twitterfacebookgoogle plusrss feedemail
Life-ex photo banner-211_zps596e9fc0.jpg

Tuesday, August 23, 2011

Berprasangka buruk




Apa yang dapat dipetik dari berpikir negatif? Cerita
berikut ini menunjukan bahwa berburuk sangka adalah sebuah tindakan yang bodoh dan merugikan diri sendiri. Seorang
prajurit muda harus pergi berperang ke medan peperangan. Malang baginya, ledakan sebuah bom memutuskan kaki kanannya. Cacat pada kaki membuat prajurit itu kehilangan kepercayaan diri.  Ia
berpikir bahwa pacarnya pasti akan menolak dirinya karena tidak dapat lagi berjalan dengan sempurna. Karena itu dengan sangat terpaksa ia meminta pada sahabatnya untuk memberitahukan pada kekasihnya bahwa ia telah tewas di arena pertempuran.

Setelah kejadian itu, sang pemuda menghadapi hari-hari yang kelam dalam hidupnya dengan
hati yang hancur karena sebetulnya ia masih sangat mencintai kekasihnya itu.

Suatu hari, prajurit itu mendapat berita bahwa mantan kekasihnya akan melangsungkan pernikahan. Perasaannya bercampuraduk karena sang kekasih pada akhirnya menjadi milik orang lain. Ia memutuskan untuk menyaksikan kebahagiaan mantan kekasihnya dihari pernikahannya. Oleh karena itu ia sengaja datang ke acara pernikahan tersebut dan memperhatikan dengan diam-diam wanita itu.

Dan manakala pengantin pria muncul, pemuda itu sangat terperanjat kaget sebab calon suami mantan kekasihnya itu adalah teman seperjuangannya yang kehilangan kedua kakinya.

Pemuda tersebut sangat menyesal mengapa ia dahulu berprasangka buruk dan terburu-buru memutuskan untuk mengundurkan diri karena kakinya buntung satu. Mengapa ia tidak menemui kekasihnya terlebih dahulu? Tetapi semua sudah terlambat, otak negatifnya membawa ia pada penyesalan seumur hidupnya.

Kisah tersebut menegaskan bahwa kita seharusnya memikirkan kemungkinan terbaik dahulu, sebelum memikirkan kemungkinan terburuk. Sebab apa yang terjadi di depan nanti mungkin jauh lebih baik dari apa yang kita pikirkan. (ST)


Monday, August 22, 2011

Merusak Bila Disalahgunakan




















Imanuel Suluh | daku on the corner



Kita pasti setuju, banyak kemudahan yang kita peroleh dari telepon seluler
saat ini, yang dilengkapi dengan berbagai fitur menarik khususnya fasilitas
kamera saku yang mudah digunakan untuk mengambil gambar maupun video untuk
momen penting dimanapun dan kapanpun kita kehendaki. Namun sering kali
kemudahan atau fasilitas itu disalahgunakan. Fasilitas yang seharusnya
digunakan untuk hal-hal yang baik, justru dijadikan sekedar alat untuk “bersenang-senang”
dan mendokumentasikan hal-hal yang tidak baik, tidak mendidik bahkan cenderung
merusak. Contoh kasus yang masih hot
saat ini, masyarakat Bogor digegerkan dengan beredarnya adegan mesum yang
diabadikan melalui telepon genggam. Sebuah video berformat 3gp berdurasi 5
menit 48 detik itu berisi adegan pesta seks yang dilakukan seorang pria dengan
tiga wanita. Bukankah h
al ini justru
merusak dan menghancurkan kemanusiaan
itu sendiri?


Kemudahan itu justru akan merusak moral manusia
jika disalahgunakan seperti halnya contoh di atas. Sebagai insan yang terdidik
juga sebagai Generasi Kudus Bagi Kristus seharusnyalah kita bersikap bijak dalam memanfaatkan kemudahan yang ada
untuk hal-hal yang baik dan berguna. Manfaatkanlah kemudahan hasil dari
teknologi itu sebagai alat untuk pengembangan diri kita menjadi pribadi yang
produktif dan memuliakan Bapa Di Sorga.

















Monday, August 8, 2011

Cinta Buta, Membuatnya Lakukan 4 Kali Aborsi (Kisah Nyata)


















Wanita muda ini rela
memberikan segalanya untuk pria pujaannya, hal itu membawanya dari satu dosa ke
dosa lain, dan berujung harus membunuh darah dagingnya sendiri dengan aborsi.
Rini Setyowati, wanita ini begitu mencintai pacaranya dan rela memberikan
segalanya bahkan tubuhnya sendiri.


"Buat
saya dia segalanya, sampai akhirnya kami terlibat hubungan seks di luar
nikah,  dan itu sering kami lakukan. Perasaan takut atau apa gitu..
sebenarnya ngga ada loh. Yang ada hanya perasaan menyenangkan, yang membuat
kami semakin dekat."


Hubungan
terlarang tersebut akhirnya membuahkan janin di rahim Rini. Merasa panik, Heri
pacar Rini membuat tindakan nekad, aborsi.


"Ya
itulah jalan satu-satunya agar kami bisa keluar dari masalah. Jadi, terus
terang, walaupun itu adalah keinginan dia, namun saya tidak pernah menolak.
Memang kami belum siap untuk menikah."


Namun
kehamilan itu tidak membuat mereka jera, untuk keempat kalinya Rini hamil, dan
sebanyak itulah janin yang terbunuh demi pria itu.


"Kami
aborsi di dukun bayi, sangat-sangat sakit sewaktu proses pengguguran."


Hanya
demi membuktikan cintanya kepada Heri, rasa sakitpun tidak dihiraukan oleh
Rini.


"Karena
saya sangat-sangat sayang, dan saya tidak ingin kehilangan dia."


Rasa
kosong, dan ingin dicintai yang dicarinya dari Heri pacarnya bermula dari luka
hatinya dimasa kecilnya. Keterbatasan penglihatan yang dideritanya membuat Rini
merasa rendah diri, minder dan penyendiri.


"Saya
ngga bisa melihat pelajaran di depan, apa lagi kalau ulangan. Biasanya kalau
ulangan itu kan soal-soalnya di tulis di papan tulis, saya tidak bisa melihat
dan paling saya hanya membuat di kertas ulangan itu seperti benang kusut. Saya
waktu itu juga tidak bisa mengucapkan huruf ‘e', setiap kali saya mengucapkan
satu kata yang ada huruf ‘e'-nya, saya diminta mengulang. Saya merasa kenapa
saya jadi bahan ejekan. Jadi saya lebih banyak sendiri, mulai dari SD pun saya
sudah sering sendiri."


Rasa
minder Rini membuatnya tidak bisa bergaul, dan menjauh dari teman-temannya.


"Saya
tidak bisa bergaul dengan teman-teman lainnya karena saya merasa rendah diri,
saya merasa tidak sepandai teman-teman. Hal itu membuat saya tidak tahu harus
ngomong apa."


Masa
kecilnya itu menyisakan ruang kosong dalam hati Rini, hingga kehadiran Heri
dalam hidupnya, hal tersebut membuat Rini terbakar dalam api cinta.


"Sejak
kecil, hingga saya bertemu dia itu, saya merasa kalau yang tulus mengasihi saya
itu hanya dia. Buat saya, saya tidak bisa kehilangan dia. Dia segalanya buat
saya."


Ketakutan
akan kehilangan orang yang paling dicintainya membuat Rini rela melakukan apa
saja termasuk pembunuhan terhadap janin-janin yang dikandungnya. Hingga tiba,
mimpinya untuk memasuki pernikahan dengan orang yang dicintainya terwujud. Hal
itu semakin membutakan Rini akan pribadi yang ada di balik wajah suaminya,
hingga sesuatu yang tidak terbayangkan terjadi.


"Biasanya
saya di jemput di stasiun, tapi ini saya tunggu-tunggu tapi kok ngga dijemput.
Lalu akhirnya saya pulang, sampai di rumah itu sudah ada pacar dari adiknya
Heri."


Sebuah
cerita tentang sang suami diceritakan oleh pacar adik iparnya. Sang suami
ternyata membawa wanita lain kerumahnya, bahkan melakukan perbuatan tidak
senonoh. Rini tidak bisa mempercayai kenyataan yang ada dihadapannya, bayang-bayang
pengkhianatan sang suami  seakan menghantui hidupnya. Sebuah tindakan yang
mengerikan siap dia lakukan.


"Saya
mulai iris-iris tangan saya, karena hati saya lebih sakit dari tangan saya yang
teriris-iris itu."


Dengan
sebuah gunting, Rini mulai melukai dirinya sendiri. Namun tindakannya itu tidak
mengubah sang suami. Heri bahkan membantah semua cerita tentang perselingkuhan
yang di dengan Rini, dan Rini mempercayainya.


"Dia
mulai berdalih, jadi semua yang diungkapkan pacar adiknya itu disangkal semua
sama dia. Bodohnya, saya percaya sama dia. Saya bilang, suami saya tidak akan
melakukan hal seperti itu."


Kejadian
itu berlalu begitu saja, tanpa meninggalkan sedikitpun kecurigaan di hati Rini.
Dengan alasan bisnis di Surabaya, Heri meninggalkan Rini tanpa kabar. Merasa
kuatir, ia memutuskan mencari Heri di rumah salah satu rekan bisnisnya. Namun
sesuatu yang menyakitkan harus dihadapinya. Heri ternyata telah menikah dengan
orang lain.


Seperti
terbangun dari mimpi buruk, Rini hanya bisa duduk meratapi kepedihan yang
menyayat hatinya. Kesadarannya berlahan hilang.


"Ketika
saya diam, itu terbayang semuanya, bagaimana perlakuan dia ke saya. Jadi masih
ada dalam hati saya yang berkata hal itu tidak mungkin dia lakukan ke saya.
Rasanya saya ngga percaya dia akan tega lakukan itu, jadi saya anggap dia itu
sangat jahat sekali pada saya. Dia sudah ngga mengingat semua pengorbanan yang
saya lakukan. Rasa sakit sewaktu saya melakukan aborsi."


Karena
begitu sakit hatinya, Rini pun menyiksa tubuhnya sendiri dengan berbagai cara.


"Kalau
saya makan, tidak lama kemudian makanan itu dengan jari saya, makanan itu saya
muntahkan kembali. Pokoknya sesakit apapun, setidak nyaman apapun akan saya
nikmati, karena lebih sakit hati saya."


Rini
terjebak dalam sakit hatinya, dia bingung untuk melakukan apa dan kemana. Bagi
Rini, dunianya sudah hancur. Kemesraan bersama Heri, pengkhianatan suaminya,
rasa sakit karena aborsi dan wajah-wajah anak kecil yang dibunuhnya, semua itu
menghantui  hidup Rini. Tidak berhenti di situ, berbagai penyakit juga
menggerogoti Rini. Semua beban itu membuatnya mengambil keputusan untuk
mengakhiri hidupnya, namun keluarganya berhasil mencegahnya.


Seringkali
dia berkeluh kesah kepada Tuhan, namun dia tidak pernah mendapatkan jawaban dan
merasa bahwa teriakannya sia-sia saja. Hingga suatu hari, Rini mendengarkan
sebuah program radio rohani dan menghubungi melalui pesan singkat. Hal tersebut
di respon dengan segera.


"Disitu
saya dikuatkan, bahwa masa lalu saya sudah selesai. Sewaktu konselor itu
mengatakan hal itu pada saya, saya semangat. Saya merasa bangkit."


Perkataan
dari konselor itu menimbulkan rasa penasaran di hati Rini, demi mendapatkan
kebenaran setiap hari dia meluangkan waktu untuk membaca kitab suci.


"Ayat
itu seperti Tuhan sendiri yang berbicara kepada saya, bahwa pencobaan-pencobaan
yang kamu alami tidak melebihi kekuatanmu. Pada waktu saya meratapi nasib, saya
membayangkan Kristus di kayu salib melihat apa yang saya lakukan. Saya membayangkan
Dia berkata, ‘Lihat, ini sudah Aku lakukan untuk kamu. Tapi kenapa kamu tidak
bersyukur, kenapa kamu masih juga meratapi nasib kamu, Aku sudah menggantikan
hukuman dosamu di kayu salib. Jadi untuk apa kamu terus menyiksa dirimu dengan
rasa bersalah, rasa berdosa.' Hal itulah yang akhirnya membuat saya menyadari
‘Tuhan terima kasih, bahwa saya demikian berharga di mata Tuhan.' Saya lalu
minta ampun pada Tuhan, atas masa lalu saya, atas kejahatan-kejahatan saya, dan
saya mulai imani bahwa masa lalu saya sudah selesai."


Sejak
itu, Rini memulai lembar kehidupan yang baru bersama Tuhan Yesus yang telah
memberikannya masa depan yang penuh harapan. Inilah yang Rini percayai akan
semua yang telah terjadi.


"Say a bersyukur
sekali dalam keadaan saya yang hancur-hancuran, Tuhan tetap menjaga saya. Tuhan
turut berkerja dalam segala sesuatu untuk mendatang kebaikan." (Kisah ini ditayangkan 9 Maret 2010 dalam acara Solusi Life di O'Chanel)




Lihat video lengkapnya dibawah ini







Sumber
Kesaksian:



Rini
Setyowati








Catatan
dari penulis
















Anugerah Kristus
Pulihkannya (By Imanuel Suluh)







Rini (Depan baju biru)


          Saya mengenal Ka Rini sewaktu kami
bertemu di STT IMAN, kebetulan kami sama-sama terpanggil study theologia.
Sungguh hal yang berkesan ketika bertemu dengannya, sosok dewasa penuh dengan
cerita dibalik kehidupannya dahulu sebelum dia dipulihkan bahkan dipanggil
Tuhan Yesus menjadi alat-Nya.


          Dua tahun sudah kami saling mengenal, kini
kami sudah berada ditingkat III dari study kami. Satu hal yang tak terlupakan adalah
cerita dan kesaksian hidupnya.


Jikalau saya mengingat kembali
kesaksian kehidupannya yang lama, saya hanya bisa mengerutkan kening  sambil menarik nafas panjang, kenapa, karena hidupnya yang dulunya sepertinya
sudah “mati” tak berdaya, suram seakan tanpa harapan dan masa depan namun kini
ia hidup kembali, bangkit kembali, bersinar kembali dan penuh harapan meniti
masa depannya. Sungguh ini semua karena Anugerah Yesus Kristus, yang memulihkan
kehidupannya. Yesus mengisi kekosongan dalam diri Ka Rini. Kini Ka Rini sudah
memulai lembaran baru kehidupan bersama Yesus dan bersama kami rekan
seangkatannya ada Berkat, Sumiria, Dewi, Imanuel,
Junias, Tono dan Siska





“TUHAN
itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang
yang remuk jiwanya.”


(Mazmur 34:19)





Positive Thinking!



















Apa
yang dapat dipetik dari berpikir negatif? Cerita berikut ini menunjukan bahwa
berburuk sangka adalah sebuah tindakan yang bodoh dan merugikan diri sendiri.


            Seorang
prajurit muda harus pergi berperang ke medan peperangan. Malang baginya,
ledakan sebuah bom memutuskan kaki kanannya. Cacat pada kaki membuat prajurit
itu kehilangan kepercayaan diri.  Ia berpikir
bahwa pacarnya pasti akan menolak dirinya karena tidak dapat lagi berjalan
dengan sempurna.


            Karena
itu dengan sangat terpaksa ia meminta pada sahabatnya untuk memberitahukan pada
kekasihnya bahwa ia telah tewas di arena pertempuran.


            Setelah
kejadian itu, sang pemuda menghadapi hari-hari yang kelam dalam hidupnya dengan
hati yang hancur karena sebetulnya ia masih sangat mencintai kekasihnya itu.


            Suatu
hari, prajurit itu mendapat berita bahwa mantan kekasihnya akan melangsungkan
pernikahan. Perasaannya bercampuraduk karena sang kekasih pada akhirnya menjadi
milik orang lain.


            Ia
memutuskan untuk menyaksikan kebahagiaan mantan kekasihnya dihari
pernikahannya. Oleh karena itu ia sengaja datang ke acara pernikahan tersebut
dan memperhatikan dengan diam-diam wanita itu.


            Dan
manakala pengantin pria muncul, pemuda itu sangat terperanjat kaget sebab calon
suami mantan kekasihnya itu adalah teman seperjuangannya yang kehilangan kedua
kakinya.


            Pemuda
tersebut sangat menyesal mengapa ia dahulu berprasangka buruk dan terburu-buru
memutuskan untuk mengundurkan diri karena kakinya buntung satu. Mengapa ia
tidak menemui kekasihnya terlebih dahulu? Tetapi semua sudah terlambat, otak
negatifnya membawa ia pada penyesalan seumur hidupnya.


            Kisah
tersebut menegaskan bahwa kita seharusnya memikirkan kemungkinan terbaik
dahulu, sebelum memikirkan kemungkinan terburuk. Sebab apa yang terjadi di
depan nanti mungkin jauh lebih baik dari apa yang kita pikirkan. (ST)


Iman Si Gadis Kecil






Seorang gadis kecil tinggal bersama kedua orang tuanya disebuah desa kecil. Suatu hari,
ayahnya bergabung dengan kemiliteran. Dan tak lama kemudian, tuan tanah menuntut uang sewa. Sang ibu hanya bisa mengatakan bahwa suaminya bergabung dengan kemiliteran dan ia tidak punya uang untuk membayar sewa.

Tuan tanah itu adalah seorang yang keras hati. Ia berkata bahwa mereka harus meninggalkan rumah tersebut. Ia tidak membiarkan orang yang tidak membayar sewa untuk tetap tinggal.

Setelah tuan tanah pergi, sang ibu memulai meratap dengan pahit. Gadis kecilnya, yang telah ia ajari untuk berdoa dengan iman, datang kepadanya dan berkata, “Apa yang membuat ibu menangis? Aku akan berdoa kepada Tuhan agar memberi kita sebuah rumah kecil, dan Dia pasti akan memberikannya.

Apa yang bisa dijawab ibunya? Dan mulailah anak itu berdoa. “Ya Tuhan, Engkau sudah membawa ayahku pergi jauh, ibu tidak punya uang, dan tuan tanah akan mengusir kami berdua karena kami tidak dapat membayar uanng sewa. Jika kami harus tinggal di luar rumah, Ibu bisa pilek. Jadi,
tolong beri kami rumah mungil.” Ia berhenti sejenak seperti menanti jawaban
langsung, dan menambahkan, “Mau, kan Tuhan. Tolong ya?”

Gadis kecil itupun keluar dari ruangan dengan hati senang, berharap sebuah rumah akan diberikan kepada mereka Ibunya merasa tertegur melihat sikap si anak.


Saya beri tahu akhir kisah ini. Sejak itu, sang ibu tidak pernah lagi membayar sewa karena Allah mendengar doa gadis kecil itu. Tuhan sudah menjamah hati tuan tanah yang kejam itu. Tuhan, berikan kami iman seperti anak kecil itu, supaya kami juga dapat berharap sebuah
jawaban doa seperti dia.

Source: D.L. Moody, Orang Buta yang Membawa Lentera, (Pioner Jaya).





 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

ShareThis