twitterfacebookgoogle plusrss feedemail
Life-ex photo banner-211_zps596e9fc0.jpg

Friday, February 1, 2013

JALAN HIDUP ORANG BENAR









Selain lingkungan karakter manusia sangat dipengaruhi cara
hidupnya. Cara hidup yang baik dan terpola dengan baik akan menghasilkan
karakter yang utuh dan dewasa serta baik pula. Sebaliknya cara hidup yang tidak
baik akan menghasilkan karakter yang buruk. Karakter yang dewasa akan bisa
mensyukuri dan menikmati hidupnya dalam keadaan apapun. Inilah gambaran hidup
orang benar.


 Cara hidup orang
benar inilah yang pemazmur jelaskan dalam Mazmur pertama. Mazmur 1 adalah suatu
mazmur kebijaksanaan. Pemazmur mendemonstrasikan bahwa jalan menuju kebahagiaan
adalah melalui suatu hidup yang dijalani dengan baik menurut pedoman-pedoman
yang ditetapkan oleh Tuhan, dan jalan menuju kehancuran adalah menjalani hidup
yang jahat, tanpa hukum - suatu kehidupan yang tidak menurut Taurat TUHAN.


Pada paper ini dengan kecintaan akan firman dan
kebenaran-Nya maka penulis akan mengeksposisi bagian ini sebagai bahan renungan
dan refleksi pribadi penulis selama hidup mengikut Tuhan. Sekiranya menjadi
berkat nama TUHAN dipermuliakan.





Tidak
Bergaul Dengan Orang Fasik (ayat 1)





Berbahagia itulah akibat positif yang digambarkan pemazmur
kepada orang yang berjalan di jalan yang benar  yang tidak bergaul intim dengan orang fasik.
Kata
bahagia yang digunakan dalam PL ada
dua; barukh dan asyere. Menurut catatan Ensiklopedi, “kata barukh yang sering dipakai dalam PL berarti pujian bila menghunjuk
kepada Allah (Kej 9:26, I Raj 1:48, Maz 28:7), dan bila dipakai tentang manusia
menunjuk kepada keadaan kesukaan (I Sam 26: 25, I Raj 2;45). Asyere (betapa senang! Maz 1:1) selalu
dikatakan tentang manusia ...”[1]


Kata berbahagialah mangandung arti keadaan di
mana seseorang merasa senang, kepuasan jiwa yang menggirangkan. Marie Claire
Barth mengatakan, “Berbahagialah adalah suatu seruan kegembiraan, pujian,
ajakan dan harapan. Isinya dapat bermacam-macam, namun selalu tentang hubungan
manusia (atau jemaah) dengan Tuhan.[2]
Jelas ini adalah sejenis berkat
yang dialami seseorang ketika ia hidup benar dalam konteks hubungannya dengan
Allah.


Kata yang sama dijumpai dalam Mazmur 89:16 yang mengatakan: “Berbahagialah
bangsa yang tahu bersorak-sorak, ya TUHAN, mereka hidup dalam cahaya wajah-Mu.
”
Mazmur 94:12 berbicara tentang
berkat dan ketaatan pada Firman : “Berbahagialah
orang yang Kauhajar, ya TUHAN, dan yang Kauajari dari Taurat-Mu.
” Ide yang
sama juga ditemukan dalam Mazmur 112:1:
“Berbahagialah orang yang takut akan
TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya.
” Akhirnya, Mazmur 128:1 juga menghubungkan ide
berbahagia dengan “jalan “ seseorang: “Berbahagialah
setiap orang yang takut akan TUHAN, yang hidup menurut jalan yang
ditunjukkan-Nya!
”


Pemazmur menyadari penuh bahwa kebahagiaan sejati hanya
diperoleh ketika seorang hidup menurut Taurat Tuhan bukan berdasar hikmat dunia
dan kebahagiaan itu adalah pemberian yang cuma-cuma dari Allah. Kebehagiaan itu
bukan  diperoleh dengan pergaulan intim
dengan para pencemooh. Inilah yang pemazmur jelaskan secara progres dalam
kalimat pada ayat pertama.


Keterangan tidak berjalan, tidak berdiri dan tidak
duduk
mungkin bukan suatu keterangan untuk meningkatkan dosa, semata-mata,
tetapi ini dimaksudkan suatu hubungan yang intim. Dalam konteks ini hubungan
yang intim dengan para pencemooh. Ini adalah jenis orang-orang yang mencari
nasihat dengan diri mereka sendiri dalam keadaan berlimpah dari hikmat mereka
sendiri dan mencerca firman Allah.


Willem A. Van Gemeren berkomentar: “The godly man does not 1 walk (hālak) in the counsel of the wicked, 2
stand (‘āmād) in the way of sinners, or 3 sit (yāšāb) in the seat of mockers;
rather, he reflects on the Lord in his walking, standing, and sitting.
”[3]


Orang
yang dikatakan berbahagia adalah bagi mereka yang hidup sesuai cara tertentu.
Mereka bahagia, bukan sebagai hasil dari merasakan suatu perasaan tertentu
(yang mungkin lebih mengacu kepada kepuasan), tetapi karena mereka telah
menjalani hidup dengan baik, yaitu, menurut kebenaran firman TUHAN dan tidak
bergaul intim dengan para pencemooh.





Mencintai
Taurat TUHAN (ayat 2)





Pemazmur sekarang mendapatkan kualitas positif dari tindakan
seseorang yang berbahagia. Orang itu suka dan mencintai akan Taurat TUHAN dan
merenungkannya siang dan malam.


Kata siang dan malam merupakan bahasa Merism (2 kata berlawanan mencakup
semuanya – terus menerus, senantiasa). Dengan kata lain Taurat TUHAN bukan
hanya direnungkan pada siang atau malam melainkan setiap saat, terus menerus
dalam hidup. Merenungkan Taurat TUHAN menjadi suatu gaya hidup. Taurat itu
dihidupi dalam seluruh aspek kehidupan, melalui pikiran, perkataan dan
perbuatan.


Keterangan pada Taurat
dari TUHAN
dapat mengacu  kepada
Hukum Musa atau kepada Pentateukh (Kejadian – Ulangan). Belakangan ini mengacu
kepada seluruh Perjanjian Lama. Ini dimungkinkan di sini, meskipun, dalam
konteks diskusi pemazmur akan etika orang fasik dan orang benar, bahwa apa yang
ada dalam pikirannya adalah apa saja dan semua instruksi yang diberikan Allah
untuk keuntungan manusia dengan memimpinnya dalam jalan hidup yang benar.


Istilah kesukaan muncul 126 kali dalam Perjanjian
Lama dengan beberapa perbedaan kecil dalam nuansanya. Ini bisa mengindikasikan
sesuatu yang bernilai atau berharga, misalnya dalam kasus batu-batu delima
untuk tembok Sion yang akan datang yang dinubuatkan oleh Yesaya (54:12);
batu-batu itu akan menjadi batu berharga yang didirikan oleh Tuhan
sendiri. Negeri Israel dikatakan akan menjadi negeri kesukaan sebagai
hasil dari berkat Allah yang kaya dan melebihi dari biasanya dalam Maleakhi
3:12. Ini juga menunjuk pada kerinduan-kerinduan dan keinginan-keinginan
seseorang:
2
Samuel 23:5

menyediakan suatu persamaan yang menarik dengan ayat dalam Mazmur 1.


Daud memberikan kata-kata terakhirnya sebelum ia meninggal
dan membandingkan dirinya dengan orang-orang fasik. Ia mengatakan bahwa Allah
menegakkan baginya perjanjian yang kekal, teratur dalam segala-galanya dan
terjamin, namun orang dursila akan dihamburkan. Ia mengatakan segala
keselamatannya dan segala kesukaannya Allah yang menumbuhkan. Istilah
ini juga dapat menunjuk kepada kesukaan TUHAN, kesenangan yang baik, keputusan
dan kehendak.


Dalam konteks Mazmur 1 istilah ini memiliki tambahan
pengertian yang jelas tentang “suka dan menikmati” Taurat TUHAN sehingga orang
itu merenungkannya siang dan malam. Ia telah memilih untuk tidak berjalan di
jalan orang fasik, namun sebaliknya mengambil jalan untuk merenungkan kebenaran
firman Tuhan. Mengenai kata merenungkan (hāgāh) Willem berkomentar:


The verb hagah is anomatopoeic, in
its basic meaning (to murmur or mutter, it alludes to the sound of animals (Isa
31:4, 38:14) or a moaning noise (Isa 16:7). Since the Bible, in part or as
whole, was generally not available to God’s people, they memorized and pondered
the word, the perfections of the Lord (63:6), and his mighty acts (77:12). The
alternation of the perfect and imperfect bring up the habitual aspect of
reflection on God’s word. The one who meditates continually reflectd God’s word
in life.”[4]


Dengan kata lain merenungkan dapat diartikan memikirkan
perintah-perintah, mengingat tindakan Allah yang dasyat dalam sepanjang
kehidupan. Kebiasaan ini memungkinkan orang tersebut selalu merefleksikan
firman Allah dalam hidupnya. Akibatnya perintah-perintah itu kemudian menguasai
seluruh hidup sehingga dalam hidupnya ia tidak mudah menyimpang.


Sebuah contoh yang bagus tentang prinsip merenungkan dapat
dilihat dalam Yosua 1:8. Tuhan mengatakan kepada Yosua untuk merenungkan ( Kata
Ibrani yang digunakan dalam Mazmur 1) kitab Taurat supaya engkau bertindak
hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya (bnd. Yakobus
1:22). Dan ini, tentu saja, adalah poin yang sama yang Pemazmur katakan;
renungkan firman Tuhan, mengerti, ingat, dan hidup berdasarkan itu.


Kehidupan orang benar akan selalu diisi dengan hal benar,
kegiatan-kegiatan yang bernilai dan tentunya benar. Orang benar  akan selalu mencintai, merenungkan dan
melakukan firman yang merupakan isi hati TUHAN setiap waktu dalam hidupnya.





Menghasilkan Buah (ayat 3)





Bagi orang yang suka Taurat TUHAN, yang merenungkannya siang
dan malam dan membentuk hidupnya berdasarkan hal itu, maka akan menghasilkan
berkat dalam hidupnya. Pemazmur menggambarkan orang itu seperti sebuah pohon
yang menghasilkan buahnya pada musimnya. Yeremia memakai ungkapan yang sama
dalam pembicaraan (lihat Yeremia 17:7-8).


Keterangan mengenai gagasan sebuah pohon yang ditanam,
daripada sekedar “tumbuh” mungkin mengindikasikan kemurahan ilahi dalam membawa
orang tersebut dari tempat tandus ke tempat berkat. Aliran air mungkin
menunjukkan saluran irigasi buatan yang menjamin suatu sumber air yang
terus-menerus untuk tumbuh-tumbuhan. Sebuah pohon yang dengan sengaja ditanam
dekat sumber air ini akan sungguh-sungguh menghasilkan buah. Tak bisa
dielakkan ia akan berhasil.


Sebagaimana Craigie dengan benar menunjukkan, pohon maupun
orang benar menjadikan jelas bahwa berkat pada orang benar bukanlah suatu hadiah,
namun bagian dan paket dalam menjalani hidup dalam kehendak Allah yang
dinyatakan.[5] Orang yang diberkati akan menghasilkan
buah pada musimnya, tidak perlu segera sesudah ditanam – dan ketika
situasi-situasi menjadi sulit (sebagaimana banyak mazmur menunjukkan bahwa
mereka menghasilkan buah) mereka tidak akan binasa dan layu. Berkat dalam
pengalaman mereka terbukti tidak perlu secara keuangan atau hal-hal lahiriah,
namun dengan karakter kuat dari hidup mereka dan kehadiran Allah.


Suatu gambaran akan diberkatinya orang yang berbalik dari
pembicaraan dan gaya hidup yang jahat dan sebaliknya menjalani hidup bersama
Allah berdasarkan Taurat. Apa saja yang
dibuatnya berhasil
dalam pengertian bahwa Allah memberkati hidupnya
sebagai hidup yang dipimpin Taurat.


            Pemazmur melalui Mazmur ini memberitahu
bahwa hidup orang benar tidak terlepas dari firman Tuhan. Orang benar yang
berkenan kepada TUHAN adalah mereka yang mencintai firman-Nya, merenungkan dan
melakukannya dalam hidupnya. Orang benar adalah orang yang tidak bergaul intim
dengan para pencemooh. Tidak hanya itu orang benar akan menghasilkan buah yang
sesuai jikalau ia selalu melekat pada TUHAN dan hidup menurut firman-Nya.







 










[1] W.W. Wessel, Ensiklopedi Alkitab Masa Kini A-L(Jakarta:
Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 1994), 124.





[2] Marie Claire Barth &
Pareira, Kitab Mazmur 1-72 (Jakarta:
BPK Gunung Mulia, 2009), 123.





[3] Willem A. Van Gemeren, gen. ed
Frank E. Gaebelein, The Expositor Bible
Commentary – Psalms
(Grand Rapids: Zondervan, 1991), 54.





[4] Ibid, Willem, 55.





[5] Peter C. Craigie, Psalms 1-50, Word Biblical Commentary, ed. John D. W.
Watts, vol. 19 (Waco, Texas: Word Books, Publisher, 1983), 61.




Wednesday, January 30, 2013

AKU DAN ALKITABKU






Alkitab sepenuhnya saya percayai sebagai Firman Allah. Setelah menerima Kristus secara pribadi tanpa ragu saya melandaskan seluruh kehidupan saya dengan penuh keyakinan kepada Firman Allah. Alkitab saya pahami sebagai Firman Allah yang tertulis dalam bahasa manusia, berlatarbelakangkan kebudayaan manusia. Namum meskipun ditulis oleh manusia yang sejak kejatuhannya dikuasai dosa, Alkitab tidak bersalah dan sepenuhnya sempurna dan final oleh karena Allah yang Mahakuasa melindungi dan menuntun manusia dalam penulisanya.

Ditulis oleh manusia tapi bukan berarti berasal dari pikiran manusia itulah Alkitab, berisi pikiran, kehendak, peringatan, perintah dan janji berkat Allah kepada manusia. Alkitab adalah kumpulan buku sepenuhnya pikiran Allah yang memakai manusia. Alkitab adalah firman Allah yang seluruhnya diilhamkan oleh Allah sendiri, bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki
kelakuan dan yang berkuasa mendidik orang kepada kebenaran sejati (2 Tim 3:16).

Hanya melalui Alkitab saja manusia bisa mengenal Firman  Allah yang hidup yaitu Yesus Kristus yang menjadi pusat perhatian dari PL hingga PB. Hanya Anugerah Allah-lah Alkitab yang terdiri dari 66 buku ini berada di tangan manusia. Tujuannya adalah agar manusia mengenal siapa Allah, dirinya, sesamanyadan lingkungannya.

Penyataan
Manusia tidak mungkin bahkan tidak terbayangkan bisa mengenal Allah yang tidak terbatas
hanya dengan pikirannya. Manusia yang terbatas tidak mungkin bisa menyelidiki Allah yang terlampau tinggi untuk diselidiki, terlampau dalam untuk dimengerti dengan logika manusia. Hanya karena Anugerah Allah melalui penyataan-Nya (Wahyu) manusia bisa sedikit tahu dan mengerti Allah, Allah memilih atas kehendak-Nya sendiri untuk memperkenalkan diri-Nya kepada manusia melalui penyataan.

Perihal ‘penyataan’ Alkitab memberi tahu bahwa Tuhan memberi manusia wahyu dalam dua bentuk yaitu wahyu umum berupa dasar pengetahuan akan Allah yang sudah dimiliki manusia sejak diciptakan, juga melalui alam semesta manusia bisa tahu ada penciptanya. Selanjutnya ada wahyu khusus, dimana Allah memakai Firman-Nya, yaitu Firman Allah yang hidup yaitu Yesus Kristus dan Alkitab.

Melalui penyataan umum maupun penyataan khusus Allah menghendaki manusia bisa mengenal Allah dengan segala natur-Nya, manusia bisa mengalami keselamatan melalui penerimaannya kepada wahyu khusus yaitu Yesus Kristus Juruselamat manusia.

Inspirasi
Inspirasi yang saya pahami bukanlah inspirasi yang pada umumnya dipakai dalam istilah manusia, inspirasi secara alkitabiah bukanlah dalam pengertian seperti itu. Inspirasi saya pahami sebagai pekerjaan Roh Kudus memimpin para penulis Alkitab mencatat firman Allah sehingga hasilnya tulisan terkumpul adalah final, tanpa cacat dan kesalahan sepenuhnya sempurna sebagai firman Allah – Alkitab.

Allah memakai manusia sebagai sarana inspirasi, namun demikian bukan Allah memakai
manusia sebagai juruketik atau mesin ketik yang menuliskan seluruhnya dengan
cepat. Allah yang Sempurna sebaliknya memakai manusia dengan latarbelakangnya
masing-masing, baik kepribadian, karakter, tempramen serta karunianya
masing-masing.

Ineransi
Ineransi Alkitab merupakan pandangan yang mengatakan bahwa Alkitab tidak bersalah. Terjemahan kemungkinan bisa salah, namun sesungguhnya Alkitab tidak pernah salah. Sekalipun Alkitab mengisahkan atau mencatat peristiwa-peristiwa di mana orang melakukan kesalahan (hal-hal yang salah) namun Alkitab tetap merupakan kebenaran. Memang di dalam Alkitab dicatat hal-hal yang tidak benar tetpi itu bukanlah kesalahan penulisan Alkitab.

Ineransi ini juga merupakan suatu bentuk yang mengajarkan bahwa Alkitab bebas dari kesalahan, Firman Allah tidak dapat salah dan tidak menyatakan sesuatu yang bertentangan dengan fakta dengan kata lain ineransi Alkitab menyatakan bahwa Alkitab tanpa cacat sepenuhnya sempurna.

Pemahaman akan penyataan, inspirasi, dan ineransi akan terkait erat dengan pemahaman serta pandangan kita terhadap Alkitab. Dengan demikian penting sekali untuk dipelajari dan dipahami dengan baik karena
pemahaman itu akan mempengaruhi sikap dan pengertian kita terhadap Alkitab yang adalah firman Allah.


Tuesday, January 29, 2013

7 TAHAPAN AKTIVITAS PACARAN ANAK MUDA JAMAN SEKARANG









Mendengar
istilah pacaran tentu sudah tidak asing lagi bagi kita bukan? Dalam berpacaran setiap
remaja memiliki cara-cara tersendiri dalam berpacaran agar
lebih romantis dan mesra (katanya).
Berikut 7 tahap dalam berpacaran yang
dibagi berdasarkan aktivitas yang dilakukan dalam berpacaran.


Tahap-1




Dalam tahap ini sepasang kekasih yang sedang kasmaran hanya saling bertatap
mata

saja sembari berandai tentang hubungannya ke depan
bersama kekasihnya ini. Tahapan ini biasanya terjadi sesaat atau beberapa waktu
setelah jadian. Konon katanya saat-saat ini sepasang kekasih masih malu-malu
kucing.


Tahap-2




Tahap berikutnya dua sejoli mulai memberanikan diri berpegangan tangan ataupun
bergandengan tangan sewaku ber

jalan bersama atau sedang
duduk bersama sembari menikmati es kelapa muda atau sekadar nongkrong saja.
Pengalaman yang manis, seakan tidak mau mencuci tangan dahulu karena aroma
tangan si doi masih membekas.


Tahap-3




Untuk tahapan berikutnya lebih berani lagi.

Selain
melakukan kedua hal di atas, dalam tahap ini dua mahluk yang sedang kasmaran
sudah tidak sungkan lagi untuk merangkul bahkan berpelukan (: kaya Teletubies
donk :D).


Tahap-4




Lebih tinggi lagi, setelah berpelukan lalu si cowok berani mencium si cewek.
Karena pada umumnya di tahapan ini sekadar berpengan tangan atau berpelukan dianggap
sudah biasa dan terkesan kurang romantis jika belum menjajaki yang satu ini
(katanya).




Tahap-5





Kalau tadi hanya si cowok yang mencium, sekarang dua-duanya sudah saling
berciuman bahkan mouth
to mouth
alias dari mulut ke mulut. Dalam tahapan ini biasanya dua
sejoli sudah saling bersilat lidah (red-french
kiss
).




Tahap-6


Lebih ekstrim lagi, salah satu pihak sudah mulai meraba-raba daerah terlarang
(misalnya lubang hidung? Bukan!! itu loh!!!). Pada umunya sih si prialah
sebagai inisiatornya. Sembari berciuman sang pria tak segan-segan menjelajahi
area-area terlarang sang kekasih seperti

sekwilda
(sekitar wilayah dada) dan selanjutnya


Tahap-7




Untuk tahap yang terakhir lebih ekstrim dari yang ekstrim-ekstrim dan lebih
berbahaya dari yang berbahaya (lebay!!!). Biasanya jika kondisi memungkinkan
dan kedua sejoli sudah ngebet, bisa jadi langsung mencari

tempat
yang sepi dan tersembunyi untuk mencari yang sembunyi-sembunyi. Kalau sudah
begini sudah overdosis, perlu diberi obat penawar
nafsu.







Sekarang
marilah bercermin, sudah sampai tahap ke berapa aktivitas pacaran yang telah
Anda lakukan hingga sekarang. Perihal di atas itulah faktanya yang tidak perlu
dibuktikan karena Anda juga pasti mengiyakan, karena itu gambaran gaya
berpacaran kebanyakan kaum muda, (red-saya juga dulu begitu). Untuk cara
pacaran yang baik tidak dibahaspun Anda sudah tahu bukan? Intinya apakah
Tuhanmu dipermuliakan dengan hidupmu, berpacaranmu yang demikian, jika tidak!
Tidak ada cara lain selain merubah total gaya pacaranmu yaitu gaya pacaran yang
orientasinya memuliakan Dia dan bukan untuk kenikmatan diri.








Monday, January 21, 2013

BEBAS DARI JERAT KEKUATIRAN







Merupakan hal yang baik untuk
mempersiapkan diri di masa-masa yang sulit (masa depan). Alkitab tidak pernah
melarang untuk mempersiapkan sesuatu menyangkut masa depan (Amsal 6:6). Tuhan
tidak melarang kita mempersiapkan diri untuk masa depan kita. Dalam perikop
Mat. 6:25-34 Tuhan Yesus mengajar kita tentang kekuatiran. Kata kuatir di sini
memiliki arti sikap hati yang memiliki sikap kuatir yang terlalu berlebihan
(ayat 34). Kata kuatir dapat di terjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai worry dan concern yang memiliki arti kuatir yang bersifat positif.





Rasa tidak puas diri merupakan pemicu
rasa kuatir dalam hidup. Demikian seorang yang kuatir tidak akan pernah merasa cukup,
selalu merasa tidak puas dengan apa yang  dimiliki saat ini. Pada kenyataanya kita sering
merasa kuatir untuk hal yang tidak perlu. Di dalam Matius 6:25-24, Tuhan
mengajarkan kita untuk tidak kuatir sebab Dia adalah Allah yang memelihara dan
tahu kebutuhan ciptaan-Nya. Tuhan Yesus memakai analogi dalam dunia binatang (burung)
dan tumbuhan (bunga bakung dan rumput) untuk menggambarkan pemeliharaan Tuhan
yang sempurna. Tuhan menyediakan makanan bagi burung-burung tanpa menabur serta
memberikan keindahan kepada bunga bakung tanpa bekerja. Inilah gambaran
pemeliharaan Tuhan yang sempurna terhadap ciptaan-Nya. Manusia pada hakekatnya
melebihi ciptaan lainnya dengan demikian sudah pasti Allah juga memeliharanya.
Apapun yang dibutuhkan manusia Allah menyediakan baginya.





Bagaimana kita bisa lepas dari
jerat kekuatiran? Berikut ini beberapa hal yang patut kita pikirkan:


  1. Kita harus memikirkan apakah  sebetulnya kekuatiran yang kita alami itu
    adalah kekuatiran yang beralasan, setelah itu berserah kepada Tuhan.

  2. Mengingat pertolongan Tuhan
    saat kita mengalami kegagalan, akan menolong kita untuk dapat menghindar dari
    rasa takut/kuatir.






Seorang penulis Kristen bernama
Max Lucado pernah menulis tentang kekuatiran dan memberikan tips saat kuatir
menghantui yaitu dengan menambahkan frasa “Bila
saatnya tiba.”
Jangan memikirkan hal-hal yang belum terjadi, karena pada
saatnya akan tiba (I Kor 10:13; Markus 13:11).


Dalam kehidupan kita harus menyerahkan
segala kekuatiran kita kepada Allah. Selain itu kita harus mengingat bahwa
Allah senantiasa memelihara hidup kita. Dia akan menolong kita untuk mengatasi
rasa kuatir itu.


 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

ShareThis