twitterfacebookgoogle plusrss feedemail
Life-ex photo banner-211_zps596e9fc0.jpg

Thursday, July 21, 2011

“Pulpen itu membuat saya mengenal Yesus”






Penulis Bersama Pdt. Mangapul Sagala


Aku lahir di sebuah desa di pedalaman Kalimantan, sejak kecil aku sudah ditinggalkan oleh kedua orang tua untuk selamanya. Aku hidup di tengah-tengah keluarga yang meyakini bahwa alam semesta dan semua makhluk hidup mempunyai roh dan perasaan sama seperti manusia dan kepercayaan awal kami adalah Animisme yaitu kepercayaan bahwa benda-benda atau tempat-tempat tertentu didiami oleh roh-roh yang bisa mempengaruhi manusia.

Namun siapa sangka aku yang dahulu menyembah batu, pohon kini bisa mengenal Yesus. Perkenalan aku dan Tuhan Yesus awalnyapun sangat sederhana, yaitu hanya melalui pulpen, ya sebuah pulpen yang bisa digantung di leher telah menarik aku sebagai anak-anak untuk pertama kali datang ke gedung gereja. Meskipun motivasi awalnya hanyalah untuk mendapatkan benda itu. Tapi ternyata oleh anugerah-Nya melalui benda mati tersebut untuk pertama kalinya dalam hidup aku bisa menulis “Jesus Love Me.” Rasul Yohanes pernah menulis “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh.3:16). Karena Ia telah terlebih dahulu mengasihi aku sehingga aku bisa menuliskannya.

Tuhan berkemurahan memakai seorang hambanya untuk menyekolahkan dan menempatkan aku di lingkungan yang mendukung pertumbuhanku. Tahun 2000 aku pindah ke Manado. Bersyukur semua ada di dalam kendali Tuhan dan akhirnya pada akhir pengumuman hasil ujian SMA dan aku berhasil, aku diteguhkan dalam Mazmur 8:4 berbunyi: “Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?” Apakah aku ini, sehingga Engkau mengingatnya, siapakah aku ini sehingga Engkau mengindahkannya. Aku adalah manusia yang seharusnya pantas dimurkai, oleh karena hidup hidup dibawah kekuasaan dosa. Namun karena Anugerah-Mu aku dibenarkan oleh rahmat dan kasih-Nya bersedia mengulurkan tangan-Nya yang kudus memberi aku kehidupan rohani. Ia mengampuni dosa-dosa ku melalui kematian anak-Nya di kayu salib. Peneguhan itu sekaligus membuat aku menerima Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat pribadi aku untuk selamanya.

Tuhan yang Mahamurah itu juga memberi kesempatan padaku buat berkarya bagi Tuhan dan sesama dan pada tahun kelulusan aku memenuhi panggilan untuk memperlengkapi diri dalam pelayanan melalui study theologia. Mengapa aku mau masuk sekolah theologia? Bukankah study di sekuler lebih menjanjikan? Ooppss belum tentu, aku punya alasan yang sangat penting yaitu bukan soal materi tapi soal jiwa dan itu gk bisa di beli dengan emas, perak dan uang. Dan kedua ortu ku waktu meninggal belum mengenal Tuhan Yesus alias belum selamat. Dalam pikiran n hati aku bertanya lalu bagaimana saudara2 yang lain yang belum kenal Tuhan Yesus siapa yang mau ngenalin Tuhan Yesus pada mereka? Siapa lagi kalo bukan aku. Aku udah menerima keselamatan cuma-cuma aku juga punya tanggung jawab donk buat memberitakan kabar keselamatan itu ke orang lain. Nah makanya aku mau memperlengkapi diri dulu melalui sekolah theologia agar bisa dengan baik memberitakan Injil itu. Sekarang aku kuliah Theologia duduk di semester 3 STT IMAN Jakarta.

Mother Theresa pernah berkata: “I am a little pencil in the hand of a writing God who is sending a love letter to the world.” Itulah juga harapanku, menjadi alat Tuhan bagi pekerjaan dan pelayanan-Nya di dunia ini. Aku sadar waktu di dunia ni gk lama, untuk itu aku mau terus melayani n berkarya bagi Tuhan, ya mumpung masih ada waktu n ksempatan emas yang Tuhan beri….ya kan?

Aku pernah bersekolah SD Kristen Lemoh, Kec. Tombariri, Kab. Minahasa   SMP Katolik Sta. Theresia Malalayang pindah SMP Kristen Lemoh, Kec. Tombariri, Kab. Minahasa, SMA Kristen Tanawangko, Kec. Tombariri, Kab. Minahasa Sulawesi Utara.

Motto: Berakar, bertumbuh, berbuah dalam Kristus dan melayani, berkarya, bersaksi bagi Kristus.


Saturday, July 16, 2011

Jangan Cuma Ngomong


Oleh: Imanuel Suluh




Lukas 10:27 Jawab orang itu: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”  

Hmmmm.... pasti teman2 udah pernah merasakan namanya jatuh cintakan? Gimana rasanya? Wahhhhh gk bisa dibayangkan dah. Saat pacaran itu kayaknya masa paling indah dah, jujur!!!!! Ungkapan:  “Sayang, kamu udah jadi bagian dalam hidupku”… “Sayang, kaulah hidupku”…. Sering kita ungkapakan pada si doi. Romantis banget ya, saya juga sering ucapkan atau mengirimi si doi dengan kata-kata romantis itu … tapi tahu ga, toh akhirnya saya putus juga sama pacar saya dulu, hahaha.

So, apa artinya kata-kata indah tadi. Kadang-kadang kita juga gampang banget untuk mengucapkan kata-kata indah pada Tuhan, menyanyikan lagu yang puitis buat Tuhan… seperti lagu “You are the love of my life… You are the Hope that I cling to” Tapi kalo kata-kata itu hanya keluar dari mulut dan tidak keluar dari hati kita yang paling dalam, rasanya kata-kata itu ga ada artinya buat Tuhan deh!  Kita gk ubahnya kayak orang Farisi (alias munafik) yang menang omongan doang.

Jadi, mulailah sekarang kita harus mengasihi Tuhan dengan seluruh keberadaan kita, mengasihi Tuhan dengan sungguh-sungguh, ucapkan kata-kata indah yang keluar dari dalam hati kita, dan kita menghidupi kata-kata itu. Seperti yang dikatakan dr. Lukas: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (IS)

Monday, July 4, 2011

Menipu Diri Sendiri

Nats : Hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri (Yakobus 1:22)

Bacaan : Yakobus 1:19-25

Seorang anak diberi tahu ibunya, "Bercerminlah, lalu cuci wajahmu." Namun anak itu membantah, "Saya sudah bercermin!" Ibunya kemudian menjawab, "Kamu telah menipu dirimu sendiri!" Wajahnya yang masih kotor menandakan bahwa jika ia memang sudah bercermin, maka tentulah ia mengabaikan apa yang telah dilihatnya di cermin. Ia pasti sudah melihat keadaan dirinya yang sebenarnya, tetapi kotoran di wajahnya tidak dibersihkannya.

Rasul Yakobus mengajar bahwa siapa pun yang mendengar firman Allah tetapi tidak menaatinya, berarti telah menipu diri sendiri. Ia seperti seseorang yang melihat wajahnya di cermin, lalu pergi dan lupa bagaimana rupanya (Yakobus 1:22-24). Ia mendengar dan membaca firman Allah, tetapi mengabaikan dan tidak mengizinkan firman Allah mengubah hidupnya. Orang yang bercermin pada firman Allah dan rindu untuk berubah, "bukan hanya mendengar untuk melupakannya" (ayat 25). Ia rindu firman itu mengungkapkan hasrat hatinya yang sebenarnya, dan menunjukkan kebenaran yang perlu ia taati. Dan jika ia taat, maka secara berangsur-angsur ia akan menyerupai Yesus. Yakobus mengatakan bahwa orang yang demikian "akan berbahagia oleh perbuatannya" (ayat 25).

Jika kita benar-benar rindu untuk menjadi semakin serupa dengan Kristus dalam sikap, perbuatan, dan tanggapan kita, maka kita perlu mengaca pada cermin Allah secara teratur, yaitu Alkitab. Namun, janganlah menipu diri sendiri, karena melihat saja tidak cukup. Firman Allah akan mengubah diri kita, hanya jika kita menaatinya --Joanie Yoder



BUKALAH ALKITAB ANDA DENGAN BERDOA,


BACALAH DENGAN TELITI, DAN TAATILAH DENGAN SUKACITA








MAKNA KORBAN DALAM KITAB IMAMAT

Tidak dapat disangkal kebanyakan orang khususnya kaum awam akan mengatakan Kitab Imamat adalah kitab yang sukar untuk dipahami, dan memang jika dibaca sepintas lalu kitab ini nampaknya kurang menarik dan bahkan jarang dipelajari ataupun diajarkan. Kitab Imamat sering kali tidak mendapat banyak tanggapan, bahkan kitab Imamat dianggap tidak penting dan lebih parah lagi  orang percaya terkesan mengabaikan kitab Imamat karena: Pertama, kitab ini sungguh-sungguh terasa asing bagi pembaca yang hidup pada masa kini. Persembahan-persembahan korban yang sangat ditekankan dalam kehidupan bangsa Israel terasa tidak penting bagi orang percaya saat ini sebab Tuhan Yesus sudah menggenapinya sebagai “kurban yang sempurna bagi Allah”. Kedua, tampaknya kitab Imamat hanya mengatur persoalan ibadah dalam Perjanjian Lama dan sudah tidak relevan lagi bagi kebutuhan masyarakat modern saat ini

Tetapi tidak semua orang Kristen memiliki pemikiran demikian. Meskipun kitab Imamat tidak menggelorakan semangat seperti halnya tulisan-tulisan Paulus tetapi kita akan mendapat banyak hal yang berarti jika membaca dan berusaha mengertinya. Karena jika kita perhatikan secara saksama, kitab Imamat adalah kitab yang paling banyak mengandung kata-kata Allah secara langsung dan juga kitab yang mengandung Injil. Misalnya Roy Gane dalam Commentarynya berkata:


“True, this book of twenty-seven chapters contains more direct speech by God himself than any other book of the Bible and it is placed at the heart of the Torah or Pentateuch, which forms foundation for all of scripture. So even though Leviticus is the shortest book of the Pentateuch, we get the impression that it sould be important. (Benar, kitab ini dua puluh tujuh pasal berisi suara langsung dari Allah sendiri dari kitab-kitab lain dari Alkitab dan ditempatkan di jantung Taurat atau Pentateukh, yang membentuk dasar bagi semua tulisan suci. Jadi meskipun Imamat adalah kitab terpendek Pentateukh, kita mendapatkan kesan bahwa kitab ini begitu penting).[1]
Tafsiran Alkitab Masa Kini juga menyatakan, “Inilah Injil PB bagi pendosa yang dinyatakan dalam istilah PL dan diejawatahkan dalam upacara-upacara korban; dan diungkapkan secara sempurna dalam upacara Hari Pendamaian.[2] Selain itu kitab Imamat mempunyai teologi yang masih sah dan relevan dengan kata lain betapa pentingnya kitab ini dalam kehidupan gereja masa kini. Ernst Aebi yang dikutip oleh Achim Teschner misalnya mengungkapkan; “Mungkin kitab Imamat adalah kitab yang paling sering disalahmengerti. Bagi kebanyakan pembaca kitab ini terkunci. Namun dengan keterangan PB, melalui kurban Yesus Kristus, kitab Imamat menjadi salah satu kitab PL yang paling penting dan menarik.[3]

Pada penulisan paper ini, dalam semangat untuk mengerti kebenaran Alkitab penulis mencoba  menjelaskan tentang arti korban, serta pentingnya korban bagi umat Israel zaman PL, serta penulis akan menguraikan hubungan antara korban dalam PL dengan Karya penebusan Kristus Tuhan kita. Harapan penulis ketika membaca paper ini, kecintaan kita akan Firman Allah akan bertambah dan biarlah paper pendek  ini menstimulus kita untuk lebih lagi mendalami dan mengalami Firman Tuhan setiap waktu.

PEMBAHASAN

Secara umum  Kitab Imamat ini menceritakan tentang bagaimana umat Allah yang sudah di tebus, hidup dihadapan Allah yang Mahakudus. Seperti halnya apa yang dikatakan Gowan yang dikutip oleh R. Borrong, ia berkata  “Penulis kitab Imamat menuntut agar umat Allah merefleksikan sifat Allah dalam kehidupan umat.”[4] Imamat, adalah nama kitab ketiga dari Pentateuch. Nama Imamat berasal dari Septuaginta melalui terjemahan Alkitab bahasa Latin, yang memberikan judul lengkap “kitab mengenai imam-imam”.[5] Kitab ini ditulis oleh Musa. Kitab ini terbagi atas 27 pasal dan merupakan kitab yang ketiga dari kitab-kitab Perjanjian Lama. Kitab Imamat pada dasarnya adalah kitab peraturan atau kitab hukum-hukum yang diberikan Allah kepada umat-Nya melalui Musa di Sinai. Sehingga jika kita perhatikan isi kitab yang mendominasi adalah peraturan. LaSor dkk misalnya menjelaskan bahwa Isi Kitab Imamat dapat dibagi menjadi 2 bagian besar yaitu: 1) Mengenai peraturan-peraturan tentang persembahan kepada Allah. Dan, 2) Peraturan di dalam kehidupan ibadah dalam persekutuan dengan-Nya.[6] Dengan sepintas melihat pembagian Kitab imamat diatas bahwa Kitab Imamat terlihat suatu daftar peraturan. Dari sini terlihat bahwa kitab Imamat  adalah satu kitab yang berisikan peringatan dalam hal menjaga kekudusan sebagai umat Allah yang dinyatakan dengan berbagai peraturan salah satunya bagaimana mempersembahkan korban yang berkenan dihadapan Allah.

I.PENGERTIAN KORBAN DALAM KITAB IMAMAT
Tidak dapat disangkal setiap agama bahkan setiap orang yang dikatakan beragama mempunyai pemahaman tentang korban yang berbeda-beda. Maka tidak heran ada banyak variasi dalam menentukan makna korban. Perkataan korban berarti persembahan. Korban dipahami sebagai persembahan kepada yang ilahi, sebagai pengganti manusia yang berdosa, atau santapan untuk dewa-dewa,dan sebagainya. Sistem korban ini secara tidak langsung mengungkapkan akan adanya sesuatu yang lebih besar dari manusia, karena korban itu dipersembahkan kepada sesuatu atau seseorang yang dianggap lebih besar dari manusia. Dan manusia yang menyadari akan kesalahan-kesalahannya, memberikan korban kepada sesuatu yang lebih besar ini, sehingga akibat dari kesalahan-kesalahan tidak lagi ditimpakan kepada manusia yang melakukan kesalahan. Perlu kita perhatikan konsep korban oleh orang kafir dengan konsep korban orang Israel pada hakekatnya sangat berbeda. G. E. Wright dan Kuiper dalam buku mereka menjelaskan bagaimana konsep orang kafir mengenai korban tidak lepas dari anggapan anthropomorf tentang dewa. Dimana  antara manusia dan dewa terdapat ikatan kekeluargaan dan persamaan, sehingga para dewa menyerupai manusia. Dewa bergantung pada manusia demikian sebaliknya manusia bergantung kepada dewa. Disini berlakulah dasar pokok do ut des (aku memberi agar engkau memberi).[7]

Namun lain halnya dengan korban dalam kitab Imamat sering dinyatakan untuk ’menebus’(Imamat 1:4, dst).[8] Korban salah satu kelompok kata untuk ’persembahan’ yang berasal dari kata kerja ’untuk membawa dekat.” [9] Korban adalah sarana umat untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah bukan karena umat bermasud minta balasan berdasarkan korban yang sudah diberikan, melainkan korban itu adalah korban sukarela kepada Allah juga sebagai tebusan atas pelanggaran umat kepada Allah. Sedangkan Adam Clarke yang dikutip oleh Pdt Budi Azali dalam artikelnya di internet berkata:


“‘Bring an offering.’ The word KORBAN, from KARAB, ‘to approach or draw near,’ signifies an offering or gift by which a person had access unto God: and this receives light from the universal custom that prevails in the east, no man being permitted to approach the presence of a superior without a present or gift; and the offering thus brought was called ‘korban,’ which properly means the introduction-offering, or offering of access” ( ‘Membawa suatu persembahan / korban’. Kata KORBAN, dari kata KARAB, ‘mendekat’, menunjukkan suatu korban atau pemberian dengan mana seseorang mendapat jalan masuk kepada Allah: dan ini mendapatkan terang dari kebiasaan universal yang berlaku di Timur, tak seorangpun diijinkan untuk mendekati seorang yang lebih tinggi tanpa suatu hadiah atau pemberian; dan persembahan yang dibawa itu disebut ‘korban’, yang secara benar berarti ‘korban yang mempersiapkan jalan’ atau ‘korban jalan masuk’).[10]
Namun penulis tidak sepenuhnya menerima ungkapan di atas karena menurut hemat penulis  bahwa prinsip-prinsip di sini diberikan oleh Allah, bukan dari sistim agama lain, atau kebiasaan ibadat agama lain di sekitar Israel. Sekalipun kebiasaan universal yang dikatakan Clarke itu mungkin memang ada, itu tidak berarti bahwa peraturan-peraturan di sini mendapatkan terang dari kebiasaan universal itu.

Menurut Imamat 7:37, ada lima korban yang termasuk dalam hukum dinyatakan Tuhan Allah kepada Musa di Gunung Sinai dan memerintahkan orang Israel mempersembahkan persembahan mereka di padang gurun Sinai. Kelima macam korban itu adalah korban bakaran, korban sajian, korban penghapus dosa, korban penebus salah dan korban keselamatan. Kelima macam korban tersebut mempunyai tujuan yang berbeda tetapi pada intinya sama yaitu sebagai pendamaian dan ucapan syukur. Dimana tindakan pendamaian di dalam kata ini berhubungan dengan sistim persembahan untuk menyelesaikan masalah dosa atau pelanggaran.

Selanjutnya untuk upacara korban Dyrness berpendapat bahwa:
“Upacara korban dalam Perjanjian Lama berpusat pada kata kerja bahasa Ibrani kipper yang biasanya diterjemahkan dengan “mendamaikan” atau “menutupi” (Imamat 1:4). Arti dasarnya barangkali “menutupi” atau “menghapuskan”. Atau kata kerja ini menunjuk kepada proses penebusan atau pendamaian dengan membayarkan sejumlah uang atau upeti, yang mencerminkan arti kata benda Ibrani koper (“harga tebusan”). Berdasarkan konteks alkitabiah (terutama Imamat 17:11), arti terakhir ini paling tepat mencerminkan konsep Ibrani.”[11]   

Dari pengertian tersebut dapatlah dikatakan bahwa korban-korban yang dipersembahkan oleh Israel kepada Allah dalam Perjanjian Lama adalah merupakan pengganti (substitusi) nyawa mereka sendiri. Gagasan ini jelas terlihat dalam peristiwa korban-korban yang dicurahkan darahnya. Dalam hal ini, darah bukan unsur yang mengandung tenaga gaib, tetapi diterima Allah sebagai pengganti nyawa atau sebagai tebusan orang yang beribadah itu.

II.PENTINGNYA KORBAN DALAM PL                      
Melihat definisi korban itu sendiri sebenarnya sudah mengisyaratkan betapa pentingnya korban itu sendiri. Jika diperhatikan lebih jauh  mengapa dalam kitab Imamat sangat ditekankan persembahan korban dimana pasal satu sampai pasal tujuh dengan detail membahas peraturan-peraturan  persembahan korban yang harus dilakukan oleh umat Tuhan pada waktu itu, jelaslah betapa pentingnya korban itu di dalam Perjanjian Lama.

Jika kita perhatikan persembahan korban binatang merupakan tema penting dalam seluruh Kitab Suci. Ketika Adam dan Hawa berdosa, Allah mengorbankan binatang untuk menyediakan pakaian bagi mereka (Kejadian 3:21). Kain dan Habel membawa persembahan kepada Allah. Persembahan Kain tidak diterima karena dia mempersembahkan buah-buahan sedangkan persembahan Habel diterima karena dia mempersembahkan "anak sulung dari kambing dombanya" (Kejadian 4:4-5). Setelah banjir surut, Nuh mempersembahkan binatang kepada Allah. Persembahan Nuh ini merupakan persembahan yang berbau harum yang menyenangkan Tuhan (Kejadian 8:20-21). Allah memerintahkan Abraham untuk mempersembahkan Ishak anaknya. Abraham taat kepada Allah, namun ketika Abraham siap mempersembahkan Ishak, Allah campur tangan dan menyediakan seekor domba jantan untuk mati menggantikan Ishak (Kejadian 22:10-13). Korban adalah salah satu aspek yang sangat penting dalam ibadat orang Israel.

Sistem persembahan mencapai puncaknya pada zaman bangsa Israel. Allah memerintahkan bangsa ini untuk menjalankan berbagai persembahan. Seperti halnya yang diungkapkan Dr. G.E Wright; “ Ia telah memerintahkan agar kebaktian korban dilakukan sebagai cara untuk memuliakan nama-Nya, ini digunakan untuk memelihara persekuatuan dengan Allah yaitu persekutuan yang terjadi oleh perjanjian.[12] Menurut Imamat 1:1-4 ada prosedur tertentu yang harus diikuti dan tentunya ditaati. Pertama-tama, binatang tersebut harus tak bercacat. Kemudian orang yang mempersembahkan harus mengidentifikasikan atau menyamakan dirinya dengan binatang itu yang arti simbolisnya berarti kematian korban melambangkan kematian orang berdosa. Kemudian orang yang mempersembahkan harus membunuh binatang itu. Ketika dilakukan dengan iman, persembahan ini menyediakan pengampunan untuk dosa-dosa. Pulpit Commentary menjelaskan begini: “The offerer’s  faith is truly needful as the victim he brings. ‘Without faith it is impossible to please God’ (= Iman dari si pemberi korban sama perlunya seperti korban yang ia bawa. ‘Tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah.’)[13]  Ibr 11:6  “Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah”. Dalam Imamat 4,5,6 dan 7 diuraikan kepada kita hukum-hukum korban penghapus dosa dan korban penebus salah. Korban penghapus dosa bermaksud memperbaiki hubungan dengan Allah kembali dan untuk menebus dosa. Korban penghapus dosa ini dipersembahkan pada hari Pendamaian Besar untuk menebus dosa pada imam dan segenap bangsa Israel. Sedangkan korban pengahapus salah adalah korban ganti rugi kepada orang yang dirugikan.Begitupun mengenai korban bakaran, korban sajian, dan korban keselamatan semuanya dijelaskan dengan detail dalam kitab Imamat. Lihat setiap korban memiliki rincian yang begitu rumit tetapi disitulah sebenarnya terdapat makna yang penting dan seorang imam serta si pemberi korban tidak boleh mengabaikannya. Tentunya bukan tidak ada alasan Alkitab mencatatnya ini menyatakan kepada kita bahwa konsep korban dalam PL sangat penting dan umat Tuhan tidak boleh melepaskannya dari kehidupan mereka.

Jadi dengan persembahan korban manusia diberi kesempatan untuk memuliakan dan menghormati Tuhan yang hidup, memelihara persekutuan dengan Dia dan melalui korban manusia diberi kesempatan menerima penebusan ketika manusia melakukan dosa tetapi itu adalah sementara. Namun korban khusunya dalam PL adalah sesuatu yang sangat penting dan begitu ditekankan.

III.KORBAN DALAM PL MENGACU PADA PENGORBANAN KRISTUS
Korban-korban dalam Perjanjian Lama hanya merupakan tebusan sementara untuk dosa dan takkan pernah dapat menjadikan umat yang mempersembahkan secara sempurna, seluruh umat para imam mereka juga harus mempersembahkan korban dari tahun ke tahun. Karena inilah kehendak Allah kepada umat-Nya. Namun usaha manusia yang bersifat agamawi tidak dapat membuat mereka masuk ke dalam keadaan yang layak di hadapan Allah yang maha kudus. Kelayakan tersebut sepenuhnya datang dari Allah.

Dosa memang merusak hubungan manusia dengan Allah dan menjadikan rintangan bagi manusia untuk datang kepada Allah. Kitab Imamat memberikan gambaran bahwa untuk mengatasi rintangan yakni dengan ibadat korban. Hal ini merupakan sifat yang asasi dari Allah dalam Perjanjian Lama maupun  Perjanjian Baru. Korban dalam Kitab Imamat mempunyai pembatasan sebab hanya bisa menghapus dosa yang tidak disengaja atau bahkan ini hanya bersifat ritual. Berbeda dengan konsep korban dalam perjanjian Baru.

Paulus menekankan bahwa Kematian Yesus di kayu salib menyatakan kebenaran dan keadilan Allah.[14] Penulis surat Ibrani menyatakan dengan sangat jelas adalah korban yang satu-satunya yang perlu membebaskan kita dari dosa, dan korban Tuhan Yesus bersifat kekal atau selamanya. Hal ini membuktikan bahwa Allah tidak mau manusia binasa. Oleh karena itu Kristus telah mati sebagai korban yang dipersembahkan oleh Allah untuk memenuhi tuntutan keadilan Allah yang dinyatakan untuk penyelesaian dosa manusia. Dengan demikian keberadaan manusia diperdamaikan kembali dengan Allah dan manusia melalui pengorbanan Tuhan Yesus kembali memperoleh keberadaan manusia sebelum manusia berdosa. Korban identik dengan persembahan yang dimana ada tujuan yang hendak dicapai. Korban dalam kitab Imamat membawa kita pada pengertian tentang penebusan Kristus bagi dosa manusia.

Pendamaian darah dan kekudusan hidup yang begitu ditekankan dalam kitab Imamat sangat erat kaitannya dengan karya pendamaian Kristus dan kekudusan hidup orang percaya dalam perjanjian baru. Perjanjian Baru mengajarkan bahwa darah pendamaian dari binatang yang dikorbankan, hal yang menonjol dalam kitab Imamat, hanyalah "bayangan saja dari keselamatan yang akan datang" (Ibr 10:1) dan menunjuk kepada Kristus sebagai korban penghapus dosa yang dipersembahkan satu kali untuk selama-lamanya (Ibr 9:12). Perintah untuk hidup kudus dapat dicapai sepenuhnya oleh orang percaya melalui darah Kristus yang mahal (1 Ptr 1:15).

Coba perhatikan ruang yang Allah berikan untuk Kitab Imamat. Hanya 27 ayat dalam Kejadian yang digunakan untuk menjelaskan seluruh Penciptaan, tetapi ada 27 fasal yang dibutuhkan untuk menjelaskan bagaimana kita menjalani kehidupan yang berkenan kepada Tuhan. Selain itu, kitab ini dikutip lebih dari 80 kali dalam Perjanjian Baru. Korban-korban dalam Kitab Imamat merupakan penjelasan yang paling lengkap dalam seluruh Alkitab mengenai karya penebusan Juruselamat bagi dosa manusia.

Pada akhirnya terlihat bahwa semua ketentuan peribadatan Perjanjian Lama bersifat sementara. Ia harus selalu diulang-ulang. Penulis kitab Ibrani selanjutnya menyebutkan bahwa tindakan peribadatan ataupun korban-korban yang dipersembahkan secara berulang-ulang di dalam Perjanjian Lama justru menunjukkan bahwa korban tersebut sama sekali tidak dapat menghapuskan dosa. Itu sebabnya, diperlukan suatu pengorbanan yang sempurna yang hanya satu kali dilakukan dan hal itu menunjuk kepada Kristus sendiri (Ibrani 10:11-12).  Seperti halnya yang di ungkapkan LaSor dkk : “Dalam Perjanjian Baru kurban berupa kambing dan domba dianggap lambang saja, “sebab tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapuskan dosa (Ibr. 10:4). Sedangkan, darah Kristus yang dipersembahkan sekali untuk selama-lamanya merupakan kurban yang sempurna.”[15]

Selanjutnya hari raya-hari raya Israel melukiskan tentang tindakan penyelamatan Allah di dalam waktu yang pernah mereka lalui. Paskah misalnya merupakan hari raya yang dilakukan sebagai peringatan terhadap tindakan penyelamatan yang dilakukan Allah terhadap Israel dari perbudakan Mesir. Dengan hari raya-hari raya tersebut, Israel memperingati bahwa Tuhan yang telah melepaskan mereka di masa lampau.[16] Uniknya, 1 Korintus 5:7 menyebutkan secara jelas bahwa domba Paskah itu menunjuk kepada diri Kristus sendiri.

Jadi di sini pun jelas terlihat bahwa baik upacara keagamaan maupun hari raya-hari raya yang diwajibkan kepada Israel pada masa Musa (diturunkannya Taurat) merujuk kepada keselamatan yang akan datang atau diwujudkan kelak di dalam Tuhan Yesus Kristus. R. Laird Harris berkata: “ The need for for various sacrifices arises from the varied needs of a people's worship. The New Testament makes clear that all the sacrifices of Israel were symbolic and typical of Christ's sacrifice.” (Kebutuhan untuk berbagai pengorbanan timbul dari beragam kebutuhan ibadah rakyat. Perjanjian Baru membuat penjelasan bahwa semua pengorbanan Israel  ini adalah simbolis dan khas/tipikal dari pengorbanan Kristus.)[17] Jelaslah kepada kita bahwa konsep korban dalam PL sebenarnya adalah gambaran dari korban yang di berikan Kristus yang menebus dosa. Yesus Kristuslah yang mendamaikan kita dengan Allah. Dia menderita dan mati sebagai korban yang tak bercacat bagi manusia yang berdosa.

KESIMPULAN

Seluruh korban dalam PL menunjuk kepada satu korban, yaitu Kristus, yang selama-lamanya menghapus dosa seluruh dunia. Korban-korban itu menjadikan kematian Kristus penting dalam rencana keselamatan dari Allah. Jadi makna sistem korban itu  intinya sebenarnya mengacu pada pengorbanan Yesus di kayu salib sebagai tebusan bagi dosa umat manusia. Korban dalam kitab Imamat ini penting karena memberikan kepada kita latar belakang untuk memahami kebenaran sentral iman Kristen mengenai pengorbanan Kristus yang menebus kita dari dosa.











[1] Roy Gane, The NIV Aplication Commentary, (Zondervan, Grand Rapids Michigan, 2004), hal. 23.
[2] Tafsiran Alkitab Masa Kini 1 Kejadian-Ester (Jakarta: YKBK, 2005), hal.188.
[3] Achim Teschner, Diktat Pengantar Pentateukh, (STT IMAN, 1996), hal. 41.
[4] Robert P. Borrong, Berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2002), hal. 45. Tujuan Imamat ialah mengemukakan hukum-hukum dan asas-asas yang harus menjadi pedoman hidup Israel sebagai umat Allah. Tafsiran Alkitab Masa Kini 1 Kejadian-Ester (Jakarta: YKBK, 2005), hal.187.
[5]Jacob Milgrom, The Anchor Bible Leviticus 1-16 ( USA: Doubleday Published, 1991), hal. 134. Bnd. Lasor , W.S, Pengantar Perjanjian Lama 1, ( Jakarta: BPK.Gunung Mulia, 2001), hal.214.
[6] Lasor , W.S dkk, Pengantar Perjanjian Lama 1, ( Jakarta: BPK.Gunung Mulia, 2001), hal.214
[7] Dr. G.E. Wright & Dr. A. De Kuiper, Perjanjian Lama Terhadap Sekitarnya (Bandung: Pinda Grafika, 1967), hal. 122.
[8] J.D Douglas, Esiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid A-L (Jakarta: YKBK 1992), hal. 579
[9] Merril C. Tenney, Pictorial Encyclopedia of the Bible Vol.4 Q-Z  (Grand Rapids: The Zondervan Corporation, 1976), hal. 200.
[10] http://kitabdansejarah.blogspot.com/2010/02/kitab-imamat.html
[11] William Dyrness, Tema-Tema Dalam Teologi Perjanjian Lama, (Malang: Penerbit Gandum Mas, 1992), cet.  kedua, hlm.  133.
[12] Wright & Kuiper, Perjanjian Lama, hal. 122.
[13] http://www.golgothaministry.org/imamat/imamat-1_1-17.htm
[14] Robert Peterson, Tafsiran Kitab Imamat (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1994), hal. 79.
[15] Lasor , W.S dkk, Pengantar, hal. 220.
[16] Dyrness, Tema, hal. 131
[17] R. Laird Harris, The Expositor’s Bible Commentary Leviticus (Michigan: Zondervan Grand Rapids, 1990), hal. 536.




Sunday, July 3, 2011

Mengendalikan Pikiran Liar








Manusia itu mahluk yang berpikir. Itulah yang membedakannya dari mahluk ciptaan Tuhan yang lain. Tumbuhan-tumbuhan dan binatang tidak dapat berpikir. Hanya manusia yang diciptakan  dengan gambar dengan-Nya, Imago Dei itulah yang punya kemampuan berpikir.


Dengan pikiranya manusia dapat menciptakan sesuatu yang berguna. Ya, berguna untuk kemuliaan Tuhan dan kepentingan sesama. Penemuan-penemuan besar lahir karean ada orang-orang yang berpikir tentang itu. Dunia ilmu pengetahuan berkembang pesat karena ada pribadi-pribadi yang memikirkannya siang dan malam. Untuk hal-hal positif tertentu kita sangat berterima kasih. Namun disisi lain kehancuran bisa juga timbul karena pikiran. Terutama pikiran-pikiran liar. Banyak contoh disekitar kita tentang hal ini. Banyak keluarga hancur berawal dari pikiran. Perhatikanlah SMS seseorang berikut:


Saya sudah berkeluarga dengan suami yang baik, bakhan terlalu baik buat saya. Dalam rumah tangga kami semuanya normal walaupun sampai sekarang belum dikarunia anak. Namun, akhir-akhir ini saya terlalu memikirkan mantan pacar saya dulu. Secara fisik saya tidak bersselingkuh tapi hati dan pikiran saya tidak lagi untuk suami saya.



KONTROL


Pikiran itu perlu dikontrol. Mengapa? Kalau tidak ia akan memikirkan hal-hal yang tidak bermanfaat. Bukankah percuma membuang energi untuk hal-hal yang tidak berfaedah? Rasul Paulus menuliskan kepada jemaat di Filipi. “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” (4:8). Semua hal-hal yang berfaedah itulah yang patut dipikirkan. Suatu yang merusak dan merugikan perlu dihindari. Kitalah yang harus menguasai, bukan sebaliknya. Membiarkan diri berlarut-larut dalam pikiran yang kurang membangun akan berbahaya. Orang berkata: “Anda adalah apa yang Anda pikirkan.”


Memikirkan mantan pacar misalnya, membuka peluang untuk berselingkuh secara emosional dan fisik. Cepat atau lambat, hal itu akan terjadi. Dengan pertimbangan rasio yang sehat kita dimampukan untuk mengontrol pikiran ini. Dengan konsisten memikirkan hal-hal yang bermanfaat menjauhkan seseorang dari pemikiran yang tidak terpuji.



MELEKAT PADA TUHAN


Banyak orang tak berdaya untuk mengontrol pikirannya yang liar. Hal ini dapat dimaklumi. Dosa telah merusak pikiran manusia yang seharusnya terarah pada Kristus. Karena itu manusia harus bergaul erat dengan Tuhan. Sama seperti Nuh dizamannya. Ketika semua orang memebelakangi Tuhan, ia memilih bergaul dengan-Nya. Istilah bergaul identik dengan walking with God, berjalan bersama Allah.


Terkadang manusia terkapar tak berdaya menghadapi godaan. Mengapa demikian? Hal ini disebabkan karena pergaulan dengan Tuhan yang renggang. Mungkin doa atau saat teduh mulai jarang. Akibatnya ketika pikiran liar datang, tanggul pertahananpun jebol.


Kedekatan dengan Allah memagari kita dari segala perbuatan yang melawan kehendak Allah. Semakin dekat dengan Allah kita semakin membenci dosa. Sebaliknya, semakin jauh dari Allah, manusia makin mengasihi dosa dan membenci dosa.



BERADA DALAM KOMUNITAS


Memelihara kehidupan yang kudus bukan hal mudah. Ada saatnya kita menjadi lemah dalam iman. Disaat itulah kita membutuhkan sahabat yang menguatkan. Ketika kita memikirkan orang lain yang bukan pasangan misalnya, disaat itulah sahabat mengingatkan kita.


Komunitas itu penting. Melalui komunitas  orang beriman akan saling membangun. Tidak berlebihan bila dikatakan bahwa komunitas adalah kebutuhan orang beriman masa kini. Godaan makin hebat, seharusnya komunitasjuga makin kuat.


Dengan mengontrol pikiran, melekat pada Tuhan, dan berada dalam komunitas yang sehat membuat kita terhindar dari pikiran liar yang melawan Allah dan firman-Nya. 

Sumber: Artikel Majalah Bahana edisi Mei 2011 Vol 241. Oleh Aulliasiska P.








 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

ShareThis