Monday, July 4, 2011

Home » » MAKNA KORBAN DALAM KITAB IMAMAT

MAKNA KORBAN DALAM KITAB IMAMAT

Tidak dapat disangkal kebanyakan orang khususnya kaum awam akan mengatakan Kitab Imamat adalah kitab yang sukar untuk dipahami, dan memang jika dibaca sepintas lalu kitab ini nampaknya kurang menarik dan bahkan jarang dipelajari ataupun diajarkan. Kitab Imamat sering kali tidak mendapat banyak tanggapan, bahkan kitab Imamat dianggap tidak penting dan lebih parah lagi  orang percaya terkesan mengabaikan kitab Imamat karena: Pertama, kitab ini sungguh-sungguh terasa asing bagi pembaca yang hidup pada masa kini. Persembahan-persembahan korban yang sangat ditekankan dalam kehidupan bangsa Israel terasa tidak penting bagi orang percaya saat ini sebab Tuhan Yesus sudah menggenapinya sebagai “kurban yang sempurna bagi Allah”. Kedua, tampaknya kitab Imamat hanya mengatur persoalan ibadah dalam Perjanjian Lama dan sudah tidak relevan lagi bagi kebutuhan masyarakat modern saat ini

Tetapi tidak semua orang Kristen memiliki pemikiran demikian. Meskipun kitab Imamat tidak menggelorakan semangat seperti halnya tulisan-tulisan Paulus tetapi kita akan mendapat banyak hal yang berarti jika membaca dan berusaha mengertinya. Karena jika kita perhatikan secara saksama, kitab Imamat adalah kitab yang paling banyak mengandung kata-kata Allah secara langsung dan juga kitab yang mengandung Injil. Misalnya Roy Gane dalam Commentarynya berkata:


True, this book of twenty-seven chapters contains more direct speech by God himself than any other book of the Bible and it is placed at the heart of the Torah or Pentateuch, which forms foundation for all of scripture. So even though Leviticus is the shortest book of the Pentateuch, we get the impression that it sould be important. (Benar, kitab ini dua puluh tujuh pasal berisi suara langsung dari Allah sendiri dari kitab-kitab lain dari Alkitab dan ditempatkan di jantung Taurat atau Pentateukh, yang membentuk dasar bagi semua tulisan suci. Jadi meskipun Imamat adalah kitab terpendek Pentateukh, kita mendapatkan kesan bahwa kitab ini begitu penting).[1]
Tafsiran Alkitab Masa Kini juga menyatakan, “Inilah Injil PB bagi pendosa yang dinyatakan dalam istilah PL dan diejawatahkan dalam upacara-upacara korban; dan diungkapkan secara sempurna dalam upacara Hari Pendamaian.[2] Selain itu kitab Imamat mempunyai teologi yang masih sah dan relevan dengan kata lain betapa pentingnya kitab ini dalam kehidupan gereja masa kini. Ernst Aebi yang dikutip oleh Achim Teschner misalnya mengungkapkan; “Mungkin kitab Imamat adalah kitab yang paling sering disalahmengerti. Bagi kebanyakan pembaca kitab ini terkunci. Namun dengan keterangan PB, melalui kurban Yesus Kristus, kitab Imamat menjadi salah satu kitab PL yang paling penting dan menarik.[3]

Pada penulisan paper ini, dalam semangat untuk mengerti kebenaran Alkitab penulis mencoba  menjelaskan tentang arti korban, serta pentingnya korban bagi umat Israel zaman PL, serta penulis akan menguraikan hubungan antara korban dalam PL dengan Karya penebusan Kristus Tuhan kita. Harapan penulis ketika membaca paper ini, kecintaan kita akan Firman Allah akan bertambah dan biarlah paper pendek  ini menstimulus kita untuk lebih lagi mendalami dan mengalami Firman Tuhan setiap waktu.

PEMBAHASAN

Secara umum  Kitab Imamat ini menceritakan tentang bagaimana umat Allah yang sudah di tebus, hidup dihadapan Allah yang Mahakudus. Seperti halnya apa yang dikatakan Gowan yang dikutip oleh R. Borrong, ia berkata  “Penulis kitab Imamat menuntut agar umat Allah merefleksikan sifat Allah dalam kehidupan umat.”[4] Imamat, adalah nama kitab ketiga dari Pentateuch. Nama Imamat berasal dari Septuaginta melalui terjemahan Alkitab bahasa Latin, yang memberikan judul lengkap “kitab mengenai imam-imam”.[5] Kitab ini ditulis oleh Musa. Kitab ini terbagi atas 27 pasal dan merupakan kitab yang ketiga dari kitab-kitab Perjanjian Lama. Kitab Imamat pada dasarnya adalah kitab peraturan atau kitab hukum-hukum yang diberikan Allah kepada umat-Nya melalui Musa di Sinai. Sehingga jika kita perhatikan isi kitab yang mendominasi adalah peraturan. LaSor dkk misalnya menjelaskan bahwa Isi Kitab Imamat dapat dibagi menjadi 2 bagian besar yaitu: 1) Mengenai peraturan-peraturan tentang persembahan kepada Allah. Dan, 2) Peraturan di dalam kehidupan ibadah dalam persekutuan dengan-Nya.[6] Dengan sepintas melihat pembagian Kitab imamat diatas bahwa Kitab Imamat terlihat suatu daftar peraturan. Dari sini terlihat bahwa kitab Imamat  adalah satu kitab yang berisikan peringatan dalam hal menjaga kekudusan sebagai umat Allah yang dinyatakan dengan berbagai peraturan salah satunya bagaimana mempersembahkan korban yang berkenan dihadapan Allah.

I.PENGERTIAN KORBAN DALAM KITAB IMAMAT
Tidak dapat disangkal setiap agama bahkan setiap orang yang dikatakan beragama mempunyai pemahaman tentang korban yang berbeda-beda. Maka tidak heran ada banyak variasi dalam menentukan makna korban. Perkataan korban berarti persembahan. Korban dipahami sebagai persembahan kepada yang ilahi, sebagai pengganti manusia yang berdosa, atau santapan untuk dewa-dewa,dan sebagainya. Sistem korban ini secara tidak langsung mengungkapkan akan adanya sesuatu yang lebih besar dari manusia, karena korban itu dipersembahkan kepada sesuatu atau seseorang yang dianggap lebih besar dari manusia. Dan manusia yang menyadari akan kesalahan-kesalahannya, memberikan korban kepada sesuatu yang lebih besar ini, sehingga akibat dari kesalahan-kesalahan tidak lagi ditimpakan kepada manusia yang melakukan kesalahan. Perlu kita perhatikan konsep korban oleh orang kafir dengan konsep korban orang Israel pada hakekatnya sangat berbeda. G. E. Wright dan Kuiper dalam buku mereka menjelaskan bagaimana konsep orang kafir mengenai korban tidak lepas dari anggapan anthropomorf tentang dewa. Dimana  antara manusia dan dewa terdapat ikatan kekeluargaan dan persamaan, sehingga para dewa menyerupai manusia. Dewa bergantung pada manusia demikian sebaliknya manusia bergantung kepada dewa. Disini berlakulah dasar pokok do ut des (aku memberi agar engkau memberi).[7]

Namun lain halnya dengan korban dalam kitab Imamat sering dinyatakan untuk ’menebus’(Imamat 1:4, dst).[8] Korban salah satu kelompok kata untuk ’persembahan’ yang berasal dari kata kerja ’untuk membawa dekat.” [9] Korban adalah sarana umat untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah bukan karena umat bermasud minta balasan berdasarkan korban yang sudah diberikan, melainkan korban itu adalah korban sukarela kepada Allah juga sebagai tebusan atas pelanggaran umat kepada Allah. Sedangkan Adam Clarke yang dikutip oleh Pdt Budi Azali dalam artikelnya di internet berkata:


“‘Bring an offering.’ The word KORBAN, from KARAB, ‘to approach or draw near,’ signifies an offering or gift by which a person had access unto God: and this receives light from the universal custom that prevails in the east, no man being permitted to approach the presence of a superior without a present or gift; and the offering thus brought was called ‘korban,’ which properly means the introduction-offering, or offering of access ( ‘Membawa suatu persembahan / korban’. Kata KORBAN, dari kata KARAB, ‘mendekat’, menunjukkan suatu korban atau pemberian dengan mana seseorang mendapat jalan masuk kepada Allah: dan ini mendapatkan terang dari kebiasaan universal yang berlaku di Timur, tak seorangpun diijinkan untuk mendekati seorang yang lebih tinggi tanpa suatu hadiah atau pemberian; dan persembahan yang dibawa itu disebut ‘korban’, yang secara benar berarti ‘korban yang mempersiapkan jalan’ atau ‘korban jalan masuk’).[10]
Namun penulis tidak sepenuhnya menerima ungkapan di atas karena menurut hemat penulis  bahwa prinsip-prinsip di sini diberikan oleh Allah, bukan dari sistim agama lain, atau kebiasaan ibadat agama lain di sekitar Israel. Sekalipun kebiasaan universal yang dikatakan Clarke itu mungkin memang ada, itu tidak berarti bahwa peraturan-peraturan di sini mendapatkan terang dari kebiasaan universal itu.

Menurut Imamat 7:37, ada lima korban yang termasuk dalam hukum dinyatakan Tuhan Allah kepada Musa di Gunung Sinai dan memerintahkan orang Israel mempersembahkan persembahan mereka di padang gurun Sinai. Kelima macam korban itu adalah korban bakaran, korban sajian, korban penghapus dosa, korban penebus salah dan korban keselamatan. Kelima macam korban tersebut mempunyai tujuan yang berbeda tetapi pada intinya sama yaitu sebagai pendamaian dan ucapan syukur. Dimana tindakan pendamaian di dalam kata ini berhubungan dengan sistim persembahan untuk menyelesaikan masalah dosa atau pelanggaran.

Selanjutnya untuk upacara korban Dyrness berpendapat bahwa:
“Upacara korban dalam Perjanjian Lama berpusat pada kata kerja bahasa Ibrani kipper yang biasanya diterjemahkan dengan “mendamaikan” atau “menutupi” (Imamat 1:4). Arti dasarnya barangkali “menutupi” atau “menghapuskan”. Atau kata kerja ini menunjuk kepada proses penebusan atau pendamaian dengan membayarkan sejumlah uang atau upeti, yang mencerminkan arti kata benda Ibrani koper (“harga tebusan”). Berdasarkan konteks alkitabiah (terutama Imamat 17:11), arti terakhir ini paling tepat mencerminkan konsep Ibrani.”[11]   

Dari pengertian tersebut dapatlah dikatakan bahwa korban-korban yang dipersembahkan oleh Israel kepada Allah dalam Perjanjian Lama adalah merupakan pengganti (substitusi) nyawa mereka sendiri. Gagasan ini jelas terlihat dalam peristiwa korban-korban yang dicurahkan darahnya. Dalam hal ini, darah bukan unsur yang mengandung tenaga gaib, tetapi diterima Allah sebagai pengganti nyawa atau sebagai tebusan orang yang beribadah itu.

II.PENTINGNYA KORBAN DALAM PL                      
Melihat definisi korban itu sendiri sebenarnya sudah mengisyaratkan betapa pentingnya korban itu sendiri. Jika diperhatikan lebih jauh  mengapa dalam kitab Imamat sangat ditekankan persembahan korban dimana pasal satu sampai pasal tujuh dengan detail membahas peraturan-peraturan  persembahan korban yang harus dilakukan oleh umat Tuhan pada waktu itu, jelaslah betapa pentingnya korban itu di dalam Perjanjian Lama.

Jika kita perhatikan persembahan korban binatang merupakan tema penting dalam seluruh Kitab Suci. Ketika Adam dan Hawa berdosa, Allah mengorbankan binatang untuk menyediakan pakaian bagi mereka (Kejadian 3:21). Kain dan Habel membawa persembahan kepada Allah. Persembahan Kain tidak diterima karena dia mempersembahkan buah-buahan sedangkan persembahan Habel diterima karena dia mempersembahkan "anak sulung dari kambing dombanya" (Kejadian 4:4-5). Setelah banjir surut, Nuh mempersembahkan binatang kepada Allah. Persembahan Nuh ini merupakan persembahan yang berbau harum yang menyenangkan Tuhan (Kejadian 8:20-21). Allah memerintahkan Abraham untuk mempersembahkan Ishak anaknya. Abraham taat kepada Allah, namun ketika Abraham siap mempersembahkan Ishak, Allah campur tangan dan menyediakan seekor domba jantan untuk mati menggantikan Ishak (Kejadian 22:10-13). Korban adalah salah satu aspek yang sangat penting dalam ibadat orang Israel.

Sistem persembahan mencapai puncaknya pada zaman bangsa Israel. Allah memerintahkan bangsa ini untuk menjalankan berbagai persembahan. Seperti halnya yang diungkapkan Dr. G.E Wright; “ Ia telah memerintahkan agar kebaktian korban dilakukan sebagai cara untuk memuliakan nama-Nya, ini digunakan untuk memelihara persekuatuan dengan Allah yaitu persekutuan yang terjadi oleh perjanjian.[12] Menurut Imamat 1:1-4 ada prosedur tertentu yang harus diikuti dan tentunya ditaati. Pertama-tama, binatang tersebut harus tak bercacat. Kemudian orang yang mempersembahkan harus mengidentifikasikan atau menyamakan dirinya dengan binatang itu yang arti simbolisnya berarti kematian korban melambangkan kematian orang berdosa. Kemudian orang yang mempersembahkan harus membunuh binatang itu. Ketika dilakukan dengan iman, persembahan ini menyediakan pengampunan untuk dosa-dosa. Pulpit Commentary menjelaskan begini: “The offerer’s  faith is truly needful as the victim he brings. ‘Without faith it is impossible to please God’ (= Iman dari si pemberi korban sama perlunya seperti korban yang ia bawa. ‘Tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah.’)[13]  Ibr 11:6  “Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah”. Dalam Imamat 4,5,6 dan 7 diuraikan kepada kita hukum-hukum korban penghapus dosa dan korban penebus salah. Korban penghapus dosa bermaksud memperbaiki hubungan dengan Allah kembali dan untuk menebus dosa. Korban penghapus dosa ini dipersembahkan pada hari Pendamaian Besar untuk menebus dosa pada imam dan segenap bangsa Israel. Sedangkan korban pengahapus salah adalah korban ganti rugi kepada orang yang dirugikan.Begitupun mengenai korban bakaran, korban sajian, dan korban keselamatan semuanya dijelaskan dengan detail dalam kitab Imamat. Lihat setiap korban memiliki rincian yang begitu rumit tetapi disitulah sebenarnya terdapat makna yang penting dan seorang imam serta si pemberi korban tidak boleh mengabaikannya. Tentunya bukan tidak ada alasan Alkitab mencatatnya ini menyatakan kepada kita bahwa konsep korban dalam PL sangat penting dan umat Tuhan tidak boleh melepaskannya dari kehidupan mereka.

Jadi dengan persembahan korban manusia diberi kesempatan untuk memuliakan dan menghormati Tuhan yang hidup, memelihara persekutuan dengan Dia dan melalui korban manusia diberi kesempatan menerima penebusan ketika manusia melakukan dosa tetapi itu adalah sementara. Namun korban khusunya dalam PL adalah sesuatu yang sangat penting dan begitu ditekankan.

III.KORBAN DALAM PL MENGACU PADA PENGORBANAN KRISTUS
Korban-korban dalam Perjanjian Lama hanya merupakan tebusan sementara untuk dosa dan takkan pernah dapat menjadikan umat yang mempersembahkan secara sempurna, seluruh umat para imam mereka juga harus mempersembahkan korban dari tahun ke tahun. Karena inilah kehendak Allah kepada umat-Nya. Namun usaha manusia yang bersifat agamawi tidak dapat membuat mereka masuk ke dalam keadaan yang layak di hadapan Allah yang maha kudus. Kelayakan tersebut sepenuhnya datang dari Allah.

Dosa memang merusak hubungan manusia dengan Allah dan menjadikan rintangan bagi manusia untuk datang kepada Allah. Kitab Imamat memberikan gambaran bahwa untuk mengatasi rintangan yakni dengan ibadat korban. Hal ini merupakan sifat yang asasi dari Allah dalam Perjanjian Lama maupun  Perjanjian Baru. Korban dalam Kitab Imamat mempunyai pembatasan sebab hanya bisa menghapus dosa yang tidak disengaja atau bahkan ini hanya bersifat ritual. Berbeda dengan konsep korban dalam perjanjian Baru.

Paulus menekankan bahwa Kematian Yesus di kayu salib menyatakan kebenaran dan keadilan Allah.[14] Penulis surat Ibrani menyatakan dengan sangat jelas adalah korban yang satu-satunya yang perlu membebaskan kita dari dosa, dan korban Tuhan Yesus bersifat kekal atau selamanya. Hal ini membuktikan bahwa Allah tidak mau manusia binasa. Oleh karena itu Kristus telah mati sebagai korban yang dipersembahkan oleh Allah untuk memenuhi tuntutan keadilan Allah yang dinyatakan untuk penyelesaian dosa manusia. Dengan demikian keberadaan manusia diperdamaikan kembali dengan Allah dan manusia melalui pengorbanan Tuhan Yesus kembali memperoleh keberadaan manusia sebelum manusia berdosa. Korban identik dengan persembahan yang dimana ada tujuan yang hendak dicapai. Korban dalam kitab Imamat membawa kita pada pengertian tentang penebusan Kristus bagi dosa manusia.

Pendamaian darah dan kekudusan hidup yang begitu ditekankan dalam kitab Imamat sangat erat kaitannya dengan karya pendamaian Kristus dan kekudusan hidup orang percaya dalam perjanjian baru. Perjanjian Baru mengajarkan bahwa darah pendamaian dari binatang yang dikorbankan, hal yang menonjol dalam kitab Imamat, hanyalah "bayangan saja dari keselamatan yang akan datang" (Ibr 10:1) dan menunjuk kepada Kristus sebagai korban penghapus dosa yang dipersembahkan satu kali untuk selama-lamanya (Ibr 9:12). Perintah untuk hidup kudus dapat dicapai sepenuhnya oleh orang percaya melalui darah Kristus yang mahal (1 Ptr 1:15).

Coba perhatikan ruang yang Allah berikan untuk Kitab Imamat. Hanya 27 ayat dalam Kejadian yang digunakan untuk menjelaskan seluruh Penciptaan, tetapi ada 27 fasal yang dibutuhkan untuk menjelaskan bagaimana kita menjalani kehidupan yang berkenan kepada Tuhan. Selain itu, kitab ini dikutip lebih dari 80 kali dalam Perjanjian Baru. Korban-korban dalam Kitab Imamat merupakan penjelasan yang paling lengkap dalam seluruh Alkitab mengenai karya penebusan Juruselamat bagi dosa manusia.

Pada akhirnya terlihat bahwa semua ketentuan peribadatan Perjanjian Lama bersifat sementara. Ia harus selalu diulang-ulang. Penulis kitab Ibrani selanjutnya menyebutkan bahwa tindakan peribadatan ataupun korban-korban yang dipersembahkan secara berulang-ulang di dalam Perjanjian Lama justru menunjukkan bahwa korban tersebut sama sekali tidak dapat menghapuskan dosa. Itu sebabnya, diperlukan suatu pengorbanan yang sempurna yang hanya satu kali dilakukan dan hal itu menunjuk kepada Kristus sendiri (Ibrani 10:11-12).  Seperti halnya yang di ungkapkan LaSor dkk : “Dalam Perjanjian Baru kurban berupa kambing dan domba dianggap lambang saja, “sebab tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapuskan dosa (Ibr. 10:4). Sedangkan, darah Kristus yang dipersembahkan sekali untuk selama-lamanya merupakan kurban yang sempurna.”[15]

Selanjutnya hari raya-hari raya Israel melukiskan tentang tindakan penyelamatan Allah di dalam waktu yang pernah mereka lalui. Paskah misalnya merupakan hari raya yang dilakukan sebagai peringatan terhadap tindakan penyelamatan yang dilakukan Allah terhadap Israel dari perbudakan Mesir. Dengan hari raya-hari raya tersebut, Israel memperingati bahwa Tuhan yang telah melepaskan mereka di masa lampau.[16] Uniknya, 1 Korintus 5:7 menyebutkan secara jelas bahwa domba Paskah itu menunjuk kepada diri Kristus sendiri.

Jadi di sini pun jelas terlihat bahwa baik upacara keagamaan maupun hari raya-hari raya yang diwajibkan kepada Israel pada masa Musa (diturunkannya Taurat) merujuk kepada keselamatan yang akan datang atau diwujudkan kelak di dalam Tuhan Yesus Kristus. R. Laird Harris berkata: “ The need for for various sacrifices arises from the varied needs of a people's worship. The New Testament makes clear that all the sacrifices of Israel were symbolic and typical of Christ's sacrifice.” (Kebutuhan untuk berbagai pengorbanan timbul dari beragam kebutuhan ibadah rakyat. Perjanjian Baru membuat penjelasan bahwa semua pengorbanan Israel  ini adalah simbolis dan khas/tipikal dari pengorbanan Kristus.)[17] Jelaslah kepada kita bahwa konsep korban dalam PL sebenarnya adalah gambaran dari korban yang di berikan Kristus yang menebus dosa. Yesus Kristuslah yang mendamaikan kita dengan Allah. Dia menderita dan mati sebagai korban yang tak bercacat bagi manusia yang berdosa.

KESIMPULAN

Seluruh korban dalam PL menunjuk kepada satu korban, yaitu Kristus, yang selama-lamanya menghapus dosa seluruh dunia. Korban-korban itu menjadikan kematian Kristus penting dalam rencana keselamatan dari Allah. Jadi makna sistem korban itu  intinya sebenarnya mengacu pada pengorbanan Yesus di kayu salib sebagai tebusan bagi dosa umat manusia. Korban dalam kitab Imamat ini penting karena memberikan kepada kita latar belakang untuk memahami kebenaran sentral iman Kristen mengenai pengorbanan Kristus yang menebus kita dari dosa.











[1] Roy Gane, The NIV Aplication Commentary, (Zondervan, Grand Rapids Michigan, 2004), hal. 23.
[2] Tafsiran Alkitab Masa Kini 1 Kejadian-Ester (Jakarta: YKBK, 2005), hal.188.
[3] Achim Teschner, Diktat Pengantar Pentateukh, (STT IMAN, 1996), hal. 41.
[4] Robert P. Borrong, Berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2002), hal. 45. Tujuan Imamat ialah mengemukakan hukum-hukum dan asas-asas yang harus menjadi pedoman hidup Israel sebagai umat Allah. Tafsiran Alkitab Masa Kini 1 Kejadian-Ester (Jakarta: YKBK, 2005), hal.187.
[5]Jacob Milgrom, The Anchor Bible Leviticus 1-16 ( USA: Doubleday Published, 1991), hal. 134. Bnd. Lasor , W.S, Pengantar Perjanjian Lama 1, ( Jakarta: BPK.Gunung Mulia, 2001), hal.214.
[6] Lasor , W.S dkk, Pengantar Perjanjian Lama 1, ( Jakarta: BPK.Gunung Mulia, 2001), hal.214
[7] Dr. G.E. Wright & Dr. A. De Kuiper, Perjanjian Lama Terhadap Sekitarnya (Bandung: Pinda Grafika, 1967), hal. 122.
[8] J.D Douglas, Esiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid A-L (Jakarta: YKBK 1992), hal. 579
[9] Merril C. Tenney, Pictorial Encyclopedia of the Bible Vol.4 Q-Z  (Grand Rapids: The Zondervan Corporation, 1976), hal. 200.
[10] http://kitabdansejarah.blogspot.com/2010/02/kitab-imamat.html
[11] William Dyrness, Tema-Tema Dalam Teologi Perjanjian Lama, (Malang: Penerbit Gandum Mas, 1992), cet.  kedua, hlm.  133.
[12] Wright & Kuiper, Perjanjian Lama, hal. 122.
[13] http://www.golgothaministry.org/imamat/imamat-1_1-17.htm
[14] Robert Peterson, Tafsiran Kitab Imamat (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1994), hal. 79.
[15] Lasor , W.S dkk, Pengantar, hal. 220.
[16] Dyrness, Tema, hal. 131
[17] R. Laird Harris, The Expositor’s Bible Commentary Leviticus (Michigan: Zondervan Grand Rapids, 1990), hal. 536.




No comments:

Post a Comment

Thanks so much for taking the time to leave a comment :)

 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

ShareThis