Bahkan
saat pemakamannya, di tengah-tengah cuaca yang sepanjang hari dipenuhi
hujan deras, ketika kebaktian pamakaman dimulai, dan ketika sang
pemimpin Ibadat menyerukan “Semoga prosesi pemakaman ini diliputi dengan
cuaca cerah… Tuhan, walaupun kami tidak dapat melihat dengan mata kami
tapi kami yakin Tuhan hadir di tempat ini,” detik itu juga, gemuruh
guntur berbunyi seakan langit menjawab. Dan hujan yang sepanjang hari
menyelimuti bumi, seketika berhenti. Semua yang menghantar ke pemakaman
ini dengan tertegun berujar dalam hati, “Sungguh ia benar-benar dikasihi
Tuhan”


Segalanya
berjalan lancar, kepergian sang malaikat kecil bahkan didoakan dan
dihantar oleh beratus-ratus pelayat. Walaupun Olivia sudah tidak ada di
dunia, tapi karyanya dalam dunia sungguh selalu akan dikenang. Karena
bukan diukur dari berapa lama kita tinggal di dunia, tetapi seberapa
berartinya hidup yang kita jalani.


Selamat jalan Olivia, doa kami menyertaimu selalu. Dan kami percaya, engkau juga senantiasa mendoakan kami dari sana. (sanz)


Monday, November 19, 2012

A CHRISTIAN WORLDVIEW: ESCAPE FROM REASON BY FRANCIS A SCHAEFFER







        Francis Schaeffer adalah salah satu pemikir Injili yang mencoba
mengaitkan dirinya dengan kebudayaan sekuler. Karya terbaru yang cukup
berpengaruh dalam ranah pemikiran filsafat serta teologia Kristen adalah
karyanya berjudul Escape From Reason.
Melalui buku ini Scaheffer melihat dan menganalisa secara luas bukan hanya
filsafat dan teologi tetapi juga seni dan sastra.




            Melalui
bukunya Schaeffer melihat dan menguraikan mula sekularisme yakni ketika manusia
mencoba dengan memecahkan segala sesuatu dengan otonomi pikirannya. Manusia
menjadikan pikirannya sebagai satu-satunya penentu segala sesuatu. Ia melihat
masalah yang paling krusial yang dihadapi orang Kristen hari ini berakar pada
Abad Pertengahan dan pengaruh pemikiran Aquinas pada khususnya. Aquinaslah yang
membuka jalan bagi rasionalitas otonom. Pembedaan Aquinas antara anugerah dan
alam telah memberikan tanah subur bagi keyakinan bahwa manusia bisa mandiri, otonom.


Dalam EFR Schaeffer  meneliti hubungan antara 'anugerah' dan
'alam'. Dia berpendapat bahwa alam telah perlahan-lahan telah 'memakan' kasih
karunia. Namun sebuah 'garis' atau 'celah' ada antara dunia atas seharusnya
rahmat dan alam yang lebih rendah dari alam. Masyarakat Barat telah pergi di
bawah garis ini dan itu telah menyebabkan putus asa. Putus asa ini terungkap
pertama dalam filsafat; kemudian, ia menyebar hingga seni, maka musik dan
budaya umum, sebelum mencapai teologi.


Schaeffer juga menguraikan Kesatuan antara Alam dan
Anugerah dengan mengangkat hubungan sejarah antara Renaissance dan Reformasi ia
mengkontraskan kedua pandangan dari ke dua belah pihak. Para reformator menolak
humanisme dan sepenuhnya menerima apa yang dikatakan Alkitab mengenai manusia
yang digambarkan sebagai mahluk mulia yang diciptakan sesuai rupa sang
Pencipta.


Melihat berkembangnya paham-paham bertentangan dengan
Iman Kristen, Schaeffer berkeras bahwa kekristenan masih mempunyai kesempatan
menjawab semua bentuk paham tersebut dengan rasional yang dapat
dipertanggungjawabkan. Bersama para reformator Schaeffer menekankan bahwa kita
tidak boleh menyingkirkan otoritas Kristus di dalam Alkitab. Melalui Alkitab
Schaeffer menguraikan kerangka berpikirnya tentang Allah, manusia dan alam. Ia
menegaskan segala sesuatu ada karena Tuhan yang menciptakannya. Allah itu
adalah  Allah yang dipahami dalam Alkitab
yaitu Allah yang hidup dan sungguh-sungguh berpribadi dan manusia adalah
karya-Nya yang ajaib, Allah menjadikannya secara khusus. Problem muncul ketika
manusia jatuh dalam dosa manusia mencari relasi ataupun memuaskan
keingintahuannya akan segala sesuatu diluar dirinya namun tidak mampu. Alkitab
mengajarkan sekalipun manusia hilang tanpa harapan namun ia bukan nihil.
Manusia hilang karena terpisah dengan Allah. Alkitab menunjukkan kepada manusia
jalan keluarnya dengan memproklamirkan penebusan dalam Kristus hanya dengan
melalui Kristus ada pendamaian dengan Allah dan hanya melalui cara ini manusia
bisa memahami dan menyadari keberandaannya yang sesungguhnya.


            Buku
Schaeffer Escape From Reason sudah
pasti ditulisnya untuk membuka cakrawala pemikiran dalam kekristenan. Agar
seorang Kristen memiliki Worldview yang
luas dapat menjawab problem kekinian dengan paradigma Alkitab dan dapat
dipertanggungjawabkan dengan rasional.


Sesuai dengan tujuan buku ini maka buku
ini
sepertinya tidak hanya ditujukan kepada
pembaca akademisi
saja. Namun
tidak menutup kemungkinan kepada pembaca umum jika ia memiliki ketertarikan
dengan filsafat maupun teologia.


Secara
keseluruhan
kerangka pemikiran Schaeffer
dalam menganalisa filsafat, teologia hingga seni patut diacungi jempol. Pemikiran
kritis sistematis, mendongkrak pemikiran generasi selanjutnya bahkan saya
secara personal dalam memahami baik sejarah maupun perkembangan pemikiran modern.


Melalui buku ini Schaeffer mengkomunikasikan kekristenan
ke budaya modern. Dia membangun kita untuk melihat adanya humanisme sekuler dan
menunjukkan bahwa adalah mungkin untuk berpikir dan menjadi seorang Kristen
pada saat yang sama. Buku ini memberikan pengenalan yang sangat baik untuk
ide-idenya, meskipun hal itu menunjukkan asal-usulnya dalam format kuliah: ada
beberapa catatan kaki dan referensi.


Pandangan yang ia sodorkanpun saling berintegrasi
dengan kehidupan sehingga lebih mendarat bagi pembaca. Secara sistematis
Schaeffer mengungkapkan tesis utamanya dengan gambaran, nama-nama serta ide-ide
yang mengalir yang membuat kita menikmati lembar demi lembar penuturannya.


Disayangkan dibeberapa bagian penting Schaeffer tidak
menggunakan ilustrasi. Sebenarnya Schaeffer membuat beberapa poin yang sangat
baik tentang kasih karunia dan alam menggunakan deskripsi dari karya seni dan
memiliki ilustrasi akan sangat memperkaya pengalaman membaca.


Schaeffer dengan semangat untuk mengerti kebenaran dan
dengan pemikiran kristis dan sistematis akan mengantar pembaca melihat sisi
lain dari dunia modern serta bagaimana pandangan Kristen terhadapnya. Dan akan
membantu pembaca untuk lebih memahami dunia modern dengan segala pahamnya serta
memiliki worldview yang sesuai dengan
Alkitab


Sangat
di sarankan untuk membaca buku
baik ini
sebagai referensi yang baik serta untuk
menambah bahkan memperdalam
pengetahuan
khusunya dalam bidang filsafat dan hubungannya dengan Iman Kristen
.


            Akhir kata buku Escape From Reason telah membuka
cakrawala berpikir saya secara personal. Karya yang menganggumkan penuh dengan
pemikiran yang tetap relevan dari waktu ke waktu.






Wednesday, November 7, 2012

The memorial of Dr Richard Teo Keng Siang (1972 - 2012)




Tolong dibaca, kesaksian yg sangat bagus.



Ringkasan:
DR. Richard Teo Keng Siang adalah seorang 'biasa' yang berjuang, bekerja
keras dan sukses luar biasa. Sebagai dokter kecantikan, ia kaya luar biasa,
di usia 40 tahun, 1 istri, dia punya segalanya: ketenaran, kekayaan,
cakep dan dia rajin fitnes juga (6x seminggu/tiap hari). Waktu dia
diajak ke gereja dia blg gini: saya sangat sibuk di pagi hari, suru
gereja itu undurkan kebaktiannya jadi jam 2, baru saya dateng. Dia
arogan sekali krn dia merasa punya uang, punya segalanya..



Dia bilang gini: coba aja, apa yg Tuhan bisa lakukan untuk membuat aku pergi ke gereja



Maret
2012, dia lg fitnes, ga enak di punggung, singkatnya (ntar baca yah)
dia kena kanker stadium 4 langsung, dia kaget banget dan ga percaya.
Pertamanya dia menyangkal dan menyalahkan Tuhan, kenapa disaat2 TOP nya
dia kok Tuhan beri itu. Akhirnya dia sadar, hanya itu 1-1 nya cara Tuhan
untuk membuat dia mengerti dan bersaksi. 16 Oct 2012 kmrn dia meninggal
dunia di usia 40 thn. Tapi kesaksiannya yg di rekam dan di post oleh
teman2 ikatan dokter Kristen di Singapore, menyadarkan banyak org kalo
uang tanpa Tuhan itu kosong, HIDUP TANPA TUHAN itu sia2. Baca yah
temen2, bagus banget.







Lihat lengkapnya di link ini:

http://www.heavenaddress.com/Dr-Richard-Teo-Keng-Siang/424153/379719/content





















 

Sunday, August 7, 2011

“Nyamanlah Jiwaku” – Refleksi Hidup Horatio G. Spafford (By Imanuel Suluh)








Judul lagu: It is Well with My Soul

Mazmur 46: 2

Pengarang: Horatio G. Spafford

Komposer: Philip P. Bliss






           Bila damai mengiring jalanku rasa aman di hatiku dan kesusahan menimpa ku tlah Kau ajar ku mengingat Firman-Mu…Nyamanlah jiwaku…
Kalimat-kalimat di atas, merupakan bagian syair lagu hasil karya
Horatio G. Spafford. Dalam bahasa Inggris, lagu tersebut terkenal dengan
judul “It Is Well With My Soul” yang diterjemahkan dalam
bahasa Indonesia “Nyamanlah Jiwaku”. Bahkan ini juga perasaan penulis
untuk pertama kalinya mendengarkan hymn karya Horatio G. Spafford ini,
harapan ditengah masa-masa sulit, menguatkan, memberkati bahkan
menginspirasi penulis secara pribadi dalam menjalani masa hidup yang
Tuhan percayakan kepada penulis. Selain itu penulis kagum akan sosok
beliau yang berjiwa besar, tabah dan tetap setia hingga akhir menjaga
imannya kepada Tuhan, memberikan kesaksian hidup yang menguatkan yang
masih terus bergema hingga saat ini melalui nada-nada hymn-nya yang bisa
dinikmati setiap saat. Inilah menjadi alasan penulis menulis paper ini.





Riwayat Hidup Horatio Gates Spafford





            Horatio Gates Spafford lahir pada tanggal
20 Oktober 1828, di North Troy, New York. Ia dibesarkan dan bersekolah
di tempat itu. Setelah ia dewasa, pada tahun 1856, ia pindah ke kota
Chicago, disinilah ia menjadi seorang pengacara Kristen terkemuka serta
pengusaha di Amerika. Kemudian ia juga menjadi dosen salah satu
universitas dalam mata kuliah hukum kedokteran. Spafford tertarik dengan
kecantikan Anna dari Stavanger, Norwegia, ketika ia menghadiri kelas
sekolah Minggu itu di Chicago.


           Pasangan ini kemudian menikah pada 1861.
Setelah menikah mereka dikaruniai satu putra dan empat putri.
Suami-istri ini merupakan anggota Gereja Presbyterian yang aktif.
Spafford menjadi guru Sekolah Minggu dan juga pemimpin dalam usaha
kegiatan kaum Kristen. Ia menjabat sebagai anggota dewan pengurus dari
sebuah seminari Presbyterian yang baru didirikan di Chicago. Dalam salah
satu perjalanannya ke negeri Inggris dan Skotlandia pada tahun 1870,
Spafford berjumpa dengan dengan seorang ahli perbintangan yang ternama.
Melalui persahabatan dengan sarjana ini, Spafford menjadi sangat
tertarik untuk mempelajari ilmu purbakala dari zaman Alkitab.


            Pada tanggal 8 Oktober 1871, bencana besar melanda keluarga Spafford, dimana kebakaran hebat yang dikenal dengan nama “The Great Chicago Fire”
menyapu bersih kota tempat tinggal mereka. Horatio selain berprofesi
sebagai pengacara ia juga berinvestasi di real estate di kota itu, dan
api menghancurkan hampir semua yang dimiliki. Pada tahun 1873, Spafford
memutuskan harus mengambil liburan untuk dia dan keluarganya. Dia ingin
beristirahat untuk istri dan empat anak perempuan, dan juga untuk
membantu Moody dan Sankey di salah satu kampanye penginjilan mereka di
Inggris. Namun ia tertunda karena bisnis harus tetap tinggal di Chicago,
karena itu ia mengirim keluarganya berangkat lebih dahulu istri dan
empat putri melakukan perjalanan sesuai dengan jadwal pada SS Ville du
Havre, mengharapkan untuk mengikuti dalam beberapa hari. Tragis pada ada
tanggal 22 November, 1873 saat melintasi Atlantik di kapal uap Ville du
Havre, kapal mereka dipukul oleh kapal berlayar besi dan 226 orang
kehilangan nyawa mereka, termasuk keempat putri Spafford. Anna Spafford
selamat dalam tragedi tersebut. Setelah tiba di Inggris, ia mengirim
telegram kepada Spafford memberitahukan peristiwa naas tersebut.


             Spafford kemudian berlayar ke Inggris, dan
akan mengarungi lokasi kematian orang-orang yang dikasihinya. Menurut
Bertha Spafford Vester, seorang putri lahir setelah tragedi itu,
Spafford menulis “It Is Well With My Soul” dalam perjalanan ini. Dan
musiknya, ditulis oleh Philip Bliss. Beliau adalah komposer himne,
seorang penulis yang produktif menulis lagu Injil. Dia begitu terkesan
dengan pengalaman dan ekspresi teks Spafford ia segera menulis musik
untuk itu, pertama kali diterbitkan di salah satu Hymnals Sankey-Bliss,
Injil Nyanyian Rohani No 2. Tak lama setelah menulis It Is Well With My
Soul, Bliss meninggal dalam kecelakaan kereta api tragis.





Akhir Hidup H.G. Spafford





             Setelah berbagai peristiwa kelam
menimpanya. Spafford yakin bahwa semua ini adalah pertanda kedatangan
Kristus sudah dekat. Dan akhirnya pada tahun 1881, ia dan beberapa
keluarganya berlayar meninggalkan Amerika menuju tanah suci. Anna dan
Horatio Spafford memimpin kontingen kecil Amerika di tahun 1881 ke
Yerusalem untuk membentuk masyarakat Utopia Kristen yang dikenal sebagai
“Colony Amerika.” Ini adalah suatu tempat peristirahatan bagi
orang-orang Kristen, di mana mereka bisa datang dan menghidupi suatu
kehidupan Kristiani yang sederhana, berbagi segala sesuatu, dan melayani
orang-orang sekeliling mereka. Pengaruh mereka akhirnya membuahkan
banyak orang Islam dan orang-orang agama lain yang berbalik kepada
Kristus di kota Yerusalem yang pada zaman itu tandus. Anggota Colony ini
kemudian bergabung dengan orang-orang Kristen Swedia, terlibat dalam
pekerjaan filantropis antara penduduk Yerusalem terlepas dari afiliasi
keagamaan mereka dan tanpa motif dakwah – dengan demikian memperoleh
kepercayaan dari Muslim lokal, Yahudi, dan komunitas Kristen.


              Selama dan segera setelah Perang Dunia I,
Koloni Amerika memainkan peran penting dalam mendukung
komunitas-komunitas melalui penderitaan besar dan kekurangan dari front
timur dengan menjalankan dapur umum, rumah sakit, panti asuhan dan amal
usaha lainnya. Dan mereka semua menetap di Yerusalem. Horatio G.
Spafford meninggal di Yerusalem tujuh tahun kemudian yakni pada 16
Oktober 1888.


             Satu hal yang sangat menarik dari pribadi
Spafford, meskipun nampaknya ia kecewa karena harapannya untuk melihat
kedatangan Tuhan Yesus ke dunia diakhir hidupnya tidak terwujud, bahkan
kecewa atas kepergian orang-orang yang dicintainya, tetapi Horatio
Spafford tidak kecewa terhadap Tuhan, karena imannya yang ia yakini
membuatnya tetap teguh ditengah-tengah kesukaran hidupnya yang dapat
meremukkannya bahkan bisa membuatnya meninggalkan Tuhan. Imannya itu
dinyatakannya dengan nyanyian “Nyamanlah Jiwaku.” Syair yang menyatakan
pengharapan itu telah berkumandang di seluruh dunia termasuk di
Indonesia.





Latarbelakang Penulisan Lagu




 A. Dasar Alkitab





             Spafford menghidupi Mazmur 46:1 dalam Alkitab Indonesia Terjemahan Baru tercantum pada ayat yang ke-2 yang berbunyi: “Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti.”
Bagian ini adalah pernyataan kepercayaan. Dengan tenang dan agung
tetapi juga dengan lantang nyanyian ini dibuka dengan suatu pernyataan
kepercayaan yang bernada pujian kepada Tuhan sebagai “perlindungan dan kekuatan umat-Nya.”
Sebagai penolong dalam kesesakan hal ini berulang terbukti dalam hidup
umat. Kesimpulanya jelas. Meskipun mereka mengalami ancaman yang paling
dasyat sekalipun seperti bumi bergerak dan gunung-gunung bergoncang oleh
karena kecongkakan gelora lautan dibawah bumi mereka tidak akan takut
(ayat 3-4). Demikianlah pernyataan iman jemaah yang dibawakan oleh kor.
Dengan penuh keyakinan mereka meneguhkan pernyataan kepercayaan itu
dengan refrein. Allah yang menjadi perlindungan dan kekuatan mereka itu
adalah “TUHAN semesta alam”, Raja yang maha kuat dan maha Agung yang
mengatasi segala sesuatu.


            Nyanyian ini merupakan suatu kesaksian iman
yang paling mengesankan tentang Allah menolong dalam kesesakan. Hanya
orang yang memeberikan dirinya sepenuhnya kepada Allah, kepada
keberanian iman ini, akan dipenuhi oleh Allah, sehingga tidak ada
sesuatu yang lain. Iman yang teguh diperoleh karena orang percaya dan
tahu bahwa Allah berada ditengah mereka dan inilah yang Spafford bahkan
kita rasakan.





B. Teks Lagu dan Musiknya 





             Naskah asli dalam versi Inggris berjudul “It Is Well With My Soul”
dalam versi Indonesia yang paling sesuai adalah terjemahan dalam PPK
yakni “Nyamanlah Jiwaku” sedangkan dalam Kidung Jemaat diterjemahkan
“Selamatlah” terjemahan ini tidak sesuai dengan maksud penulis hymn,
jika memakai teerjemahan yang kurang baik maka hymn yang baik ini akan
kehilangan makna aslinya. Terjemahan dalam PPK 138, adalah terjemahan
yang baik sehingga jika kita menimkati hymn ini dalam bahasa Indonesia
kita tidak kehilangan makna asli dari maksud dan tujuan teks asli.


            Musik lagu ini sangat indah, membawa dampak
positif terhadap jiwa jika mendengarkannya dengan baik. Begitu pula
keharmonisan antara harmoni dan teks sangat cocok sehingga menambah
keindahan dan mendapatkan mood perasaan penulis hymn ini. Musiknya yang
lembut secara sinergi sangat menekankan teks asalnya sehingga maknanya
bisa keluar dan bisa dinikmati pendengar.





C. Teologia dan Penerapannya





            Lagu ini sangat teologis pada bait yang
pertama penulis hymn mengangumi dan merasakan pemeliharaan Allah, pada
bait yang kedua Spafford menjadikan Yesus sebagai sentral hidupnya sebab
ia percaya di dalam Yesus ada jaminan hidup kekal serta jadi kekuatan
Spafford dalam mengahadapi badai kehidupan. Selain itu pada bait yang
ketiga dalam lagu ini pengharapan eskatologi sangat kental.


          Spafford dengan pengharapan menantikan hari
dimana tidak ada lagi duka derita seperti di alami semasa di dunia yang
penuh kejahatan dan ketidakadilan ini. Yakni kedatangan Tuhan Yesus
sebagai raja yang kali kedua. Syair lagu yang sarat dengan teologia yang
membangun iman pendengar ketika mendengarkan lagu ini.


Darimanakah datangnya pikiran mulia yang
mengilhami Horatio Spafford menuliskan syair pujian yang begitu
terkenal? Terkenal bukan saja karena syair yang begitu Alkitabiah,
tetapi karena ditulis pada saat tragedi demi tragedi sedang menerpa
hidup keluarganya. 


          Paling tidak ada dua sumber utama. Pertama,
firman Tuhan. Alkitab menyatakan bahwa keselamatan sejati ada di dalam
Kristus yang telah mengurbankan diri-Nya di kayu salib. Firman Tuhan
adalah kebenaran mutlak, yang menjadi dasar kepastian keselamatan bagi
semua orang percaya.  


Kedua, iman Spafford
pribadi yang meyakini secara teguh dan berserah penuh kepada Tuhan yang
adalah sandaran yang kuat dan jaminan hidup yang pasti. Iman inilah yang
menafsirkan pengalaman hidup dalam terang firman hingga memampukan
Spafford berkata di tengah derita bertubi-tubi bahwa “It is well with my soul.”


          Pikiran mulia memang hanya bisa bersumber
pada Allah yang mulia, yang telah menyatakan diri dan rencana-Nya dalam
Alkitab. Di luar Alkitab yang ada hanya pikiran-pikiran manusia yang
sudah dinodai dosa dan ditipu oleh Iblis sehingga melihat semua kejadian
di muka bumi ini melalui kaca mata negatif, buram, dan terdistorsi.
Pikiran mulia hanya bisa keluar dari orang yang mengisi hidup dan
pikirannya dengan firman Tuhan. Firman Tuhan sekaligus menjadi benteng
bagi dirinya dari pikiran-pikiran yang menyesatkan. Maka nasihat Paulus
kepada jemaat Filipi, “…semua yang benar, semua yang mulia, semua
yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar,
semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya
itu.”
Yaitu semua pikiran yang bersumber dari firman Tuhan.


           Penulis setuju dengan teologi lagu ini,
sangat baik penuh makna dan pasti membangun dan menguatkan iman jemaat.
Karena lagu ini selain Alkitabiah mengandung teologi dan pengajaran yang
baik dan benar.





D. Apa Alasan Penulisan





           Menurut Kenneth W. Osbeck, Spafford
menerima kenyamanan dan damai dari Allah yang memungkinkan dia untuk
menulis lirik lagu itu. Meskipun di dera duka yang amat dalam tidak
membuat Spafford patah arah. Terbukti di tengah duka yang ia alami tak
lama setelah itu, dalam sebuah perjalanan menyusul istrinya ia melewati
tempat dimana ke empat putrinya tenggelam dengan pena di tangan, ia
menulis syair yang penuh dengan semangat pengaharapan “It Is Well With My Soul”
yang sangat jelas menggambarkan suasana hati paling pedih dan kesedihan
pribadinya yang dalam. 


          Spafford tidak menumpahkan kedukaannya tapi
lebih pada pengampunan yang sudah dilakukan Kristus dan pengharapan akan
kedatangan-Nya yang kedua. Secara manusiawi, sulit dipercaya bahwa di
tengah-tengah rasa dukanya yang mendalam, Spafford sanggup mengatakan,
“Nyamanlah jiwaku” dalam sebuah syair indah karyanya.


          Mengapa Spafford menulis teks ini ditengah
duka yang ia alami? Karena Spafford yakin bahwa Allah yang ia sembah dan
layani adalah adalah yang Hidup yang peduli akan ciptaan-Nya. Selain
itu keyakinan akan kedatangan Kristus juga menjadi alasannya juga.
Keyakinan itulah yang menguatkan dan menginspirasi Spafford menuliskan
pengalaman bersama Tuhan dalam sebuah kalimat-kalimat puitis yang sarat
makna rohani dalam sebuah tulisan indah. Hanya kekekuatan dan rahmat
dari Tuhan yang memampukan Spafford bisa menuangkan kata-kata yang indah
dan bermakna ditengah-tengah ombak kehidupan yang menerpa hidupnya dan
inilah yang menjadi kekuatan yang mendampingi lagu ini, hingga lagu ini
menjadi lagu yang hidup sarat makna dan menjadi berkat bagi banyak
orang. Spafford ingin membagikan pengalaman hidupnya bersama dengan
Tuhan kepada semua orang, bahwa dalam Tuhan ada pengaharapan, ada
kekuatan meskipun dalam keadaan genting sekalipun, Tuhan tidak pernah
meninggalkan umatnya Mazmur 46:2 berbunyi, “Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti.”
Akan sangat sulit bagi kita untuk memprediksi bagaimana kita akan
bereaksi dalam kondisi yang sama dengan yang dialami oleh Spaffords. Ia
telah membuktikannya tetap tegar dalam duka yang bertubi-tubi, iman yang
tetap setia hingga akhir.


              Lagu ini sangat dekat dengan orang-orang
yang mengalami pengalaman hidup yang sama dengan Spafford. Lagu ini
secara pribadi sangat berdampak pada penulis sendiri baik syair maupun
pribadi Horatio Spafford menginspirasi, memberikan teladan, pelajaran
berharga dalam seluruh kehidupan penulis bahkan pendengar pada umumnya.
Semangat firman dalam lagu ini terus menggema hingga saat ini, saat
mendengar lagu ini perasaan Spafford kala menulis syair ini merasuki
jiwa imajinasi pribadi semua pendengar. Gema hymn karya Spafford telah
mempengaruhi seluruh dunia. 


             Nyanyian ini begitu indah. Ini benar-benar
membawa pulang pesan bahwa tidak ada kesenangan duniawi yang membawa
damai, tetapi damai Kristus dan kasih Allah dapat ditemukan dalam
keluarga dan persahabatan sejati dan dalam hubungan dekat dengan Allah
sendiri. Sukacita mendengar kata-kata dan lagu ini membangkitkan
semangat!! Kristen muda perlu menyanyikan lagu ini untuk mengingatkan
diri dari makna hidup, dan untuk tetap setia kepada Yesus di dunia ini
mengerikan.(IS)





Dari: paper Hymnology karya Imanuel Suluh





PUSTAKA



Barth, Marie Claire. Tafsiran Alkitab Mazmur 1-72. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009.


Osbeck, Kenneth W.101 Hymn Stories Grand Rapids: Kregel Publication, 1982.


McElrath William N. Terj.Imarto Wirawan, Cerita-cerita dari Lagu-lagu rohani Kesayangan Kaum Kristen Indonesia-Jilid II Bandung:Lembaga Literatur Baptis,1975.


Osbeck, Kenneth W. Amazing Grace: 366 Inspiring Hymn Stories for Daily Devotions. Grand Rapids: Kregel Publications, 1990.


http://en.wikipedia.org/wiki/Horatio_Spafford


http://www.christians.com/horatiospafford/main





 ”Nyamanlah Jiwaku”


 Verse 1


Bila damai mengiring jalan hidupku


 Rasa aman di hatiku


 Dan kesusahan menimpaku


 Tlah Kau ajarku mengingat firmanMu


Reff:


Nyamanlah jiwaku


 Nyamanlah, nyamanlah jiwaku


 Verse 2


 Dalam pergumulan dan perncobaan


 Kristus membrikan jaminan


 Dan mempedulikan kepapaanku


DarahNya membasuh jiwaku


 (back to Reff)


Verse 3


Tuhan lekaskanlah harinya tiba


 Imanpun akan tampaklah


Dan sangkakala pun akan berbunyi


Tuhan akan turun ke bumi


 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

ShareThis