twitterfacebookgoogle plusrss feedemail
Life-ex photo banner-211_zps596e9fc0.jpg
Showing posts with label Book. Show all posts
Showing posts with label Book. Show all posts

Saturday, November 24, 2012

BISNIS YANG BENAR









Judul
Buku   : Bisnis Yang Benar (Etika Kristen Dalam Dunia Bisnis)


Penulis          : Alexander Hill


Penerbit        : Kalam Hidup





Orang Kristen dalam dunia bisnis adalah seperti melompat naik dua kuda
yang akhirnya berlari ke dua arah yang berbeda. Karena para pebisnis Kristen
selalu diperhadapkan dengan skenario sulit yang membutuhkan cara penyelesaian
yang sungguh-sungguh serta keputusan-keputusan yang sulit yang harus diambil
dan diputuskan dalam dunia yang mereka geluti.  


Berbisnis yang benar sungguh sangat memerlukan integritas, tenaga serta
pikiran ekstra. Pada initinya buku ini bertujuan untuk membantu bagi
mereka  yang menghadapi banyak pertanyaan
dan kebingungan dalam melakukan bisnis yang benar.  Alexander Hill dengan hati-hati meyelidiki
konsep dasar Kristen tentang kekudusan, keadilan, dan kasih yang merupakan
sifat Allah yang paling dominan, ketiganya bersama-sama membentuk suatu
paradigma etika yang menjadi dasar penilaian akan semua tindakan atau perbuatan
manusia. Ini mempunyai implikasi-implikasi yang serius mengenai bagaimana kita
harus bersikap dalam dunia bisnis. Kepribadian Allah ini, menurutnya, juga ini
merupakan kunci-kunci etika bisnis Kristen.


Buku ini di sajikan penulis sebagai pendahuluan yang sangat baik untuk
etika bisnis bagi mahasiswa dan suatu penyegar bagi mereka yang sudah berada
dalam dunia bisnis.


Menurut penilaian saya buku ini sudah mencapai tujuannya, yakni
memberikan jawaban yang kritis dan aplikatif tentang bagaimana orang Kristen
berbisnis dengan tetap memegang nilai-nilai kristiani berdiri atas teladan
Kristus ditengah dunia yang berkompetisi ini yang tentunya  bersumber dari kebenaran Firman Tuhan yang
merupakan dasar etika Kristen itu sendiri.


KEUNGGULAN
BUKU


Buku ini ditulis berdasarkan pada pemikiran bahwa karakter Allah
menjadi dasar dari idealisme-idealisme etika. Penulis memaparkan dengan sangat
baik konsep dasar Kristen tentang kekudusan, keadilan, dan kasih yang merupakan
sifat Allah yang paling dominan, ketiganya bersama-sama membentuk suatu
paradigma etika yang menjadi dasar penilaian akan semua tindakan atau perbuatan
manusia. Dan bagaimana pula konsep ini diterapkan langsung oleh anak-anak Tuhan
yang terjun dan terlibat dalam dunia bisnis.


Selain itu penulis menyajikan contoh kasus riil di tiap pokok bahasannya
yang terjadi dan sangat relevan di zaman ini untuk mengantar pembaca memahami
suatu uraian yang dipaparkannya dengan lebih jelas dan mudah untuk dimengerti.


Di akhir tiap pokok  bahasan
penulis menambahkan pertanyaan-pertanyaan untuk bahas, seperti : kasus untuk
dibahas, penerapan ditempat kerja, serta konsep-konsep untuk dipahami.
Pertanyaan-pertanyaan ini memungkinkan pembaca terlibat langsung berpikir
kritis mengenai pokok bahasan yang sudah di baca serta langsung mengaitkannya
dengan kasus lapangan dan yang lebih penting lagi pembaca diberikan
konsep-konsep kebenaran Alkitab untuk menjadi dasar berpikir dan bertindak.


Saya sangat setuju dengan paparan penulis yang langsung menonjolkan
sumber etika Kristen itu sendiri yaitu sifat Allah yang paling dominan : kekudusan,
keadilan, dan kasih. Etika Kristen adalah aplikasi dari nilai-nilai kristiani
terhadap proses pengambilan keputusan. Yang relevan untuk diterapkan oleh
anak-anak Tuhan dalam kehidupan khususnya dalam dunia bisnis.


 Orang Kristen bisa melakukan
kegiatan bisnis, asalkan rohnya atau semangatnya seperti yang diperintahkan
Kristus, dan tingkah lakunya sesuai dengan prinsip-prinsip Injil. Kejujuran,
keterbukaan, hubungan yang baik dengan rekan dalam bisnis sangat dituntut pada
zaman sekarang ini. Orang Kristen tidak boleh dan tidak dapat melakukan satu
hal pun yang tidak jujur. Setiap orang Kristen harus menentukan sendiri
berdasarkan hati nuraninya apa yang patut dilakukannya, tetapi dia harus
menjaga agar hati nuraninya tetap lembut, dan tekadnya untuk berbuat benar
harus kuat. Yang sangat disesalkan ialah bahwa ada beberapa yang mengaku orang
Kristen tampaknya menganggap sah untuk melakukan tindakan-tindakan yang menurut
orang duniawi tercela untuk diikuti. Seluruh dunia bisnis perlu dihadapkan
dengan cita-cita besar Kristus mengenai pengorbanan, pelayanan, kerja sama dan
persaudaraan.


Tentunya, hidup menurut standar kekudusan-keadilan-kasih lebih mudah
diucapkan daripada dilakukan. Sebagai individu dengan moral yang tidak
sempurna, kita cenderung mengabaikan karakter Allah dan tenggelam dalam
khayalan kita. Bukannya melayani melaui bisnis kita, malah tergoda untuk
bertindak egois. Tetapi kita tidak boleh menjadi takut dengan rendahnya mutu
etika ini, sebaliknya dengan rendah hati mau menerima tawaran kasih karunia
Allah. Melalui kematian anak-Nya ada pengampunan, melalui Roh Kudus ada harapan
untuk perbaikan moral. Dengan mengakui ketidaksempurnaan kita, kita ditarik
kepada kasih karunia Allah, yang akan mengarahkan kita untuk menilai diri kita
sendiri dan memperlakukan orang lain dengan seperti memperlakukan diri sendiri.


Meskipun saya tidak study dibidang bisnis tetapi saya merasa diberkati
dan mendapat pemahaman yang baru tentang etika Kristen khususnya bagaimana
orang Kristen harus berdiri atas teladan karakter Allah dalam dunia bisnis,
saya yakin buku ini akan sangat bermanfaat bagi para pebisnis Kristen serta
hamba Tuhan yang notabenenya adalah pembina mereka. Saya menganjurkan tidak
hanya pada pelaku bisnis atau mahasiswa bisnis tetapi mahasiswa teologi dan
hamba Tuhan kiranya boleh membaca buku bagus ini yang saya yakin akan
memberkati dan memberikan pemahaman baru pada kita sekalian.


 Kekudusan, Keadilan dan Kasih
ketiga sifat ilahi yang memiliki hubungan langsung dengan pengambilan keputusan
etika berulang kali ditekankan dalam Alkitab. Dalam hal ini mungkin cukup bila
mengatakan berbisnis itu etis apabila hal itu mencerminkan sifat Allah yang
penuh kekudusan-keadilan-kasih. Etika Kristen menuntut ketiga sifat ini
senantiasa dipertimbanngkan dalam mengambil keputusan. Etika Kristen bukanlah
suatu analisis yang mementingkan ini dan mengensampingkan yang itu seolah-olah
kita dapat memilih antara kekudusan, keadilan, dan kasih –tetapi lebih
merupakan perapduan dari ketiga kondisi ini yang harus dipenuhi sebelum suatu
tindakan yang dianggap bermoral. Orang Kristen harus melakukan pendekatan
Teosentris terhadap etika-etika bisnis, inilah pokok yang mendapat perhatian
khusus dalam buku ini.


KESIMPULAN


Dasar dari etika Kristen dalam berbisnis bukanlah peraturan-peraturan,
melainkan karakter Allah yang tidak berubah. Alkitab menjelaskan Allah sebagai
pencipta segala sesuatu, sempurna, dan mendahului, dan melampaui segala sesuatu.
Kekristenan berjalan dengan dengan keyakinan bahwa etika secara logis mengikuti
teologi. Perilaku yang konsisten dengan sifat atau karakter Allah adalah etika
dan hal yang bertentangan bukanlah etika. Pendekatan ini agak berbeda dengan
sistem yang bertumpu pada manusia yang biasanya berfokus kepada egoisme semata.
Hal ini bukan berarti bahwa etika Kristen menolak segala bentuk nilai ini.
Sebaliknya terlihat adanya keadaan tumpang tindih antara etika Kristen dengan
sistem yang berpusatkan pada manusia. Perbedaan utamanya terdapat pada
prioritas pusatnya. Meskipun ini menyangkut kebahagiaan manusia dan pemenuhan
tuntutan-tuntutan etika, etika Kristen tidak melihatnya sasaran terakhir.
Sebaliknya hal ini menjunjung tinggi kehidupan yang berusaha menyerupai
karakter Allah.


 





Monday, November 19, 2012

A CHRISTIAN WORLDVIEW: ESCAPE FROM REASON BY FRANCIS A SCHAEFFER







        Francis Schaeffer adalah salah satu pemikir Injili yang mencoba
mengaitkan dirinya dengan kebudayaan sekuler. Karya terbaru yang cukup
berpengaruh dalam ranah pemikiran filsafat serta teologia Kristen adalah
karyanya berjudul Escape From Reason.
Melalui buku ini Scaheffer melihat dan menganalisa secara luas bukan hanya
filsafat dan teologi tetapi juga seni dan sastra.




            Melalui
bukunya Schaeffer melihat dan menguraikan mula sekularisme yakni ketika manusia
mencoba dengan memecahkan segala sesuatu dengan otonomi pikirannya. Manusia
menjadikan pikirannya sebagai satu-satunya penentu segala sesuatu. Ia melihat
masalah yang paling krusial yang dihadapi orang Kristen hari ini berakar pada
Abad Pertengahan dan pengaruh pemikiran Aquinas pada khususnya. Aquinaslah yang
membuka jalan bagi rasionalitas otonom. Pembedaan Aquinas antara anugerah dan
alam telah memberikan tanah subur bagi keyakinan bahwa manusia bisa mandiri, otonom.


Dalam EFR Schaeffer  meneliti hubungan antara 'anugerah' dan
'alam'. Dia berpendapat bahwa alam telah perlahan-lahan telah 'memakan' kasih
karunia. Namun sebuah 'garis' atau 'celah' ada antara dunia atas seharusnya
rahmat dan alam yang lebih rendah dari alam. Masyarakat Barat telah pergi di
bawah garis ini dan itu telah menyebabkan putus asa. Putus asa ini terungkap
pertama dalam filsafat; kemudian, ia menyebar hingga seni, maka musik dan
budaya umum, sebelum mencapai teologi.


Schaeffer juga menguraikan Kesatuan antara Alam dan
Anugerah dengan mengangkat hubungan sejarah antara Renaissance dan Reformasi ia
mengkontraskan kedua pandangan dari ke dua belah pihak. Para reformator menolak
humanisme dan sepenuhnya menerima apa yang dikatakan Alkitab mengenai manusia
yang digambarkan sebagai mahluk mulia yang diciptakan sesuai rupa sang
Pencipta.


Melihat berkembangnya paham-paham bertentangan dengan
Iman Kristen, Schaeffer berkeras bahwa kekristenan masih mempunyai kesempatan
menjawab semua bentuk paham tersebut dengan rasional yang dapat
dipertanggungjawabkan. Bersama para reformator Schaeffer menekankan bahwa kita
tidak boleh menyingkirkan otoritas Kristus di dalam Alkitab. Melalui Alkitab
Schaeffer menguraikan kerangka berpikirnya tentang Allah, manusia dan alam. Ia
menegaskan segala sesuatu ada karena Tuhan yang menciptakannya. Allah itu
adalah  Allah yang dipahami dalam Alkitab
yaitu Allah yang hidup dan sungguh-sungguh berpribadi dan manusia adalah
karya-Nya yang ajaib, Allah menjadikannya secara khusus. Problem muncul ketika
manusia jatuh dalam dosa manusia mencari relasi ataupun memuaskan
keingintahuannya akan segala sesuatu diluar dirinya namun tidak mampu. Alkitab
mengajarkan sekalipun manusia hilang tanpa harapan namun ia bukan nihil.
Manusia hilang karena terpisah dengan Allah. Alkitab menunjukkan kepada manusia
jalan keluarnya dengan memproklamirkan penebusan dalam Kristus hanya dengan
melalui Kristus ada pendamaian dengan Allah dan hanya melalui cara ini manusia
bisa memahami dan menyadari keberandaannya yang sesungguhnya.


            Buku
Schaeffer Escape From Reason sudah
pasti ditulisnya untuk membuka cakrawala pemikiran dalam kekristenan. Agar
seorang Kristen memiliki Worldview yang
luas dapat menjawab problem kekinian dengan paradigma Alkitab dan dapat
dipertanggungjawabkan dengan rasional.


Sesuai dengan tujuan buku ini maka buku
ini
sepertinya tidak hanya ditujukan kepada
pembaca akademisi
saja. Namun
tidak menutup kemungkinan kepada pembaca umum jika ia memiliki ketertarikan
dengan filsafat maupun teologia.


Secara
keseluruhan
kerangka pemikiran Schaeffer
dalam menganalisa filsafat, teologia hingga seni patut diacungi jempol. Pemikiran
kritis sistematis, mendongkrak pemikiran generasi selanjutnya bahkan saya
secara personal dalam memahami baik sejarah maupun perkembangan pemikiran modern.


Melalui buku ini Schaeffer mengkomunikasikan kekristenan
ke budaya modern. Dia membangun kita untuk melihat adanya humanisme sekuler dan
menunjukkan bahwa adalah mungkin untuk berpikir dan menjadi seorang Kristen
pada saat yang sama. Buku ini memberikan pengenalan yang sangat baik untuk
ide-idenya, meskipun hal itu menunjukkan asal-usulnya dalam format kuliah: ada
beberapa catatan kaki dan referensi.


Pandangan yang ia sodorkanpun saling berintegrasi
dengan kehidupan sehingga lebih mendarat bagi pembaca. Secara sistematis
Schaeffer mengungkapkan tesis utamanya dengan gambaran, nama-nama serta ide-ide
yang mengalir yang membuat kita menikmati lembar demi lembar penuturannya.


Disayangkan dibeberapa bagian penting Schaeffer tidak
menggunakan ilustrasi. Sebenarnya Schaeffer membuat beberapa poin yang sangat
baik tentang kasih karunia dan alam menggunakan deskripsi dari karya seni dan
memiliki ilustrasi akan sangat memperkaya pengalaman membaca.


Schaeffer dengan semangat untuk mengerti kebenaran dan
dengan pemikiran kristis dan sistematis akan mengantar pembaca melihat sisi
lain dari dunia modern serta bagaimana pandangan Kristen terhadapnya. Dan akan
membantu pembaca untuk lebih memahami dunia modern dengan segala pahamnya serta
memiliki worldview yang sesuai dengan
Alkitab


Sangat
di sarankan untuk membaca buku
baik ini
sebagai referensi yang baik serta untuk
menambah bahkan memperdalam
pengetahuan
khusunya dalam bidang filsafat dan hubungannya dengan Iman Kristen
.


            Akhir kata buku Escape From Reason telah membuka
cakrawala berpikir saya secara personal. Karya yang menganggumkan penuh dengan
pemikiran yang tetap relevan dari waktu ke waktu.






Saturday, November 3, 2012

John Calvin and His Passion for the Majesty of God by John Piper




Excerpt



“The unhidden and unashamed aim in this book is to fan the
flame of your passion for the centrality and supremacy of God” (p. 12).






About the Book 




John Piper fires readers' passion for the centrality and
supremacy of God by unfolding Calvin's exemplary zeal for the glory of
God.


God rests all too lightly on the church's mind in our time.
Consequently, the self-saturation of his people has made God and his
glory auxiliary, and his majesty has all but disappeared from the modern
evangelical world.


John Calvin saw a similar thing in his day, and it was at the root of
his quarrel with Rome. Nothing mattered more to Calvin than the
centrality, supremacy, and majesty of the glory of God. His aim, he
wrote, was to "set before [man], as the prime motive of his existence, zeal to illustrate the glory of God"-a
fitting banner over all of the great Reformer's life and work. "The
essential meaning of Calvin's life and preaching," writes John Piper,
"is that he recovered and embodied a passion for the absolute reality
and majesty of God. Such is the aim and burden of this book as well."


As Piper concisely unfolds this predominant theme in Calvin's life,
he seeks to fire every Christian's passion for the centrality and
supremacy of God, so that God's self-identification in Exodus 3 as "I am
who I am" becomes the sun in our solar system too.





Table of Contents


Foreword by Gerald Bray


1. God Is Who He Is

2. A Passion for the Glory of God in Christ

3. Mastered by the Majesty and Word of God

4. Ministry Made by the Majesty of the Word

5. Marriage to Idelette

6. Constant Trials

7. Constancy in Expounding the Word of God


Appendix

Calvin’s Barbaric World: The Case of Michael Servetus








Translations


English-UK

Publisher: Inter-Varsity Press

ISBN: 9781844743568










About John Piper



John Piper is Pastor for Preaching and
Vision at Bethlehem Baptist Church in Minneapolis, MN. He grew up in
Greenville,
SC, and studied at Wheaton College, where he first sensed God's call to
enter the ministry. He went on to earn degrees from Fuller Theological
Seminary (B.D.) and the University of Munich (D.Theol.). For six years
he taught Biblical Studies at Bethel College in St. Paul, MN, and in
1980 accepted the call to serve as pastor at Bethlehem. John is the
author of more than 40 books including Desiring God: Meditations of a Christian Hedonist and Bloodlines: Race, Cross, and the Christian. John and his wife, Noel, have four sons, one daughter, and twelve grandchildren.





Ingin e-booknya dapat di download di http://www.desiringgod.org/blog/posts/free-calvin-ebooks






Monday, October 15, 2012

Sajian Teologi Praktis nan Sederhana







Resensi Buku





            Judul       :  Kemarahan Keramahan dan Kemurahan Allah Teologi Sederhana Tentang Sifat Allah dan Budaya
Masyarakat Kita


Penulis    : Yahya Wijaya, Ph.D.


Penerbit   : BPK Gunung Mulia, Jakarta


Cetakan   :
Pertama, 2008


Tebal       : 120 + viii hal.





            Mendengar istilah teologi bagi kaum
teolog merupakan makan harian yang tak terlupakan, namun sebaliknya teologi
menjadi istilah asing yang rumit dan susah untuk dipahami bagi masyarakat awam.
Teologi bukan hanya sebuah objek studi yang dikatakan sulit dan untuk memahami
perlu perhatian serta keseriusan yang sangat. Sumber teologi sendiri adalah
Allah itu sendiri yang dengan rela mewahyukannya kepada manusia yang berdosa
dan terbatas. Berbicara mengenai teologi perlu dipahami bahwa Allah bukanlah
objek penelitiannya. Kita bisa memahami dan mengerti teologi hanya oleh
pertolongan Roh Kudus bukan berdasarkan pertimbangan ratio. Hati yang menyembah
kepada Allah baru kita manusia bisa berbicara masalah teologi.


            Tak dapat dipungkiri bagi kebanyakan
orang teologi terkesan terlalu rumit dan sukar untuk dimengerti, bahkan lebih
cenderung memperumit hal-hal yang sebenarnya sederhana dan penting untuk
diketahui, dipahami dan dimengerti. Karena buku-buku


teologi pada
umumnya sukar dipahami pembaca awam, sehingga teologi lebih cenderung menjadi
wacana terbatas kaum intelek saja.


            Teologi Kristen mempunyai alasan
yang sangat kuat menjadi mudah dipahami. Iman Kristen menyakini bahwa Allah
yang Mahatinggi menjadi manusia, dan mengalami kehidupan manusia. Dengan cara itu,
Allah menjadi mudah dikenali, didekati, bahkan diakrabi. Teologi Kristen
seharusnya mencerminkan cara mendekatan itu. Akan menjadi ironis jika Allah
yang mudah diakses itu dipikirkan dalam suatu ilmu yang justru asing dan sukar
untuk dipahami dan dimenngerti.


            Yahya Wijaya, Ph.D. dalam bukunya
berjudul Kemarahan Keramahan dan Kemurahan Allah Teologi Sederhana Tentang
Sifat Allah dan Budaya Masyarakat Kita, berusaha menyajikan konsep teologia yang
alkitabiah, sederhana namun tetap berisi dan tidak kehilangan kualitasnya.


            Penulis sangat jeli dalam menyusun
pembahasan demi pembahasan,sederhana dan sistematis antara sifat Allah dan
hubungannya dengan kebudayaan kita. Penulis, dengan ringan mengentar pembaca
pada pemahaman teologi yang benar, membantu kaum awam memakai serta merasakan
teologi Kristen yang alkitabiah.


            Tidak dapat dipungkiri
ditengah-tengah gejolak kehidupan dan berbagai aliran-aliran Kristen yang
ajarannya tidak alkitabiah, pemahaman teologi yang benar sangat diperlukan.


            Pada bagian awal penulis langsung
menyuguhkan pengantar pemahaman yang benar tentang sifat-sifat Allah.
Sifat-sifat Allah ialah kesempurnaan-kesempurnaan yang memang ada pada Allah,
dan memancar dari pribadi-Nya.





Allah Pemurah atau Pemarah?


            Dalam Alkitab, Allah sering
ditampilkan dengan dua wajah, yaitu Allah yang pemurah dan Allah yang pemarah.
Disatu pihak Allah mengampuni, melindungi, dan memberkati banyak orang. Dipihak
lain, Ia mengancam dan menghukum mereka yang berbuat jahat berkhianat, cemar
dan licik. Allah menyenangkan sekaligus Allah yang mengerikan.


            Meskipun benar bahwa Alkitab
menyebutkan tentang kemarahan Allah, tetapi tugas yang diberikan kepada gereja
bukanlah untuk memberitakan kemarahan Allah, melainkan membertikan Injil. Dan
Injil bukanlah berita tentang kemarahan Allah tapi kemurahan Allah.


            Dalam Yesus Kristus, Allah membatalkan
kemarahan-Nya, untuk menyatakan kemurahan-Nya. Itu sebabnya sejak kedatangan
Yesus Kristus, berita tentang Allah yang pemarah sebenarnya sudah menjadi
berita basi. Sebaliknya berita tentang Allah yang pemurah selalu baru dan
relevan di segala tempat dan waktu, sebab kemurahan itu sendiri tidak
berkesudahan, selalu baru setiap hari.


            Selain sifat Allah di atas dalam
buku ini juga dibahas juga hal penting lainnya yaitu Trinitas dan Kebenaran,
dalam paham Trinitas, Allah diyakini bersifat tunggal sekaligus majemuk.
Ketunggalan menunjukkan kebesaran Allah, kemajemukan menunjukan kemurahan-Nya.
Dalam terang Trinitas inilah kita memahami kebenaran. Kebenaran memang mutlak
ia tidak dapat dikompromikan dengan kepalsuan atau kejahatan. Allah dan
kebenaran-Nya hanya dapat ditemukan dalam semangat kekeluargaan,
kesetiakawanan, dan persahabatan, dimana banyak hitung-hitungan menjadi tidak
berlaku, yaitu jika “ Ia di dalam kita, dan kita di dalam Dia” (Yoh. 14:20).


            Selain itu ada yang menarik dalam buku ini penulis membahas budaya
atau kebiasaan masyarakat kita. Budaya yang bertentangan dengan sifat-sifat
Allah. Ada beberapa bab yang membahas masalah ini tapi saya hanya memberi satu
contoh konkrit yaitu Budaya Penghukuman, dalam masyarakat kita budaya penghukuman
masih terus terjaga, banyak orang merasa berhak menjadi penghukum. Mereka
selalu menemukan alasan untuk menghukum orang lain. Pelanggaran merupakan tema
yang disenangi.
  Budaya penghukuman tidak
cocok dengan semangat Injil. Orang Kristen seharusnya tidak hidup menurut
budaya penghukuman, tetapi menurut Roh. Budaya penghukum, Ketakutan,
Militerisme, Seragam, Selebritisme, dan budaya malu dibahas dengan ringkas
padat memberikan gamabaran tentang budaya masyarakat kita yang hingga sekarang
terus terjaga yang dilengkapi dengan teologi praktis mengantar pambaca untuk
merenung sejenak akan kenyataan budaya hidup kita yang justru bertentangan
dengan sifat-sifat Allah yang Mahatahu, Mahakuasa, Mahahadir, Mahasuci,
Mahakasih, Kebenaran, Keadilan, Kemurahan, dan Kesetiaan yang tak terbatas.


            Teologi Kristen mempunyai alasan
yang sangat kuat untuk menjdi mudah dipahami dan dimengerti serta dialami umat
Kristen. Buku ini disajikan dengan teologi sederhana, untuk itu tidak ada
alasan untuk tidak membaca buku ini yang diformat dengan teologi praktis nan
sederhana tanpa kehilangan kualitasnya. Buku ini layak dibaca oleh siapa saja.
Sekali lagi, buku ini menyuguhkan banyak hal yang bisa dijadikan bahan renungan
setiap pribadi pembaca. Dari segi bahasa isi buku ini simple dan mudah dicerna
oleh berbagai kalangan. Desainnya pun sederhan namun tetap enak dipandang mata,
tiap bagian disajikan secara ringkas padat berisi, sehingga buku ini tidak
membosankan untuk dibaca halaman ke halaman. Oleh: Imanuel Suluh


 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

ShareThis